
Jika biasanya wanita cuti melahirkan, lain halnya dengan Keyvan. Pria itu sudah tidak masuk lebih dari satu minggu hanya demi mengutamakan waktu untuk putrinya. Pagi-pagi sekali Keyvan sudah bergerak untuk memandikan putrinya, berbekal ilmu yang dia dapat dari Zia kini pria itu mampu memegang putrinya tanpa sedikitipun rasa takut.
"Aaww matanya apa tidak perih? Jangan kasar-kasar begitu," pinta Mikhayla yang memantau kegiatan suaminya karena memang dia belum berani, khawatir jika makhluk lembutnya itu kenapa-kenapa.
Ya, meskipun dia juga mengetahui ilmunya secara teroi, akan tetapi ketika sudah benar-benar harus terjun ke lapangan begini dia tetap saja khawatir. Untuk saat ini dia hanya berani menggendong Zavia tak kala putrinya butuh asupan, selebihnya Keyvan yang tanggung jawab.
"Tidak kasar, Sayang ... buktinya dia saja tidak menagis," ucap Keyvan kemudian begitu lembut pada sang istri, sekhawatir itu jika gerakan Keyvan menyakiti Zavia, padahal tidak sama sekali.
Dari jarak dekat Mikhayla tersenyum simpul menatapnya, menggemaskan sekali. Tidak ada satu detikpun Mikhayla lewatkan, apa yang kini dia lihat sungguh membuat hatinya terasa hangat.
"Kamu seperti sudah terbiasa, jangan-jangan pernah punya anak ya?" tanya Mikhayla asal sekali hingga membuat Keyvan memercikkan air hangat yang digunakan untuk mandi Zavia tepat di wajah sang istri.
"Mandi sana, Zavia saja sudah mandi."
Khawatir jika otak istrinya masih terlelap pria itu meminta Mikhayla untuk mandi segera. Memang, sejak subuh hanya Keyvan yang selesai sementara Mikhayla terlalu lelah hingga Keyvan membiarkannya tetap tidur.
"Nanti ah, mau lihat Via pakai baju," ungkap Mikhayla persis seperti seorang balita yang baru saja dapat adik.
Pada kenyataannya kekhawatiran Zia benar terjadi. Kesiapan seorang Khayla untuk menjadi ibu sangatlah kurang ketika bayinya sudah lahir, tingkahnya ketika melihat Zavia sama seperti Lengkara dan juga Ameera, hanya saja dia tidak melepaskan tanggung jawabnya untuk menyusui sang putri.
"Kamu jangan disana, Sayang ... geser sedikit ya," ujar Keyvan lembut sekali dan dia berharap sang istri bisa mengerti perintahnya.
"Begini?"
Diminta bergeser sedikit, dia sangat menurut tapi hanya beberapa centi. Keyvan menghela napas perlahan dan dia mendorong pelan Khayla agar berpindah dan dia bisa bergerak bebas memakaikan baju Zavia.
__ADS_1
Meski bibirnya maju beberapa centi tapi Mikhayla tidak menjauh dan tetap menyaksikan kegiatan sang suami. Sementara dia sejak tadi tiada henti mengecup sang putri berkali-kali, sudah Keyvan katakan jangan sekarang tetap saja pembangkang.
"Eeemuuuaahhh mulutnya wangi."
Lihatlah siapa yang kini menghambat pekerjaan Keyvan. Andai saja bukan istrinya mungkin sudah Keyvan usir dari kamarnya, pria itu tetap bersabar dan menunggu Mikhayla mejauh dengan sendirinya.
"Sudah?"
"Iya, aku ganggu ya?"
"Tidak, Sayang. Cuma kamu lebih baik dibelakangku saja," pinta Keyvan kemudian, tidak marah hanya sedikit meminta Khayla menjauh sebentar saja.
Dia masih bertanya padahal sudah jelas ini sangat mengganggu dan Keyvan berusaha tidak megeluhkan hal itu. Mikhayla mundur sejenak dan dia membiarkan Keyvan menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi tidak lama berselang Mikhayla kini melingkarkan tangan di perut Keyvan.
Jika hanya berdua saja demi apapun Keyvan sangat tidak bermasalah. Akan tetapi saat ini dia tengah fokus dengan putrinya dan tindakan sang istri yang tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat Keyvan memejamkan mata sejenak.
"Tapi tanganmu diam, Khayla."
Mikhayla berdecak sebal dan dia melepaskan Keyvan kemudian. Tidak lupa mendaratkan telapak tangannya di pundak Keyvan hingga membuat pria itu lagi-lagi merasa serba salah. "Marah?"
"Tidak, siapa yang marah ... aku mandi dulu ya, susunya ada di sana kalau nangis."
"Hm, jangan lama mandinya, kalau masih gosok gigi jangan dilepas semuanya nanti kedinginan."
Keyvan terpaksa mengatur semua hal tentang Mikhayla. Pasalnya jika tidak begitu sang istri akan semaunya bahkan kemarin dia menghabiskan waktu lama hanya untuk mandi saja. "Cerewet," gumam Mikhayla berlalu ke kamar mandi dan hal itu terdengar jelas di telinga Keyvan.
__ADS_1
"Mikhay_"
Brak
Pintu kamar mandi sudah tertutup sebelum dia selesai bicara. Tidak mengapa, anggap sebagai ujian karena dia harus mengasuh dua bayi yang berbeda wataknya. Untuk saat ini, Keyvan lebih kerap mengurut dada jika berhadapan dengan Mikhayla dibandigkan putrinya.
"Jangan ditiru mamamu ya, Sayang."
Putrinya sudah selesai, beberapa saat lagi sudah tentu Zia atau Mikhail mengetuk pintu kamar untuk bertemu bidadari mungilnya. Sebelum itu terjadi Keyvan akan lebih dulu melakukan rutinitasnya setiap hari, ya pamer pada Justin dan juga Keny.
Morning, Uncle Justin ... semoga harimu menyenangkan dalam kesendirian. - Keyvan
Morning My sweet angel, ah lucunya. - Justin
Dasar boddoh, dia menyindir status dudamu itu Justin. - Keny
Keny ikut menyahut dan dibenarkan keyvan dengan gelak tawa hingga putrinya terkejut, untung saja tidak menangis.
Ah tidak masalah, nanti Zavia yang akan menemani kesendiran uncle di masa tua ... Love you, Zavia.
Balasan Justin sontak membuat Keyvan menepuk tempat tidur seraya mengucapkan amit-amit. Jika sampai benar terjadi, mungkin dia lebih baik membuat Justin kehilangan nyawa sejak saat ini.
Sinting kau, Justin!! Keyvan mengetiknya penuh dengan emosi hingga jemarinya seakan terasa sakit sebenarnya.
Bahaya, bibit-bibit pedoffil mulai terlihat ... lindungi bayimu, Van. Aku juga ikutan khawatir, mulai hari ini aku larang kau ke apartementku, Justin. Padahal Justin hanya bercanda, akan tetapi Keny justru menganggapnya benar-benar serius.
__ADS_1
- To Be Continue -