Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BONUS CHAPTER 01


__ADS_3

Pagi-pagi Mikhayla dibuat sibuk, Zavia mulai memanggil di luar, sementara Keyvan yang tidak mengizinkannya beranjak dari kasur lantaran tubuhnya tengah demam tinggi, padahal kemarin-kemarin tidak ada tanda dia sakit sama sekali.


Entah kenapa ketika hamil anak kedua, yang lemah justru Keyvan padahal dahulu dia tidak seperti ini. Bahkan terkena angin sedikit saja dia bisa sakit, kekhawatiran Zia jika Mikhayla hamil lagi nyatanya salah. Bukan dia yang sakit karena kelelahan melainkan Keyvan yang seakan tidak punya daya dalam hidupnya.


"Mama buru!! Sudah siang Mama, nanti Via dimarahin Opa!!"


Dia mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya persis penagih hutang. Jarak kamar mereka cukup dekat hingga Zavia jelas saja menjadikan Mikhayla sebagai tujuan utama jika baru bangun pagi.


"Mama bukain!! Via aduin Opa nih!!" pekik Zavia sebal sendiri dan membuka paksa pintu kamar mamanya.


"Zavia, Sayang ... ini kan hari minggu, jadi tidak masalah kalau kesiangan, Zavia sama Mba Rani saja mandinya ya?"


"Gamau, Via maunya Mama. Mba Rani kemarin buat mata Via pedih, gamau," tolak Zavia tak terbantahkan.


Hanya karena tragedi tidak sengaja yang mana mata Zavia perih ketika wanita itu yang bertanggung jawab memandikannya, kini Zavia benar-benar enggan bahkan dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk dijaga Rani lagi.


"Iya tapi kan ini hari libur, mandinya agak siangan tidak masalah. Sekarang, Mama masih tidur, Sayang."


"Ini udah siang, kata Opa anak pintar gaboleh bangun kesiangan."


Didikan Mikhail memang tidak pernah salah, pria itu mendidik cucunya dengan hal-hal sederhana tapi memang begitu nyata dan sangat penting untuk anak seusia Zavia.


Di saat Zavia berontak di luar sana, di dalam kamar Mikhayla tengah berusaha merayu Keyvan agar mengalah sebentar saja. Pelukan pria itu sama sekali tidak dia lepaskan, bahkan Mikhayla hendak bergerak saja sulit.


"Sayang sebentar, nanti Zavianya nangis."


"Nanti, Khay ... biarkan saja, nanti juga dia diam sendiri," ucap Keyvan semakin mengeratkan pelukannnya hingga Mikhayla sedikit sesak. Pria itu menenggelamkan wajahnya di dada Mikhayla padahal sejak tadi dia sudah terbangun sebenarnya.


"Diam apanya? Yang ada dia nangis, sudah awas sana ... biasanya dia minta mandiin, Zavia takut kalau mandi sama mba Rani."


"Ck, jangan lama ya."

__ADS_1


Keyvan melonggarkan pelukannya, pria itu mengizinkan sang istri untuk berlalu keluar sementara dia tentu saja masih terus berbaring dengan alasan sakit kepala. Mikhayla segera beranjak membuka pintu dan mempersilahkan tuan putri itu masuk ke kamarnya.


"Mama baru bangun ya?" tanya Zavia lembut sekali, padahal beberapa waktu lalu dia berteriak sejadi-jadinya hingga membuat Rani kebingungan.


"Iya, Mama kesiangan ya, Sayang? Via bangunnya dari tadi?"


Mikhayla berlutut demi bisa menyamakan tinggi putrinya. Wanita itu tersenyum teduh kala melihat wajah baru bangun tidur putrinya yang tampak sedikit bengkak. Tidak lupa dengan kotoran di bagian mata yang membuat Mikhayla terkekeh kemudian.


"Papa masih tidur ya, Ma?"


"Iya, Papa sakit ... Via mau lihat?"


Zavia mengangguk, Mikhayla yang seakan selalu merasa putrinya masih kecil tetap memperlakukan anak itu layaknya bayi hingga dia masih tetap menggendong Zavia walau jujur saja beratnya sedikit membuat napas Khayla engap.


Dari kejauhan Keyvan sudah tersenyum menyambut dua bidadarinya itu. Dia menyambut kehadiran Zavia yang Mikhayla dudukan di atas perut Keyvan padahal usianya sudah enam tahun, bukan enam bulan.


"Papa demam?" tanya Zavia merasakan suhu tubuh Keyvan dengan punggung tangannya, dan begitu jelas memang panas sekali.


"Papa bau!! Belum gosok gigi," ucap Zavia membuat Khayla terbahak dan merasa benar-benar terhibur walau sebenarnya tidak begitu kenyataannya.


"Oh iya? Sini Papa cium lagi."


"Aaaaaaaaaa Papa sana! Via mau mandi!" teriak Zavia mencoba melepaskan diri dari pelukan Keyvan.


"Wih anak Papa mau mandi, mau kemana memangnya? Ini hari libur, mending tidur lagi sini sama Papa," ucap Keyvan yang kemudian sontak mendapat penolakan dari Zavia, dia sama sekali tidak mau jika harus kembali tidur bersama Keyvan.


"Gamau!! Via hari ini mau ke ... ke ... kemana ya, mau pergi sama Opa," ucap Zavia semangat sekali bahkan membuat telinga Keyvan sedikit sakit.


"Kemana memangnya? Papa tidak ikut?"


"Zavia sama Opa, mau pacaran sama Opa."

__ADS_1


"Heeh, siapa yang ngajarin bilang begitu?"


Mikhayla yang sejak tadi membuka gorden dibuat tersedak dengan ucapan Zavia. Ada-ada saja anak itu, entah dari mana dia dapat istilah semacam itu, pikir Mikhayla.


"Ih kan Papa suka pacaran sama Mama, masa Via gaboleh sama Opa."


Itu adalah akibat dari Keyvan yang kerap kali pamit pada Zavia dan mengatakan dia akan pacaran bersama Mikhayla. Kini, dia justru dibuat bungkam kala putrinya mengatakan hal semacam itu di depan mereka.


"Bukan pacaran namanya, anak kecil belum boleh pacaran," ungkap Mikhayla khawatir jika Mikhail justru marah jika sampai Zavia melontarkan kalimat itu nantinya.


"Kalau sudah besar boleh ya, Ma?"


"Boleh, tapi nanti kalau Zavia sudah seperti Uncle Zean ya."


Interaksi mereka begitu tentram hingga membuat Keyvan seakan terbius dan merasakan tanda-tanda kesembuhan. Akan tetapi respon Zavia setelahnya hampir membuat Keyvan tersedak.


"Yeay!! Berarti kalau Via sudah besar, Papa jadi pacar Via boleh ya, Ma?"


"Ya jangan dong, kamu cari pacar sendiri lah, Papa yang buat Mama."


"Gamau ah, Mama aja yang cari ... Papa punya Via," ucapnya kemudian memeluk erat sang papa dan mulai terjadi perebutan tahta jika mereka sudah bersama.


.


.


.


Bonusnya mau berapa nih? Aku lihat like, kalau masih tembus 4 digit seperti up biasa aku banyakin❤


Sementara nunggu, baca novel ini dulu ya.

__ADS_1



__ADS_2