
Sarapan tapi persis sidang paripurna, meski mereka tidak setegang itu tetap saja Keyvan merasa tidak nyaman dengan tatapan maut orang-orang di sini. Sudah Syakil katakan untuk santai saja, tapi tatapan mata yang lain tetap menaruh curiga jika dirinya bukan pria baik-baik untuk Mikhayla.
"Hahaha lucu juga, kita baru bisa bertemu ketika kau sudah punya menantu, Khail."
"Kau yang terlalu acuh pada kami, Bryan," balas Mikhail tidak lupa mendaratkan telapak tangannya di bahu Bryan, memang tidak bisa diam sebenarnya.
"Tapi jika dilihat-lihat, Evan lebih cocok jadi putramu dibanding menantu," tutur Bryan berhasil membuat Mikhail naik pitam, maksudnya apa bicara demikian.
"Maksudmu?"
"Kalian terlihat sama, aku melihat kau sewaktu muda di dalam diri Evan."
"Benar, aku juga sependapat, Khail."
Setelah Bryan, kini Syakil yang turut membenarkan. Lebih menyebalkannya lagi, pernyataan itu disetujui yang lain hingga Ibra pun mengangguk dan tidak menyalahkan opini Bryan.
"Hahah kenapa wajahmu? Evan saja tidak masalah ... benar kan?" tanya Bryan menunggu tanggapan dari Keyvan, pria itu diam saja sejak tadi dan hanya menarik sudut bibir begitu tipis.
"Iya, Om ... tidak masalah," jawab Keyvan sedikit ragu lantaran khawatir Mikhail merasa tidak nyaman lantaran dianggap mirip dengannya.
Kehadiran para pahlawan Mikhayla itu membuat ruang geraknya sedikit terbatas. Dari kejauhan Keyvan hanya bisa menatap sang istri yang tengah bersama kedua adik perempuannya. Sementara dia terkekang dalam pembicaraan di sini, sungguh Keyvan sedikit resah dan bertanya kapan selesainya pertemuan ini.
Mikhail yang paham makna tatapan Keyvan sengaja membuat pria itu semakin resah. Mana mungkin dia izinkan menantunya menghampiri istrinya segera, memang secuil penderitaan Keyvan ini di Inginkan sejak kemarin.
"Khayla ... sini, Sayang."
Mikhayla yang sejak tadi mendampingi Lengkara dan Ameera belajar segera menoleh dan menghampiri sang papa yang kini tengah berbincang hangat di sofa. Hot pants dan baju kaos yang dia kenakan membuat mata Keyvan panas rasanya, beginilah ketika ganti baju di luar pengawasannya, pikir Keyvan.
"Kenapa, Pa?"
__ADS_1
"Belajarnya di kamar, jangan di sini."
Mikhayla menghela napas kasar, dia sebal sekali dengan perintah Mikhail yang terkadang tidak terduga begini. Bukan cuma sekali, memang jika banyak tamu dia dilarang keluar kamar, akan tetapi untuk sekarang siapa yang perlu dihindari? Toh dia juga sudah punya suami.
"Papa mah ... kenapa disuruh masuk? Mereka juga bukan orang asing," protes Mikhayla masih tetap sopan.
"Masuk, ajak adikmu tidur siang ... di sini cuma buat mata tidak fokus," ungkap Mikhail tiba-tiba membuat kerongkongan Keyvan mendadak panas, lirikan mata sang papa tertuju padanya.
"Mata siapa? Dari tadi om Syakil juga tidak lihat ke arah sana," jawab Mikhayla spontan seraya menunjuk ke arah ruang keluarga, jarak mereka memang cukup jauh. Rasanya heran jika jadi pusat perhatian para pria itu, pikir Khayla.
"Mata suamimu," jawab Mikhail singkat, padat dan berhasil membuat Keyvan dihempas rasa malu, sama sekali tidak dia duga jika Mikhail sejak tadi memantaunya.
Mikhayla sontak menoleh ke arah Keyvan yang kini tengah menghindari tatapannya. Interaksi keduanya spontan jadi pusat perhatian semua yang ada di sana.
"Memang hak dia, Mikhail ... apa salahnya?"
"Ya tetap saja, jika sedang bicara matamu jangan kemana-kemana."
Banyak sekali aturannya, padahal sejak tadi Keyvan masih fokus meski matanya memang ke arah Mikhayla. Gelak tawa memenuhi ruangan hingga Mikhayla dibuat memerah akibat ulah sang papa.
Mikhayla yang sebal luar biasa berlalu dengan langkah panjangnya, dari cara dia melangkah dapat disimpulkan betapa sebalnya dia. Keyvan masih tidak melepas sang istri dari pandangannya, batin Keyvan meronta dan tangannya ingin sekali merobek celana Mikhayla yang hanya sejengkal itu.
.
.
.
Bukan tidak suka berbaur, tapi Keyvan tidak terlalu betah jika terus menerus berbincang bersama orang yang menurut dia asing. Jika hanya keluarga inti saja dia tidak masalah, akan tetapi berbeda dengan kali ini.
__ADS_1
Keyvan masih sabar menunggu Mikhayla yang kini masih di luar, pria itu berbaring di atas tempat tidur Mikhayla yang lebih luas dari miliknya. Padahal tidur sendiri tapi ranjangnya cukup untuk berempat, mungkin sengaja agar tidurnya leluasa, pikir Keyvan tersenyum simpul tanpa dia sadari.
Ceklek
Pintu kamar dibuka dari luar, setelah menunggu cukup lama akhirnya datang juga. Keyvan hanya menoleh ke arah pintu dan tidak berniat untuk beranjak bangun dari tidurnya.
"Kenapa lihatnya begitu?"
Mikhayla menghampiri dengan sekelibat keraguan dalam dirinya. Tangan Keyvan memberikan isyarat agar Mikhayla tidur di sampingnya.
"Lama sekali ... kenapa memangnya?"
Keyvan bertanya seraya melingkarkan tangan di pinggangnya. Mikhayla yang baru saja berbaring sontak dibuat terkejut dengan perlakuan Keyvan.
"Adikku baru tidur," jelas Mikhayla dengan suara lemah lembutnya.
"Kamu bisa jaga anak berarti?"
"Bisa, kan sudah kukatakan dari mereka balita aku terbiasa jagain." Mikhayla tidak berbohong, meski dia tidak membantu banyak tapi setidaknya yang mendampingi Zia menjaga Lengkara dan Ameera adalah dia.
"Bagus kalau begitu, aku tidak perlu bayar pengasuh nanti," ucap Keyvan mengecup pipi Mikhayla berulang kali.
"Memangnya ada yang mau diasuh? Hamil saja belum."
"Ada, tapi nanti ... bukan sekarang."
Mikhayla mengerutkan dahi usai mendengar ucapan Keyvan, dia merasa Keyvan sedikit aneh. Sorot matanya seperti sangat menginginkan, tapi bibirnya berkata demikian.
- To Be Continue -
__ADS_1