
Sebagaimana yang dia tekadkan, Keyvan tidak akan bertanya dan menekan mereka untuk mengaku, karena pada faktanya percuma.
Setelah memastikan sendiri bagaimana keadaan tadi siang melalui rekaman cctv, pria itu kini sudah menunggu di depan salah satu club malam yang dia ketahui sebagai rumah kedua seorang Leon, tidak sulit baginya untuk menemukan Leon di malam hari.
Berkamuflase seperti pria yang hendak mencari hiburan di malam hari, Keyvan masuk dengan tatapan tajam fokus ke sekelilingnya. Sudah lama dia tidak datang ke tempat ini, mungkin beberapa bulan sebelum menikah. Itupun dengan alasan untuk menjemput Liora yang biasanya menggila.
Alunan musik dan sorot lampu yang menyilaukan mata seakan tiada matinya. Matanya memerhatikan satu persatu di antara gerombolan manusia yang tengah menikmati kebebasan, butuh beberapa waktu hingga dia bisa menemukan pemilik tubuh tinggi yang tampaknya mengenakan hodie tengah berjoget sesuai alunan musik yang menggema.
"Nikmati hidupmu yang hanya beberapa menit lagi itu."
Leon terlihat sebebas itu, sementara Mikhayla saat ini mungkin tengah meringkuk di bawah selimutnya dengan didampingi Zia dan juga istri Wibowo. Beberapa mungkin berkhianat, tapi dia masih memiliki Wibowo yang tidak akan berulah. Selain karena pria itu memang sudah mendampingi Keyvan sejak remaja, usia Wibowo juga jauh lebih dewasa dari sekian orang-orang yang Keyvan punya.
Keyvan tidak akan semudah itu menerima apapun bentuk pengkhianatan. Kedua pengawal dan satu security serta Ratni yang pada nyatanya ikut berperan mempermudah jalannya Leon telah Wibowo ringkus atas perintah Keyvan.
Sikap Keyvan yang seakan menerima pembelaan diri mereka berhasil membuat orang-orang tersebut salah sangka. Tanpa mereka ketahui sama sekali, jika Wibowo bergerak secepat itu begitu mendapatkan perintah.
"Mike pergi, Tuan ... saya ingin memaksa mereka mengaku, tapi obatnya terlalu banyak ... salah satu dari mereka tampaknya overdosis."
Keyvan memejamkan mata, tampaknya Wibowo terlalu bersemangat hingga hal semacam ini bisa terjadi. Akan tetapi, untuk marah bukan saatnya dan Keyvan lebih memilih untuk fokus dengan Leon.
"Biarkan jadi tanggung jawabku, Kau urus saja mereka ... Keny sudah ada di sana?"
"Sudah, Tuan."
Keyvan menghela napas panjang, sejarah lama harus dia ulang. Sempat bertekad untuk meninggalkan dunia itu beberapa tahun lalu. Akan tetapi, saat ini tampaknya dia memang harus kembali. Sekalipun bukan nyawa yang hilang, akan tetapi saat ini harga diri Mikhayla dibuat serendah itu dan Keyvan tidak terima.
__ADS_1
"Tetap di saja ... jangan melakukan apapun sebelum aku datang," titah Keyvan sembari terus memandangi Leon dari jauh, semakin bahagia Leon semakin dalam kebencian Keyvan.
Keyvan memahami Leon sebagaimana dia memahami Liora, adik kakak itu memang sama saja. Bedanya Leon lebih bejjat lagi, dia tidak akan mampu menahan godaan dari wanita cantik sekalipun yang diberikan adalah racun.
Keyvan tersenyum tipis kala dia menyaksikan sendiri bagaimana pria itu menerima minuman yang sebelumnya Keyvan berikan pada wanita cantik bayaran Keyvan, semudah itu meringkus Leon.
.
.
.
.
Racauan Leon yang terdengar menjijikkan sama sekali tidak Keyvan abaikan. Pria itu membawa pergi Leon dari club malam begitu kasar, sama sekali tidak diperlakukan layaknya manusia. Sengaja Keyvan biarkan Leon tergeletak layaknya karung beras di kursi belakang, sementara dia melaju dengan kecepatan tinggi demi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Tidak butuh waktu lama bagi Keyvan tiba di tempat yang telah ditentukan. Justin sudah menunggu begitupun dengan Keny, sebuah gudang lembab yang sempat menjadi tempat penyelesaian masalah di masa lalu.
"Kau datang juga?"
"Hm, Keny yang memberitahuku ... kenapa kau selalu diam akhir-akhir ini, Van? Andai kau juga terbuka sejak awal, hal semacam ini tidak akan terjadi."
Justin masih sempat meluapkan kekesalannya. Beberapa tahun sebelum menikah, Keyvan memang memutuskan berhenti dari dunia semacam itu dan menjalani peran sebagai manusia normal. Hal itulah yang membuatnya memilih orang baru sebagai kepercayaan dan Justin hanya bisa menerima keputusan Keyvan kala itu.
"Hentikan, hal semacam itu bisa kita bicarakan nanti, Justin ... sekarang, seret badjingan itu masuk ke dalam."
__ADS_1
Selalu saja Keny menjadi penengah, Justin yang memang tersulut amarah jelas saja melakukan apa yang Keny perintahkan dengan segera. Pria itu membuka pintu mobil dan menarik tubuh Leon dengan kasarnya, persis sampah tidak berguna pria itu terkulai lemas kala Justin menariknya dari ujung kaki.
"Van, kau yakin kita akan melakukan hal ini lagi?" tanya Keny sedikit ragu kala Keyvan melemparkan jaketnya, beberapa senjata tajam dia letakkan di atas meja.
"Yakin, kenapa kau ragu?" tanya Keyvan sembari mengarahkan senjata api ke arah pria yang kini berdiri dengan kaki dan tangan teringat rantai besi, memposisikan peluru tepat di jantungnya, setelah itu dia mengembalikan pistolnya ke atas meja.
"Kenapa tidak jadi, Van?"
"Nanti saja, terlalu cepat jika matinya dengan cara begitu." Jeritan seseorang yang menangis kala kukunya tercabut sudah lama tidak dia dengar, dan Keyvan butuh itu.
"Good, ini Evan yang kami kenal ... seharusnya dari dulu kau tetap begini, ingat rasa haus seorang pengkhianat tidak akan berhenti sebelum mereka minum darahnya sendiri, Van."
Justin bicara dengan tatapan tajamnya, malam ini dia begitu bangga kala Keny mengatakan Keyvan akan mengobati kerinduannya. Ya, bagi mereka menyelesaikan masalah semacam ini tidak perlu melibatkan pihak berwajib, karena hidup ketiganya bukan penganut aturan melainkan menciptakan hukum sendiri.
- To Be Continue -
Hai-hai, sebelum aku lanjut aku ingin mengungkapkan sesuatu. Tiga episode terakhir komentarnya membludak, banyak sekali bahkan aku tidak berani baca karena sekalinya baca komentarnya seakan membuat isi ceritanya cacat logika.
Kenapa demikian?
Pertama, ada beberapa komentar yang mempermasalahkan cctv padahal dia kaya. Lalu yang lebih parah lagi mengatakan jika karakternya sok berkuasa tetapi dikhianati dan ini tidak seharusnya. Hei, sini deh aku bisikin😂 Mau sebesar apapun kuasanya orang, pengkhianat itu sangat mungkin sekali. Apalagi di sini membawa perihal hati, jelas saja bisa. Oh iya, yang berkhianat di sini hanya pengawal dan pembantunya di rumah, bukan tangan kanan pemeran utama (Wibowo).
Satu hal yang perlu aku sampaikan, hal-hal yang sudah buat kalian resah itu belum termuat di satu episode ya karena belum waktunya, sabar ya. Semua sudah aku pikirkan.
Mohon bijak dalam berkomentar💋 terima kasih❣️
__ADS_1