
"Are you okay?"
Sementara di luar, saat ini Keny tengah berusaha menenangkan Justin. Tatapan pria itu tampak kosong dan dia seperti kehilangan separuh nyawanya, Justin duduk di lantai dengan rambut acak-acakan persis singa yang baru selesai adu kekuatan.
"Menurutmu bagaimana, Keny?"
"Mengkhawatirkan," jawab Keny apa adanya dan memang tampak melelahkan, beruntung saja dia tidak ikut masuk, pikir Keny.
Sejenak Justin menenangkan diri, Aisyah membawakan air dingin untuk pria itu namun keinginan Justin untuk minum sudah tidak ada lagi. Lututnya masih terasa lemas saat ini, bahkan pria itu hanya bisa bersandar seraya berusaha mengatur napasnya.
"Apa semua wanita melahirkan seperti itu? Kau begitu, Aisyah?" tanya Justin pada wanita berhijab yang merupakan seorang ibu dari dua anak itu.
"Tidak semua, tapi rata-rata begitu."
Oh my god!!
Justin memang pernah menikah, tapi kedua istrinya tidak ada yang sampai ke tahap itu. Wajar saja dia bingung dan bertanya karena sejak dahulu dia tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki seorang anak.
"Tapi Sonya tidak, Jus ... jangan khawatir, semoga saja istrimu nanti tidak begitu."
"Ck, istrimu tidak sadar sejak di rumah mana mungkin bisa merasakan sakit lagi ... lagipula aku tidak berpikir ke arah sana," tutur Justin paling tidak suka jika seseorang seolah membicarakan masa depannya terkait wanita.
"Tidak boleh menolak takdir, Justin ... nanti kepentok cinta Aisyah bahaya," ujar Keny seenak jidat tanpa berpikir jika Aisyah dan Justin sama gelinya mendengar ucapan Keny.
"Aisyah istri orang, kau gila atau bagaimana?"
"Santai, Bro ... aku hanya bercanda, kau tegang sejak tadi," ujar Keny menepuk pundak Justin yang begitu lemas, pria itu bercanda dengan harapan Justin bisa sejenak lebih tenang dan melupakan kejadian beberapa saat lalu.
__ADS_1
"Kau tidak berada di posisiku, Keny ... coba lihat kulit kepalaku, ini sakit luar biasa."
Justin bersandar dan menatap nanar tanpa arah, jika ditanya lebih baik bertengkar mati-matian atau disakiti perempuan jelas Justin akan memilih pertengkaran.
"Mana, coba lihat."
"Aarrgghh!! Santai kan bisa." Justin berdecak sebal, cara Keny memastikan kulit kepalanya hampir sama dengan apa yang Mikhayla lakukan hingga pria itu memilih pindah tempat duduk di depan mereka.
Kembali pada pasangan yang saat ini tengah berjuang antara hidup dan matinya. Keyvan menggenggam erat tangan Mikhayla yang mulai dia rasakan sedikit lemas, pria itu berusaha menyalurkan kekuatan untuk sang istri demi bisa melewati hari ini.
"Sedikit lagi, Khay ... buka matamu, tolonglah."
Keyvan panik, dia benar-benar khawatir dan ketakutan kala melihat sang istri kian lemas dan kini memejamkan mata. Dokter sudah berusaha sebaik-baiknya, Keyvan tidak peduli walau dokternya laki-laki ataupun yang lainnya. Semua sudah terdesak dan ini adalah dampak dari Justin dan Keny yang membawa Mikhayla ke rumah sakit yang berbeda.
Sakit sekali, Mama ... maafkan Khayla.
Di saat rasa sakitnya kian bertalu-talu, Mikhayla mengingat sang mama dan entah kenapa rasa bersalahnya sebesar itu. Walau dia bukan termasuk anak durhaka, tapi tetap saja secuil kesalahan luar biasa besarnya bagi Mikhayla saat ini.
Suara Keyvan membuatnya membuka mata, sesakit itu hingga dia bahkan sempat hampir kehilangan kesadaran. Mikhayla yang sejak tadi sudah ingin menyerah kini kembali menarik napas dan melanjutkan perjuangannya demi sang suami.
Kembali lagi melawan rasa sakitnya. Melahirkan secara normal adalah keinginan dia sejak awal, bahkan Keyvan lelah sendiri pada akhirnya. Keyvan tidak akan menyalahkan Mikhayla sama sekali, dia sudah berjanji untuk mendukung tanpa menghakimi.
Berulang kali Keyvan menyeka air mata sang istri, sementara air matanya menetes ke wajah Mikhayla. Keyvan bukan pria cengeng sebenarnya, dia menangis bisa dihitung dalam dengan hitungan jari selama hidup.
Setiap inci tubuh Mikhayla terbayang sakitnya, Keyvan mengucapkan beberapa kalimat demi istrinya bisa bertahan dengan semua yang dia rasa. Keringat bercampur air mata, bersama darah yang juga mengalir di sana adalah hal yang takkan pernah Keyvan lupa.
Hingga, Mikhayla benar-benar merasakan ini adalah akhir dunianya tersadar dengan tangisan malaikat kecil yang kini terdengar begitu jelasnya. Memecah suasana dan membuat Keyvan mengalihkan pandangannya sejenak ke depan. Ya, malaikat kecilnya kini hadir menggantikan isak tangis keduanya.
__ADS_1
Keyvan tidak melepaskan tatapannya dari sosok manusia mungil yang menyapa dunia dengan jerit tangisnya. Tubuh pria itu bergetar, dia berkali-kali meyakinkan jika ini bukan mimpi.
"Dok!! Saya mau lihat!!"
Begitu sulit mengungkapkan kebahagiaannya hingga Keyvan melepaskan genggaman tangan sang istri dan spontan menghampiri buah hatinya.
"Astaga, aku ditinggal begitu saja?"
Meski benar-benar hampir kehabisan tenaga, tapi Khayla sadar betul jika Keyvan kini meninggalkannya. Walau tidak seberapa jauh tetap saja tindakan Keyvan melepaskan genggaman tangannya tanpa aba-aba adalah bukti nyata pria itu meninggalkan dirinya.
- To Be Continue -
Hallu guys, siang ini aku merekomendasikan novel buat teman bacaan makan bakwan.
Judul : Prahara Darah Biru
Author : Aisy Arbia
SEMUA ORANG BISA BERUBAH SEIRING PERJALANAN WAKTU.
Olivia Rosemary harus menelan pil pahit karena kekasihnya, Kenneth Jonathan terbukti selingkuh di depan matanya. Keputusan untuk mengakhiri hubungan nampaknya membuat perubahan besar pada diri Olivia.
Kenric Miguel Cotto harus menceraikan istrinya, Yoluta Zaylee karena ketahuan selingkuh dengan pria lain. Rasa kecewa dan pengkhianatan sang istri membuat Kenric hilang kepercayaan.
Rasa kecewa dan amarah yang tiada henti membuat Kenric dan Olivia memutuskan untuk menjalin hubungan. Hubungan terlarang karena Olivia adalah keponakan Kenric. Hubungan yang didasari atas rasa kecewa, kebencian, dan berakhir di tempat yang salah.
Bagaimana akhir hubungan percintaan yang tidak seharusnya itu? Mampukah mereka mengarungi bahtera kehidupan setelah mendapatkan penolakan dari berbagai pihak?
__ADS_1
Yuk ikuti kisahnya 🙏