
"MIKHAYLA BUKAN SIMPANAN!!"
Tidak hanya Henia yang terkejut, suara Keyvan bahkan terdengar di luar dan membuat Wibowo yang tidak bisa menghalau kedatangan wanita itu ketar-ketir. Bisa jadi setelah ini dia yang menjadi amukan Keyvan hingga tidak bisa melakukan apa-apa, dia yang kini berada di depan pintu hanya bisa berdoa sembari memastikan detak jantungnya.
Sementara Henia yang saat ini masih berusaha mengenali siapa pria yang membentaknya hanya terdiam seribu bahasa. Seorang Keyvan yang biasanya setunduk itu bisa bicara dengan nada tinggi dan bahkan menatapnya luar biasa tajam. Kali pertama Henia merasa takut dibuatnya, walau demikian dia tetap membenci wanita muda yang dia yakini sebagai simpanan Keyvan itu.
"Kalau bukan simpanan kenapa dia ada di ruanganmu? Sejak kapan kalian memiliki hubungan? Bisa dijelaskan, Evan?" tanya Henia baik-baik meski rasa bencinya pada Mikhayla benar-benar luar biasa, ingin sekali dia tampar anak itu saat ini juga.
"Dia istriku, aku menikahinya tiga hari setelah Liora meninggal."
"Tiga hari?" Henia terhenyak dengan jawaban jujur Keyvan, kembali dia tatap dengan teliti wajah Mikhayla yang sebenarnya sedikit familiar sejak dia masuk.
"Tiga hari? Kamu gilla!! Kuburan istrmu masih basah dan sudah memiliki wanita lain? Salah jika Mama berpikir dia simpananmu, Hah?!!"
"Berhenti bersikap seolah-olah Mamaku," ucap Keyvan memejamkan mata dan dia sedikit keberatan lantaran Henia masih terus menempatkan dirinya sebagai mama untuk Keyvan, demi apapun dia sangat tidak nyaman.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!! Dan kau, wajahmu familiar dan aku bisa mengingat siapa dirimu." Henia maju selangkah dan membuat Keyvan was-was hingga dia menarik Mikhayla lebih dekat padanya.
"Berhenti bicara, aku tidak akan tinggal diam jika sampai istriku terluka," ujar Keyvan mengingatkan, dia khawatir Henia akan mengucapkan hal gila yang akan membuat Mikhayla sakit hati.
"Ah iya, kau adalah pembunuh putriku ... lebih hebatnya lagi kau merampas suaminya setelah kejadian itu, tidak sadarkah betapa bejjatnya dirimu anak kecil?" Henia tidak peduli dengan larangan Keyvan, wanita itu menatap Mikhayla dengan mata tajamnya hingga Mikhayla melangkah mundur dan menggeleng berkali-kali karena jiwanya terguncang dengan ucapan Henia.
"Aku tidak membunuh kak Liora, demi Tuhan aku tidak memiliki keinginan untuk merampas kebahagiaannya," lirih Mikhayla entah kenapa seberat itu usai mendengar kemarahan Henia padanya.
"Mulutmu mungkin_"
"Diam!! Jangan pernah menyalahkan Mikhayla atas kejadian yang menimpa Liora ... jaga mulutmu karena Mikhayla tidak pernah merampas kebahagiaan wanita lain," tegas Keyvan dengan amarah yang kini kian terlihat nyata, khawatir Mikhayla disakiti pria itu menarik sang istri agar bersembunyi di balik punggungnya.
"Evan!! Biarkan aku menghajar wanita nakal itu!! Hei, sini kau ... orang tuamu gagal mendidik anak sampai rela putrinya jadi simpanan pria yang bahkan lebih cocok jadi pamanmu!!"
"Mama diam!!" sentak Keyvan menghalangi Henia yang masih terus berusaha menggapai Mikhayla.
"Aarrrggghh jangan halangi Mama, Van!! Pellacur itu harus diberi pelajaran, ah mungkin dia dilahirkan dari rahim pellacur sampai wataknya sama. Sama-sama kotor!!"
__ADS_1
Henia membawa orangtua, Mikhayla yang mendengarnya tidak terima dan memilih untuk menghadapi Henia. Sejak tadi dia diam karena memang dia sadar penyebab Liora pergi adalah dirinya, akan tetapi jika sudah membawa orangtua dia tidak bisa tinggal diam.
"Anda bicara apa? Ulangi!!"
Diluar pengawasan Keyvan istrinya kini melangkah maju dan sama sekali tidak memiliki ketakutan akan Henia sakiti. Hingga pertengkaran tidak bisa terelakan, Justin menganga dan bingung hendak berbuat apa jika seorang wanita sudah bertengkar.
"Mikhayla!!"
Keyvan menarik sang istri segera karena sasaran Mikhayla memang asal bahkan kalung Henia putus dan kini bercecer di lantai. Dia tidak memiliki keahlian bela diri secara khusus, namun jika hendak mempertahankan diri da melawan wanita seperti Henia jelas saja dia bisa.
"Aku tidak akan pernah terima siapapun berbicara buruk tentang Mama, termasuk nenek-nenek sepertimu!!" ujar Mikhayla kembali menggila, apapun dia lakukan dan gerakannya tanpa teori sama sekali.
"Sama, aku juga tidak terima dengan perbuatanmu merebut kebahagiaan putriku!!" balas Henia meski napasnya sedikit lelah dan tidak setegas sebelumnya.
"Sayang sudah," ujar Keyvan menggeleng seraya memeluk tubuh Mikhayla yang kini tengah susah payah menetralkan napasnya.
"Lepas!! Dia menghina Mama dan aku tidak terima!!"
"Justin, tolong aku!! Jangan diam saja astaga!!" Justin yang masih merasakan ngilu di bagian intinya menarik paksa Henia agar keluar dari ruangan Keyvan. Padahal dia ingin melihat pertengkaran itu sampai di titik darah penghabisan, pikir Justin.
.
.
.
"Sudah besar saja dia begini, bagaimana kecilnya?"
Beberapa menit berlalu, Keyvan masih terdiam dan menatap sang istri yang kini merapikan rambutnya. Bukan marah ataupun sebagainya, Keyvan hanya terkejut dengan tindakan Mikhayla barusan.
"Huft, sering berkelahi begitu?" tanya Keyvan menyeka keringat Mikhayla yang tampak membasah di kening dan wajahnya.
"Tidak, baru tiga kali," jawabnya santai, hal itu memang benar adanya tanpa dia rekayasa sama sekali.
__ADS_1
"Ini kali terakhir ya, jangan gunakan tenaga untuk orang-orang seperti itu ... cukup percayakan padaku jika ingin membalas sakit hatimu, Mikhayla."
"Aku tidak akan begitu jika dia tidak menghina Mama, semua ucapannya tentangku bisa aku terima ... pembunuh, merampas kebahagiaan bahkan pellacurmu juga tidak masalah, tapi ketika membawa nama Mama aku tidak bisa," tutur Mikhayla dengan mata yang kini berkaca-kaca, Keyvan merengkuhnya lembut demi membuat Mikhayla tenang lebih dulu.
"Tidak ada yang bisa diterima, kamu bukan pembunuh dan sama sekali tidak merampas kebahagiaan siapapun, sekalipun kita saat ini bahagia itu berarti sudah jalannya ... kisahku bersama Liora sudah selesai, jangan pernah merasa bersalah, Mikhayla."
"Satu lagi, berhenti menyebut kata-kata pellacurmu seperti tadi. Aku tidak suka," lanjut Keyvan meradang, ingin sekali dia hantam wajah Henia dengan batu batako saat ini juga, demi apapun dia benar-benar sebenci itu rasanya.
Mikhayla mengangguk patuh, dia menatap wajah Keyvan yang kini terlihat sendu. Lengan Mikhayla tampak tergores, kuku-kuku Henia yang panjang membuatnya terluka dan ini membuat Keyvan mengeraskan rahangnya.
"Perih?"
"Lumayan, padahal sudah tua tapi kukunya sepanjang itu ... dasar tidak ingat umur," omel Mikhayla sebal dan sama sekali tidak dia tutup-tutupi, pria itu hanya tersenyum kala istrinya dengan nyata mencaci Henia.
"Tunggu ya, Wibowo ambil obat sebentar."
Mikhayla berdehem sekilas sebagai jawaban, dia pikir mertua Keyvan adalah wanita terhormat yang memang tahu kondisi. Nyatanya hanya wanita gilla yang sama sekali tidak layak untuk dihormati sedikitpun.
Gubrak
"Aduuh ... maaf, Tuan!!" Keduanya dibuat terkejut dengan kehadiran Wibowo yang kini terjerambab ke lantai sembari mebawa obat yang Keyvan maksud.
"Jalan pakai mata, Wibowo," ujar Keyvan datar dan tidak terdengar marah, hanya saja Wibowo yang luar biasa takut hanya khawatir pria itu akan mengulitinya hidup-hidup.
"Ini, Tuan!!"
"Istriku tidak sedang diare, ada apa denganmu sebenarnya?" Keyvan naik darah, entah karena terlalu gugup atau takut lantaran dia lalai dan tidak bisa menghalangi Henia masuk hingga otak Wibowo mendadak kehilangan fungsi begitu.
- To Be Continue -
Oh iya, aku mau rekomendasiin novel buat bacaan sementara Mikhayla up.
__ADS_1