
Seperti biasa, pagi-pagi Keyvan terbangun lebih awal meski tadi malam cukup melelahkan. Hanya saja, pagi ini sedikit berbeda lantaran dia tidak memiliki rencana untuk pergi ke kantor lantaran hari ini keluarga Mikhayla akan datang atas undangan Mikhail.
Sembari memandangi Mikhayla, pikiran pria itu melayang jauh dan menduga-duga bagaimana sikap pria yang bernama Syakil itu. Mikhail saja sudah meresahkan, lantas bagaimana dengan adiknya, pikir Keyvan cemas mereka akan sama gilanya.
"Aneh, dia tidak sebutral waktu itu tidurnya ... apa mungkin kelelahan ya?"
Keyvan tampak bertanya-tanya, tidur Mikhayla tadi malam begitu baik. Tidak ada drama menendang ataupun wajah Keyvan terkena pukulan tiba-tiba seperti biasa, sepertinya memang harus lelah dulu baru tidur normal seperti manusia pada umumnya.
Keyvan sudah mandi sejak tadi sebenarnya, hanya saja dia masih kembali naik ke tempat tidur dengan alasan masih ingin memandangi wajah cantik sang istri. Selelap itu dia terpejam, bahkan Keyvan menelusuri wajahnya dengan jemari Mikhayla tidak merasa terganggu sama sekali.
"Khay ... bangun, sudah siang."
Keyvan mengguncang pelan tubuh Mikhayla, hal yang sepertinya harus dia ajarkan ialah perihal bangun pagi. Sungguh, Mikhayla benar-benar semalas itu untuk bangun. Mungkin memang terbiasa manja sejak kecil, jelas kehidupannya akan berbeda dengan Keyvan yang memang diajarkan mandiri walau merupakan putra tunggal Wilantara.
"Mikhayla," bisik Keyvan mengusiknya, pria itu menepuk pelan wajah sang istri hingga terlihat jelas bahwa dia risih dan merasa terganggu.
"Eeuunghh."
"Bangun, nanti rezekinya diambil ayam."
__ADS_1
Mikhayla yang merasa terganggu kini membelakangi Keyvan hingga punggung putih nan mulus itu terpampang jelas di hadapan Keyvan. Akan tetapi, untuk pagi ini Keyvan tidak punya rencana untuk melanjutkan kegiatan semalam, trauma diawasi sang papa tadi malam.
"Sayang, bangun atau aku siram mau?"
Jahat sekali memang, Mikhayla berdecak sebagai bentuk protesnya. Dia lelah sekali sebenarnya, bahkan kantuknya belum hilang setengah. Kini, Keyvan sudah sibuk mengusik kenyamanan tidurnya.
"Lima menit lagi," ucapnya dengan suara serak namun matanya tetap terpejam dan tidak punya rencana untuk bangun segera.
Keyvan yang bosan sendirian tetap memaksa istrinya itu bangun, perlahan Keyvan merubah posisi tidur sang istri hingga telentang. Jika tidak bangun dengan cara baik-baik, maka dia akan coba dengan cara yang lain.
Keyvan menarik sudut bibirnya tipis kala berhasil menyibak selimut dan tampaklah kedua benda kenyal yang begitu pas dalam genggamannya di sana. Tanpa sedikitpun keraguan Keyvan mendekat dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Mikhayla yang mengira jika suaminya ingin bermain sebentar hanya mengabaikan dan pasrah menerima kala Keyvan bermain pelan puncak miliknya beberapa saat. Ya, meski Mikhayla tidak begitu menginginkannya, tetap saja rasa nyaman itu bersemayam dalam diri Mikhayla.
Sepertinya memang tidak punya niat untuk bangun. Baiklah, siap-siap, Khayla ... One ... Two ... Three!!
"Arrrgghh Papa!!!"
Keyvan benar-benar menggigitnya dan berhasil membuat Mikhayla menjerit sejadi-jadinya hingga kantuk itu hilang entah kemana. Mikhayla menarik rambut Keyvan yang masih menggigitnya persis bayi yang baru tumbuh gigi. Mata Mikhayla bahkan membasah akibat ulah Keyvan pagi ini, dia meringis dan tidak sengaja menarik telinga Keyvan demi menyelamatkan aset pribadinya.
__ADS_1
"Gila ya? Sakit, Evan!!" bentak Mikhayla setelah Keyvan melepaskan gigitannya, pria itu tersenyum dengan wajah tidak bersalah dan menatap santai Mikhayla yang kini mengelus aset bagian atasnya pelan-pelan.
"Masih ngantuk? Tidurlah lagi, masih pagi."
Memang benar-benar merusak suasana, Keyvan dengan santainya memerintahkan Mikhayla tidur lagi setelah niatnya membuat Mikhayla terbangun terkabul dalam waktu singkat.
"Sakit!! Coba sini rasain."
Tidak mau kalah, Mikhayla menarik paksa Keyvan dan tidak lagi peduli meski dia sepolos itu tanpa sehelai benangpun. Entah mengalah atau memang kalah, Keyvan tidak berontak begitu Mikhayla duduk di atas perutnya. Istrinya sebutral itu ingin membalas perbuatannya, Mikhayla menyikap baju kaos Keyvan hingga dadanya terpampang jelas.
Tanpa basa basi dia melakukan sebagaimana yang Keyvan lakukan padanya. Tanpa adanya modus ataupun kelembutan di awal, Mikhayla benar-benar murni balas dendam dan menggigit putting Keyvan dengan kekesalan yang luar biasa.
"Aaawww!! Ampun, Khay ... sakit sumpah," keluh Keyvan memang benar-benar sakit dan dia tidak bercanda sama sekali. Terpaksa dia bertindak karena Mikhayla tidak juga berhenti dan dia khawatir miliknya putus jika terlalu lama bertemu gigi runcing Mikhayla. Keyvan meraih pingang Mikhayla dan membuat posisi istrinya berada di bawah kekuasannya, bersamaan dengan itu gigitan Mikhayla terlepas tapi wajah sang istri masih dipenuhi dendam kesumat.
"Aku sudah mandi, Khay ... jangan buat aku mandi lagi karena kamu pagi ini." Keyvan mengunci tangan Mikhayla di atas kepala, pria itu mengabaikan rasa panas di bagian dadanya. Sungguh, dia benar-benar merasakan bagaimana kemarahan seorang wanita pagi ini.
"Kenapa aku? Salah sendiri kenapa bangunin pakai cara konyol begitu!" cerosos istrinya tidak terima dan megusir Keyvan dari tempat tidur segera.
"Karena kamu bangunnya susah, aku tidak betah sendirian menunggu, Khay ... hari masih pagi, aku tidak terbiasa karena ini bukan rumahku."
__ADS_1
"Ya salah sendiri bangun cepat, belum juga ada mataharinya udah bangun ... udah sana aku mau mandi. Om ditungguin Papa kan pagi ini? Sebentar lagi juga diketuk pintunya," tutur Mikhayla yakin sekali, karena biasanya jika Syakil dan Ibra akan datang di pagi hari karena sang kakek tidak suka membuang waktu.
- To Be Continue -