
Luka akibat cakaran Henia benar-benar mengganggu pada kenyataannya. Merasa suasana hatinya terlanjur buruk, Keyvan memilih pulang lebih cepat. Tidak hanya Keyvan, melainkan Justin juga lantaran pria itu merasa tidak baik-baik saja. Ya, sesekali Keny yang sendirian di kantor tidak masalah, lagipula pria itu kerap kali pergi dengan alasan klise yang membuat telinga justin panas rasanya.
Tanpa Wibowo kali ini, mereka hanya pulang berdua dan keyvan membawa mobil begitu pelan bahkan Mikhayla merasa perjalanan pulang kali ini adalah yang paling lama. Beberapa saat menelusuri perjalanan, Mikhayla memint Keyvan untuk menepi sebentar.
"Kenapa?"
"Tunggu di sini, aku keluar sebentar ... ada yang ingin aku beli," ujarnya singkat, padat dan sama sekali tidak jelas karena hal itu hanya menimbulkan tanya bagi Keyvan.
"Aku ikut ya."
"Tidak perlu, aku cuma sebentar."
Baiklah, Keyvan menurut meski sebenarnya dia penasaran apa yang Mikhayla beli. Dari kejauhan dia tatap sang istri yang kini berjalan dengan langkah pasti di tengah keramaian, "Oh, apotik ternyata ... sepertinya aku harus meminta Wibowo melengkapi obat-obatan di kantor," gumam Keyvan verpikir jika saat ini sang istri tengah membeli obat pereda nyeri yang memang tidak tersedia ketika dia minta pada Wibowo.
Beberapa saat menunggu, Mikhayla kini kembali dengan memperlihatkan senyum hangatnya. Pria itu menghela napas lega karena tidak perlu khawatir jika sudah berada di tempat yang sama. "Sudah?" tanya Keyvan terdengar basa-basi, akan tetapi itu benar-benar sebuah pertanyaan yang harus Mikhayla jawab meski enggan.
"Hm, ayo pulang ... aku masih ngantuk," pinta Mikhayla kemudian kembali tidur dipangkuan sang suami, tampaknya pertengkaran hebat yang dia lewati tidak membuat rasa kantuk Mikhayla hilang sama sekali.
"Tidurlah, nanti di rumah aku bangunkan."
Keyvan lupa jika Mikhayla tidak tidur siang tiga hari terakhir, wajar saja dia memang merasa lelah dan terpejam begitu saja jika ada kesempatan. Pria itu kian pelan bersamaan dengan ramainya lalu lintas ibu kota di siang hari.
Tiba di rumah Keyvan tidak membangunkan Mikhayla dari tidurnya, meski harus mendapat pertanyaan dari setiap orang yang melihtnya sama sekali tidak masalah bagi Keyvan. "Dia sakit, Van?" tanya Zia khawatir kemudian menyentuh kening sang putri
"Tidur, Ma."
"Ck, lagian pulang kuliah bukannya ke rumah malah ke tempat lain, ujung-ujungnya tidur. Ini juga kenapa tangannya luka-luka begini, Van?"
"Biarkan saja, Kak ... lagipula yang di temui suaminya, bukan ke tempat yang tidak jelas," sahut Amara kemudian tersenyum hangat lantaran mereka berdua begitu manis menurutnya.
"Iya tapi lihat tangannya luka-luka begini, Amara ... Mama tanya. Kkenapa, Van?"
__ADS_1
Dia panik, persis seperti ketika khawatir kala Mikhayla dijemput dalam keadaan luka-luka oleh Mikhail dua tahun lalu, tepatnya sewaktu dia SMA.
"Ehm cakar kucing, Ma," jawab Keyvan berusaha menyembunyikan fakta yang sebenarnya, Zia yang memang semudah itu percaya pada Keyvan tidak bertanya banyak hal setelahnya.
"Kucing? Di kantormu ada kucing?" Zia memang mengetahui bahwa putrinya menemui Keyvan di kantor dari Bastian beberapa saat lalu, hanya saja sama sekali dia tidak menduga jika di kantor Keyvan akan ada makhluk berbulu itu.
"Iya, Ma."
"Padahal Mikhayla takut kucing," gumam Zia heran namun tidak menghalangi langkah sang menantu untuk ke kamar segera.
Hah? Rasanya tidak dapat dipercaya seorang Mikhayla yang bahkan lebih ganas dari macan takut dengan seekor kucing. Beruntung saja yang ada di rumah hanya Zia, jika saja Mikhail yang melihat hal semacam ini jelas saja Keyvan akan dituntut sejuta pertanyaan bahkan mungkin ganti rugi atas luka yang dialami putrinya.
"Mereka lucu ya? Jadi ingat masa muda," ujar Amara sengaja mendekat dan menatap punggung Keyvan yang kini kian menjauh.
"Halah, perasaan sampai sekarang juga kamu masih suka digendong Syakil, ingat muda apanya?" tanya Zia sedikit sewot yang kemudian membuat Amara tertawa sumbang.
"Bisa aja si nebaknya, pasti Mas Mikhail gitu juga kan?"
.
.
.
Keesokan harinya Mikhayla justru semakin malas untuk begerak. Keyvan sudah siap dengan kemeja berwarna biru senada dengan jas yang membalut tubuhnya. Sementara istrinya masih sibuk bergemul di bawah selimut.
"Yakin baik-baik saja? Aku ragu ke kantor kalau kamu begini, Khay."
Keyvan duduk di tepian ranjang dan mengusap pelan kepala sang istri. Pria itu merasa janggal dan ada yang tidak beres dengan Mikhayla, hanya saja wanita itu tidak menginginkan waktu sang suami hanya tetfokus padanya saja. "Aku baik-baik saja, cuma kecapekan ... mungkin kemarin berlebihan berantemnya jadi pegal semua begini," ujarnya meyakinkan pria itu jika dirinya memang baik-baik saja.
"Ya sudah kalau begitu, kalau butuh apa-apa telepon saja ya, aku tetap bisa pulang."
__ADS_1
Dia mengangguk patuh dan tidak menolak kala Keyvan mengecup kedua pipinya berkali-kali, ya memang sejak dulu tidak pernah menolak. "Tapi jangan pulang malam ya," pinta Mikhayla kemudian, tidak biasanya sang istri meminta hal semacam ini.
"Iya, janji."
"Jangan tidur lagi, nanti rezekinya dipatuk ayam kalau kata Mama dulu," ujar Keyvan yang membuat Mikhayla tersenyum tipis, ada-ada saja ucapan pria itu.
"Masa begitu?"
"Serius, kalau matahari sudah meninggi itu sudah waktunya bangun dan jangan tidur lagi."
"Itu mitos, Mama juga dulu pernah bilang kalau nyapu harus bersih supaya suaminya bersih ... aku kalau nyapu selalu bersih, dapatnya yang begini," ujar Mikhayla menyentuh wajah Keyvan yang memang tidak sebersih itu.
"Maksudmu? Padahal ini jambang kenikmattan, tidak semua pria memilikinya, Mikhayla."
Percaya diri sekali, Mikhayla tidak membantah karena memang ucapan Keyvan nyata adanya. Meski sang istri semalas itu untuk bergerak, akan tetapi dia masih mengantar Keyvan di pintu. Tidak peduli dengan penampilannya yang masih acak-acakan lantaran baru bangun tidur, dia masih memberikan pelukan sebelum dia pergi.
Selepas Keyvan pergi, Mikhayla kembali berlari ke kamar dan mengambil benda kecil yang sempat dia beli sewaktu di perjalanan pulang kemarin. Di depan Keyvan dia terlihat malas sekali bergerak, akan tetapi saat ini dia bahkan berlari menuju ke kamar mandi.
"Dia sudah benar-benar pergi kan?"
Mikhayla bahkan sengaja mengunci pintu kamar mandi lantaran khawatir seseorang akan mengetahui apa yang dia lakukan. Dia tampak gugup dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum kemudian mencoba memastikan hal yang dia curigai sejak kemarin-kemarin.
"Calmdown, Mikhayla ... jangan panik." Mikhayla memejamkan mata dan butuh beberapa saat untuknya benar-benar tenang. "Dan jangan terlalu berharap," lanjutnya kemudian.
- To Be Continue -
Hai-hai guys, di Mikhayla aku sedikit keberatan kalau segera end😖 Makanya alurnya kayak sengaja aku irit-irit, tapi aku berusaha biar tidak jadi bertele-tele. Semoga kalian masih suka ya, karena di setiap epsnya selalu ada yang aku selesaikan. Dan aku berusaha menulis lebih berurutan karena memang di Mikhail kemarin banyak yang komen kalau terlalu banyak loncatnya, dan aku harap kalian semoga masih bersedia mengikuti Mikhayla ya❣️
Oh, iya jika berkenan mampir ke novel satu ini buat sementara Keyvan - Mikhayla up ya🤗
__ADS_1