Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 112 - Wanita Terakhir


__ADS_3

Hari ke hari kehidupan Keyvan kian sempurna, pria itu terbangun dikala matahari sudah meninggi. Ya, tadi malam memang ada drama sedikit, Mikhayla menangis hampir satu jam lantaran mimpi Keyvan menikah lagi. Hanya mimpi, sebuah hal yang diakibatkan dia lupa cuci kaki itu benar-benar membuat runyam hingga tengah malam Keyvan harus menidurkan dia terlebih dahulu.


"Hoam."


Pria itu menguap seraya menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Baru Keyvan sadari jika kini tidak ada lagi Mikhayla di sisinya, mungkin sekali istrinya itu sudah terbangun. Nyawa Keyvan belum terkumpul seluruhnya, dengan mata yang masih luar biasa mengantuk dia keluar kamar dan mencari dimana istri kecilnya berada saat ini.


Aroma masakan menyeruak indera penciumannya, harum dan ini sangat menggoda. Tidak biasanya Rani memasak dengan aroma yang sebegitu menggoda seperti ini, antara sadar dan tidak sadar, langkah Keyvan tertuju ke dapur.


Benar saja, dari jarak beberapa langkah dia menatap pemandangan yang luar biasa manis di depan sana. Istrinya tengah berusaha menyiapkan sarapan dengan didampingi Rani di sana, walau memang tugasnya pasti hanya mengaduk-ngaduk dan memasukkan bumbu sesuai arahan wanita itu.


"Apinya kecilin, Nona."


"Segin_ ealah mati." Mikhayla terkejut sekaligus bingung, dia memang tidak bisa apa-apa di dapur. Mengatur besar kecilnya api dia belum bisa, akan tetapi niatnya untuk menjadi istri sempurna tidak akan berhenti hanya karena hal semacam itu.


"Sini Mbak hidupin lagi."


"Khayla aja, Mbak Rani cukup lihat saja ... kalau misal salah baru larang," ucapnya seraya berusaha menghidupkan kompor itu, sebenarnya tidak sulit hanya Mikhayla saja yang bingung.


"Jangan Non!! Biar Mbak saja!!"


Sama seperti Keyvan, Rani juga khawatir hangus terbakar jika Mikhayla sudah berada di dekat kompor. Bukan tanpa alasan, biasanya memang tangan ajaib anak itu kerap merusak segala sesuatu yang berhubungan dengan api maupun listrik.


"Kapan aku bisanya kalau dilarang melu_"

__ADS_1


"Sayang." Mikhayla sontak menarik napas dalam-dalam kala sepasang tangan melingkar di perutnya dari belakang disertai suara berat Keyvan yang baru bangun tidur.


Sama sekali Keyvan tidak menganggap keberadaan Rani di sana, Mikhayla yang kini malu hanya bisa diam dan tidak berkutik ketika Keyvan mengecup wajahnya beberapa kali.


Semakin mesra Keyvan, semakin membuat Rani sadar diri dan segera menjauh tanpa meminta izin lebih dahulu. Memang, jika majikan baru menikah ujiannya sedikit berbeda.


"Kamu sedang apa?" tanya Keyvan lembut, tangnnya mengelus pelan perut Khayla sembari sesekali kecupan itu berpindah ke pundaknya.


"Anak TK saja tahu aku masak, kenapa masih ditanya."


Yayaya, memang benar salah Keyvan bertanya dan Keyvan bertanya pada orang yang salah. Tidak seharusnya Keyvan melontarkan kalimat itu pada Mikhayla karena memang biasanya jawaban yang dia berikan akan sedikit di luar dugaan.


"Hahah, masih marah? Itu hanya mimpi, Khayla."


Mikhayla sudah berusaha lupa, hanya saja kembali Keyvan ingatkan dan hal itu berhasil membuat pikirannya kembali kacau luar biasa. "Bukan marah, aku hanya takut saja." Mikhayla berbalik dan dia menatap manik indah Keyvan yang sedikit merah itu.


"Demi Tuhan aku berjanji, sampai akhir hanya kamu wanitaku."


Keyvan mengecup bibirnya lembut, tadi malam dia merengek, pagi ini terlihat lebih bisa dikendalikan. Keyvan tersenyum kemudian, senyum Khayla terlalu dia rindukan. Jelas saja hal semacam ini membuatnya bingung, karena memang Mikhayla sesedih itu perkara mimpi buruk yang dia alami.


"Kamu tidak mual hari ini, Sayang?"


"Mual, tapi tidak terlalu parah."

__ADS_1


Keyvan terpaksa bertanya karena memang dia kehilangan beberapa jam momen di pagi hari bersama Khayla. "Aku terusin dulu, nasi gorengnya jadi dingin padahal selesai saja belum," ujar Mikhayla mencebikkan bibirnya, melihat istrinya akan kembali bergerak sesigap itu Keyvan mengambil alih tugasnya.


.


.


.


Beberapa hari terakhir, Keyvan mendapat julukan Teladan oleh Justin dan Keny. Tepatnya telat datang pulang duluan, hanya saja mereka tidak mempermasalahkan itu. Wajar saja jika Keyvan harus benar-benar memperhatikan sang istri yang diketahui tengah hamil enam minggu, Justin yang kini tengah menikmati kebebasannya seorang diri dan tentu habis hanya menikmati hidupnya.


"Wuih calon Papa bawa bekal, dimasakin istri?" tanya Keny menyambut kedatangan Keyvan yang baru tiba hampir jam 11 siang, bisa dipastikan pria itu hanya datang untuk makan setelah itu pulang tanpa dosa seperti biasa.


"Oh iya tentu saja, mana mungkin istri pria lain," jawab Keyvan asal dan memang selalu berhasil membuat Keny menyesal bertanya, sudah bicara baik-baik jawabannya selalu setengah hati.


"Oh iya, Van ... beberapa jam lalu Tuan Arga datang mencarimu," ujar Keny mengalihkan pembicaraan yang sedikit berbobot kali ini, hal itu memang sontak menarik perhatian Keyvan segera.


"Mau apa?"


"Istrinya masuk rumah sakit, beliau berpesan agar kau bersedia menjenguknya."


Berita duka yang tidak begitu dia harapkan, akan tetapi tidak sedih juga. Keyvan menatap datar Keny kemudian kembali melangkah menuju ruangannya. "Kenapa bisa?"


"Kecelakaan tunggal, mungkin Tuan Arga terdesak keadaan makanya menghubungimu," ujar Keny mengutarakan kemungkinan paling besar yang dia duga.

__ADS_1


Sama sekali Keyvan tidak akan bersedia menjenguknya. Sekalipun yang Arga minta adalah bantuan dia mungkin hanya akan meminta Wibowo menyerahkannya. Bagaimana Henia yang sempat mencaci maki sang istri membuat Keyvan enggan menatap wanita itu.


- To Be Continue -


__ADS_2