
Waktu terus berjalan, bagaimana perkembangan Mikhayla dan tumbuhnya Zavia disaksikan Keyvan sebagai malaikat dua wanita itu. Pendidikan yang dirasa tidak akan selesai itu, akhirnya bisa Mikhayla tuntaskan.
Mikhayla Qianzy, S.ked
Tepat ulang tahun keempat putrinya, Mikhayla berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar akademik pertamanya. Didampingi keluarga besar, Mikhayla masih seperti putri perawan milik Mikhail yang belum merasakan kerasnya kehidupan.
Lulus dengan predikat yang cukup baik, meski tidak berada di posisi terbaik itu sudah membuat Keyvan bangga setengah mati. Bukan karena dia menyerah perihal Mikhayla, akan tetapi selama perjalanannya kuliah wanita itu memang kerap mencari cara agar benar-benar berhenti.
"Terima kasih, Van ... berkat kamu, uang pendaftaran kuliahnya tidak sia-sia," ujar Mikhail yang justru memberikan ucapan terima kasih pada menantunya, biaya pendaftaran kuliah Mikhayla memang cukup fantastis, apalagi untuk pebisnis super perhitungan seperti Mikhail.
"Sama-sama, Pa."
"Ih Papa makasihnya kok begitu, nggak ikhlas ya daftarinnya?" tanya Mikhayla sewot kala dia berhasil mendengar Mikhail yang menjadikannya topik pembicaraan.
"Ck, apa salahnya? Wajar dong Papa berterima kasih pada menantu Papa, kalau bukan karena dia kamu pasti ogah-ogahan, Mikhayla," balas Mikhail tetap tidak peduli meskipun ada menantunya di depan mata.
Mikhayla hanya mencebikkan bibir, sementara Keyvan terkekeh mendengar pertikaian dua orang ini. Memang, sepertinya tidak akan ada titik damai karena selamanya mereka akan terus beradu mulut walau usia Mikhayla sudah termasuk dewasa saat ini.
"Tapi ini belum selesai, Khay ... kamu masih per_"
"Haduh, Pa ... Mikhayla malas, sudah tidak kuat lagi. Pinggang sakit, kepala sering pusing, lambungku juga mulai bermasalah kalau harus berjuang lagi."
"Astaghfirullah, Mikhayla."
Ketika seorang Mikhail sampai istighfar itu artinya dunia sedang tidak baik-baik saja. Dia menggeleng pelan dengan kelakuan putrinya ini, baru saja bahagia sedikit Mikhail kembali dia patahkan dengan fakta itu.
__ADS_1
"Tunda deh tunda, kan bisa ditunda ... satu semester atau tiga tahun begitu," ungkapnya seenak jidat dan membuat Keyvan serta Mikhail saling menatap bingung.
"Sayang?" Keyvan juga tercengang, sepertinya niat Mikhayla memang sudah tidak dapat diselamatkan, jiwanya untuk menjadi dokter sungguhan sudah mati.
"Ya sudah, Van terserah dia ... setelah ini suruh kerja jadi satpam rumah sakit saja," ungkap Mikhail menyerah dan dia tidak bisa lagi berkata apa-apa. Faktanya, jika sudah ragu diawal baiknya tidak perlu diteruskan dan memaksakan diri, pikir Mikhail.
"Ih Papa, masa satpam rumah sakit?"
"Lah terus mau jadi apa kamu? Mikhayla ... di luar sana ada berapa banyak yang tidak memiliki kesempatan seperti kamu, jangan sia-siakan. Papa dan Evan cari uang sampai pinggang sakit juga buat kamu, jangan hanya mengandalkan suami kaya, Mikhayla."
Dia sempat membuat patah mimpi anak gadis orang di masa lalu. Ya, Zia tidak lulus kuliah dan gagal di dunia kerja karena ulahnya, dan wanita itu bahkan merasakan lika-liku kehidupan yang sangat luar biasa. Mikhail tidak ingin, harapan Zia untuk putrinya ini patah juga.
"Lihat Mama, dia gagal dalam pendidikan tapi harapannya di pundak kamu begitu besar ... dia sebahagia itu kamu bisa mendapat gelar di belakang namamu, semalas apapun kamu tolong pikirkan Mama, Mikhayla."
"Papa marah?"
"Pikir sendiri," jawabnya singkat kemudian berlalu pergi menghampiri Zia yang kini tampak sibuk bersama Zavia, mungkin Mikhail ingin menenangkan dirinya dengan mendatangi Zavia saat ini.
"Sayang, Papa marah?"
"Tidak marah, hanya saja mungkin sedang tegas saja ... dengarkan Papa, kamu masih muda dan tidak ada salahnya ikuti kemauan Mama," ungkap Keyvan yang tampaknya lebih setuju pada Mikhail kali ini.
Mikhayla sendirian, tidak ada yang mendukung dia kali ini. Akan tetapi jika dipikir-pikir ucapan Papanya juga benar, tidak seharusnya dia menyia-nyiakan kesempatan hanya karena suaminya kaya raya.
"Kamu dengarkan aku, aku memintamu menjalani profesi itu bukan untuk mencari uang, Sayang. Coba buka matanya, kedua tangan kamu ini adalah salah satu cara Tuhan menyelamatkan hambanya yang lain suatu saat nanti. Gunakan, Mikhayla ... jalani, tujuan hidup tidak selalunya tentang uang, paham?"
__ADS_1
Keyvan paham istrinya terkadang belum dewasa sepenuhnya. Lelah itu wajar saja, dan dia akan selalu menjadi sandaran utama untuk Mikhayla. Hanya saja, dia tidak menginginkan istrinya manja dalam seluruh aspek kehidupan, Mikhayla tetap harus memiliki value dalam diri. Manja, itu cukup ketika di mata Keyvan saja, bukan di mata dunia.
"Okay? Kamu mau mengikuti kemauanku?"
"Ehm ... mau, aku akan jalani. Bukan hanya koas saja, tapi nanti aku mau jadi dokter spesialis kandungan kalau perlu," jawab Mikhayla sungguh-sungguh tapi Keyvan sudah bergetar lebih dulu.
"Kan-kandungan? Tidak umum saja?"
"Maunya kandungan, aku ingin jadi saksi tumbuh kembang banyak bayi mulai dari dia di dalam perut mamanya," ungkap Mikhayla dan berhasil membuat Keyvan berpikir terlampau jauh ke depannya.
"Ya sudah, aku mendukung pilihan kamu."
"Mukanya kok ragu gitu? Kenapa?" tanya Mikhayla menyadari raut wajah Keyvan yang tampak berubah, semudah itu dapat terbaca padahal dia sudah cukup semangat, pikir Khayla.
"Ah tidak, Sayang ... mana mungkin aku ragu tentangmu."
Apa aku salah menyemangatinya? Aku tidak ragu, mungkin saja memang mampu nanti ... tapi melihat wajahnya begini, ya Tuhan aku serahkan padamu yang kali ini.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1