Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 67 - Demi Cinta


__ADS_3

Realita tidak sesuai ekspetasi, jam tidur Keyvan yang kacau sejak tiga hari lalu membuatnya terlalu lelah dan tidak terjaga meski alarm di samping kirinya sudah berteriak sejak tadi. Hal sama juga dialami Mikhayla, wanita itu terlalu betah berada dalam pelukan sang suami hingga tepat pukul empat pagi dia masih bermimpi. Padahal, sengaja mereka mengatur alarm lima belas menit sebelum jam empat demi menyelamatkan sang suami dari Mikhail.


Tanpa mereka ketahui jika di luar Mikhail tengah dibuat panik lantaran pintu kamar putrinya dikunci dari dalam. Padahal, sejak kemarin hal itu sengaja tidak dilakukan karena memang Mikhail dan Zia akan memeriksanya ketika pukul empat, bukan untuk membangunkan Mikhayla melainkan memastikan putrinya tidur sebagaimana orang normal lainnya.


"Mikhayla ... kamu sudah bangun, Sayang?"


Mikhail mengetuk pintu beberapa kali, berharap akan ada jawaban dari sang putri. Lima menit berusaha namun hasilnya sama saja, dia menatap tajam Rani yang kini sama gusarnya lantaran khawatir dianggap lalai menjalankan tugas.


"Biasanya kunci di luar, yakin bukan kamu yang kunci pintunya, Ran? Coba ingat-ingat lagi," ucap Mikhail kemudian, berharap sekali jika sebenarnya yang lupa adalah Rani.


Mikhail ingat betul jika tadi malam posisi kunci kamar Mikhayla masih tergantung di luar, hal itu disengaja karena memang putrinya tidak boleh mengurung diri di kamar sendirian.


"Tidak, Tuan ... kemarin juga Nona Khayla tidak mau saya temani lagi tidurnya, jadi tadi malam saya tidak naik ke kamar ini lagi."


Mikhail tidak bisa marah kali ini, yang Rani ungkapkan juga masuk akal. Pria itu hanya menatap gusar Zia yang kini baru muncul dengan wajah bantalnya. Pagi-pagi suara Mikhail dan Rani sudah terdengar karena mereka memang cukup berisik.


"Kenapa, Mas?"


"Pintunya dikunci, kamu yang ambil kuncinya ya?"


Zia yang tidak tahu apa-apa jelas saja menggeleng, malam ini memang dia mempercayakan Mikhayla pada sang suami.

__ADS_1


"Berarti dia yang kunci, memang dasar anak nakal ... Mikhayla, Sayang!!"


Panggilan sayang tapi nada bicaranya seperti ngajak perang. Tidak hanya itu, Mikhail menggedor pintu sekaligus berniat menghancurkan pintunya. Zia yang kesal tiba-tiba mendaratkan pukulan di pundak sang suami karena khawatir Lengkara dan Ameera yang kamarnya di samping Mikhayla akan terganggu.


"Sabar sedikit, Mas ... sini biar aku yang panggilkan."


Mereka bergantian, bertukar posisi dan Zia memang lebih sabar dibandingkan jelmaan paus biru itu. Mikhail bersedekap dada dan sungguh dia segusar itu putrinya belum keluar juga.


"Ran, ambil kunci cadangan."


Kesal, selain itu dia juga khawatir putrinya kenapa-kenapa di dalam sana. Entah kenapa firasatnya buruk sekali, ingin sekali dia dobrak pintu ini hanya saja khawatir Zia marah dan melempar Mikhail ke laut mati.


Jika mereka di luar tengah berusaha membuka pintunya, sejak Mikhail menggedor pintu sekuat tenaga beberapa menit lalu Mikhayla dan Keyvan juga sama paniknya.


"Kemana ya?" gumam Mikhayla pelan sembari menimbang lagi keputusannya.


Wanita itu bahkan pucat pasi, khawatir sekali jika suaminya dipukuli sang papa pagi-pagi begini. Keyvan sebenarnya tidak terlalu takut, bahkan dia mengatakan lebih baik menampakkan diri saja. Akan tetapi, khawatirnya Mikhayla lebih besar dari keberanian Keyvan hingga pria itu pasrah begitu Mikhayla memaksanya bersembunyi di dalam lemari.


"Diam di sini ya, jangan bergerak dan tunggu aku selesai," titah Mikhayla seraya mengatur pakaian untuk menyamarkan tubuh sang suami.


"Sayang, panas ... kita mengaku saja, lagipula aku suami kamu bukan simpanan," ucap Keyvan meminta sekali lagi, berharap Mikhayla akan berubah pikiran.

__ADS_1


"Sebentar saja, tidak akan mati dikurung di sini ... Papa masih marah, kalau sampai dia tahu bisa-bisa kamu pulang memar semua," tutur Mikhayla menggeleng pelan, berbohong demi kebaikan dan keselamatan tidak ada salanya menurut Mikhayla.


"Tapi, Khay_"


"Shuut nurut sekali saja, sayang sama aku kan?" tanya Mikhayla dengan memperlihatkan mata bulatnya, tatapan penuh permohonan yang sama sekali tidak bisa Keyvan tolak keinginannya.


"Iy-iya, sana buka pintunya."


Demi Tuhan ini adalah cara bersembunyi paling cupu yang pernah Keyvan lakukan. Sempat ingin melompat dari balkon, hanya saja hal itu dia urungkan kala menyadari Bastian dan Rahman sudah berjaga di bawah sana.


Terpaksa, Keyvan harus menikmati perjuangannya ini. Beruntung saja isi lemari Mikhayla sudah sedikit berkurang pasca dia pindah rumah, akan tetapi tetap saja tubuhnya yang tinggi kesulitan jika harus terjepit begini.


"Sesulit ini memperjuangkan istri? Huft, kenapa kisahku seolah cinta tidak direstui," gumam Keyvan seraya menajamkan pendengarannya, jujur saja dia penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Eits!! Sebelum scroll likenya jangan ketinggalan. Aku up dua, jangan sampai ga adil ya, Bebeb💋


__ADS_2