Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 82 - Resiko


__ADS_3

"Aaaakh jangan kuat-kuat, sakit."


"Begini?"


"Terlalu pelan, tidak berasa, Sayang ... kan sudah sudah kuajarkan tadi," tutur Keyvan menggigit bibir bawahnya kala merasakan sentuhan Mikhayla yang sama sekali tidak konsisten.


"Begini enakan?"


"Aah pas rasanya, turunkan sedikit ... jangan pakai kukumu, tajamnya ya Tuhan," keluh Keyvan banyak sekali protes hingga Mikhayla kesal pada akhirnya.


"Ah udahlah, salah melulu. Tadi katanya kurang kuat, dikuatin sakit, udah pas masih aja protes kena kukulah, kurang turunlah maunya gimana?"


Mikhayla mencebik kesal lantaran sudah hampir tiga puluh menit dia bertahan dengan posisi begini. Sungguh pinggangnya terasa sedikit pegal jika bertahan terlalu lama dengan satu posisi.


Mikhayla turun dari tubuh Keyvan dan memilih menyerah, punggung Keyvan terlalu lebar untuk dia pijat. Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya lantaran terasa sedikit pegal, jujur saja dia memang pernah memijat Mikhail tapi tidak selama ini. Itupun hanya pundak tidak keseluruhan badannya, jika memang butuh jasa tukang urut seharusnya Keyvan datang ke ahlinya, gerutu Mikhayla dalam hatinya.


"Hem? Siapa yang mengizinkanmu turun dari tubuhku? Belum selesai, Mikhayla."


Keyvan menatapnya dengan mata lelah dan berharap istrinya kembali baik dan meneruskan tugasnya. Tubuh Keyvan sedikit pegal-pegal ditambah lagi dia pusing akibat beberapa kejadian yang dia alami akhir-akhir ini, salah satu sebabnya ialah Mikhayla sendiri.


Mikhayla yang juga lelah menggeleng pelan lantaran dia merasa tidak snggup jika harus meneruskan hukuman yang Keyvan maksud. Sungguh dia salah menduga dan berpikir jika Keyvan mengajaknya kemari untuk bersenang-senang. Nyatanya, tangan Mikhayla dibuat gemetar akibat memijat bahu bidang Keyvan yang begitu meresahkan matanya.


"Tanganku pegal, panas juga. Kenapa harus pakai minyak segala ... Opa aja tidak pernah pakai minyak begituan.


Mikhayla mengutuk minyak gosok yang sempat Keyvan pesan secara online beberapa saat lalu. Tanpa minyak itu saja Mikhayla sudah keberatan, apalagi jika ditambah dengan benda sialan itu, pikirnya.


"Ya sudah, sini gantian."


Sontak pria itu bangun dan meraih jemari sang istri dan memijatnya perlahan. Niat hati hanya ingin menguji kesabaran Mikhayla saja, sayangnya Keyvan justru ketagihan dan meminta Mikhayla benar-benar memijat seluruh tubuhnya.


"Tumben minta dipijit, biasanya yang lain," ucap Mikhayla asal hingga Keyvan menatapnya sedikit berbeda, pria itu terkekeh kemudian kala sang istri tampak menyesali keputusannya.


"Yang lain gimana?"

__ADS_1


"Ehm maksudnya tidak biasanya minta dipijitin, gitu."


Jangan sampai salah bicara, jujur saja Mikhayla sedang tidak memiliki keinginan untuk melakukan segala sesuatu ke arah yang iya-iya. Pria itu paham maksud Mikhayla, jelas saja akan dia minta tapi tidak sekarang.


"Sedang ingin saja, sudah lama aku tidak dipijit," ujar Keyvan tanpa sadar jika raut wajah istrinya mendadak berubah usai dia mengucapkan hal itu.


"Memangnya dulu sering ya?"


Keyvan mengangguk pelan, dia memang terbiasa memanjakan diri dengan cara itu. Bahkan dia bisa menghabiskan uang yang cukup mahal agar tubuhnya terasa nyaman kemudian.


"Kak Liora maksudnya?" tanya Mikhayla pelan, jika benar Liora kerap melakukannya jelas dia harus berusaha juga agar Keyvan tidak merasa dirinya tidak bisa diandalkan, pikir Mikhayla.


"Bukan, dia tidak pernah mau ... dia sangat menyayangi kuku-kukunya," ujar Keyvan tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala, baru menyadari betapa tidak berartinya dirinya yang bahkan kalah dengan tahta kuku di mata Liora.


"Hm, begitu. Terus perempuan lain yang pijitin gitu? Kak Liora tidak marah?" tanya Mikhayla sedikit tidak percaya karena otaknya sama sekali tidak benar lagi jika sudah bahas masalah pijat memijat.


Pria itu tampak berpikir, beberapa saat kemudian dia menggeleng sebagai jawaban. Mikhayla mengang tidak percaya dan merasa Keyvan membual, mana mungkin seorang istri tidak akan marah jika suaminya disentuh wanita lain apapun alasannya.


"Aneh saja, masa tidak marah ... memangnya kak Lio tidak khawatir suaminya pijat plus-plus begitu?"


PLETAK


Keyvan menjitak kening sang istri hingga dia meringis kemudian. Perkataan Mikhayla memang benar-benar asal sebut bahkan Keyvan bingung dari mana dia mendapat istilah pijat plus-plus begitu.


"Kamu pikir aku pria seperti apa, Khayla?"


Salah lagi, padahal Mikhayla hanya mengutarakan kecurigaannya sebagai pendengar jika membayangkan posisi Keyvan di masa lalu. Karena bagi Mikhayla kemungkinan besar jika pria tidak dimanjakan istrinya akan berlari mencari ke tempat lain, tempat pijat misalnya.


"Santai kan bisa, kenapa jadi sedikit emosian ya sekarang?"


"Bukan emosi, hanya menyadarkan otakmu itu."


"Otakku baik-baik saja lah, wajar kan aku tanya begitu. Biar bagaimanapun aku tetap istri kamu, Sayang." Kadang terlihat serius, tapi kadang juga sama sekali tidak ada seriusnya. Begitulah kalimat yang bisa menegaskan bagaiman Mikhayla, kali ini Keyvan yang sedikit sebal dituduh menikmati pijat plus-plus itu luluh seketika kala sang istri menyebutnya sebagai sayang di akhir kalimat.

__ADS_1


"Hm, wajar saja, terima kasih kecurigaanmu." Keyvan mengerti pikiran Mikhayla sebagai istri. Akan tetapi, untuk perihal pijat yang Keyvan lakukan tampaknya sama sekali tidak seperti yang Khayla bayangkan. Jelas saja demikian, yang melakukannya saja sudah lansia, pikir Keyvan.


.


.


.


Sampai malam mereka tetap benar-benar di hotel tersebut. Awalnya Mikhayla sama sekali tidak curiga, akan tetapi setelah makan malam Keyvan justru meminta dibawakan pakaian kepada salah satu staffnya, seperti pakaian yang dia gunakan di saat menyelinap masuk ke kamar waktu itu.


"Mau kemana?" tanya Mikhayla khawatir karena mereka baru saja makan malam beberapa saat lalu, dan kini Keyvan sudah siap untuk pergi tanpa dirinya.


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, Sayang ... tidak akan lama, sebelum tengah malam aku sudah kembali. Di depan akan ada staffku yang menjagamu selama aku pergi, jadi jangan takut ya."


Hendak kemana Keyvan dia tidak bisa menebaknya. Akan tetapi, yang jelas pria itu membuat Mikhayla sedikit khawatir dan ingin melarangnya pergi.


"Kenapa pakai baju yang begini? Tidak bisa pakai baju tidur saja?" Andai Keyvan mengenakan baju mungkin Mikhayla tidak akan memiliki ketakutan tersendiri saat ini.


"Dingin nanti, lagipula tidak enak di sana ada Justin dan juga Keny ... bisa-bisa aku ditertawakan, Khay."


Mendengar jawaban Keyvan, dia semakin merasa heran dan tidak nyaman sama sekali. Pakaian Keyvan begitu ditambah lagi ada Justin dan Keny yang katanya sudah menunggu, sontak Mikhayla menuduhnya macam-macam.


"Kalian mau melakukan kejahatan ya? Maling? Kurang kaya atau bagaimana?"


Pyar


Sudah berusaha untuk terlihat ditakuti, sayangnya di mata Mikhayla dia tidak lebih dari seorang pencuri. Hendak marah juga tidak bisa, Mikhayla masih terlalu muda dan wajar saja kerap berpikir seenaknya.


"Ini lebih dari sekadar itu, Khayla. Tanggung jawab, harga diri dan dendam harus tuntas malam ini. Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang mengusikmu hidup tenang," bisik Keyvan pelan tepat di telinga sang istri, pria itu kemudian menepuk bahu Mikhayla pelan sebagai ungkapan pamitnya.


"Aku pergi, kamu boleh tidur lebih dulu."


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2