
Keyvan tidak ingin memperkeruh keadaan dengan melibatkan Mikhail dalam hubungan. Walau sebenarnya saat ini dia bahagia tak terkira kala Mikhayla justru terlihat menginginkan buah hati dalam pernikahan mereka. Hanya saja, ucapan Mikhail memang perlu dia pertimbangkan.
"Kamu masih terlalu muda, Khay ... aku khawatir jika kamu hamil di usia semuda ini." Keyvan berusaha memberikan penjelasan selembut mungkin tanpa memojokkan Mikhail sama sekali.
"Khawatir karena terlalu muda, tapi diterobos perawannya tidak masalah ya? Apa aku hanya sekadar boneka sek*s bagimu? Cih sebatas pelampiasan naffsu begitu? Dasar laki-laki."
Keyvan terhenyak kala Mikhayla berucap demikian. Wajahnya memanas seketika dan entah kenapa rasanya dia benar-benar ingin marah, Mikhayla beranjak dan hendak berlalu keluar kamar hingga Keyvan tidak bisa menahan amarahnya.
"Mikhayla!! Berhenti di sana!!"
Untuk kali kesekian dia membentak sang istri seraya menarik paksa pergelangan tangan Mikhayla hingga tubuh mungilnya membentur dada.
"Jaga mulutmu, sudah kukatakan jangan pernah ucapkan kalimat tidak berguna, Mikhayla." Dada Keyvan terasa sesak dan jiwanya kini benar-benar memanas, ucapan Mikhayla membuat harga dirinya sebagai suami jatuh begitu saja.
"Aku bicara fakta, jika memang menganggapku sebagai istri harusnya tidak panik hanya karena lupa pakai pengaman!!" bentak Mikhayla meluapkan rasa sakitnya, meski dia tampak biasa saja tapi paniknya Keyvan tadi siang membuat hatinya tergores tanpa sengaja.
"Lalu maumu apa? Hamil? Jika memang dengan cara itu kamu berhenti menyebutku melampiaskan naffsu aku tunjukkan, Mikhayla."
Dalam keadaan hati panas lantaran amarah yang menguasai dirinya, Keyvan menarik paksa Mikhayla dengan kasarnya ke tempat tidur.
Pantang ditantang, Keyvan paling tidak suka dinilai seburuk itu padahal niatnya sama sekali tidak begitu. Tidak peduli meski Mikhayla baru selesai mandi atau apapun itu, Mikhayla yang berusaha memberontak semakin membuatnya menggila sore ini.
"Diam!! Kamu menginginkan anak dariku, 'kan? Let's play, Honey ... dengan senang hati aku penuhi keinginanmu."
"Lepas!! Jangan gila ya ... aduin Papa tahu rasa nanti," ancam Mikhayla namun sama sekali tidak Keyvan abaikan dan menepis tangan Mikhayla yang berusaha menutupi bagian inti miliknya.
__ADS_1
"Papa!!"
"Adukan saja, kita buktikan apa Papamu akan tetap marah jika mengetahui akar permasalahannya." Keyvan yakin seratus persen jika Mikhail megetahui sebabnya jelas tidak akan marah pada Keyvan melainkan pada putrinya sendiri.
Beberapa menit lalu keduanya begitu hangat, semudah itu Keyvan marah akibat ucapan asal ceplos dari Mikhayla. Tidak peduli meski istrinya hendak menangis, yang terpenting saat ini dia ingin menunjukkan jika dugaan Mikhayla sama sekali tidak benar.
Tidak ada dessahan ataupun rinttihan kenikmatan kali ini. Yang ada hanya isak tangis Mikhayla, meski Keyvan tidak menyakiti dengan menampar atau memukulnya. Namun, saat ini dia memang sedikit berbeda dan Mikhayla dibuat takut seketika.
Jika ditanya apa Mikhayla menikmatinya, jelas saja tidak. Semua hal manis itu tertutup ketakutan yang mencengkam bahkan dia merasa tidak mengenali suaminya sendiri. Tubuhnya bergerak seirama dengan hentakan Keyvan menunjukkan betapa pasrahnya dia, Mikhayla memalingkan wajah kala tatapannya tertangkap manik indah Keyvan yang kini tengah berkuasa di atas tubuhnya.
"Jangan menangis, ini yang kamu mau ... jangan menyalahkanku suatu saat nanti, Khay."
Keyvan menyeka air mata Mikhayla yang berurai di pelupuk matanya, sungguh dia tidak sengaja dan sama sekali tidak menduga jika akan membuat istrinya menangis sore ini.
.
.
.
"Bisa-bisanya dia tidur tanpa dosa begitu," gumam Mikhayla begitu pelan namun masih terdengar jelas oleh Keyvan hingga pria itu menarik sudut bibirnya.
Mikhayla yang sedikit sebal kini tidur membelakangi sang suami dan tidak berpikir untuk mandi lebih dahulu karena dia memang lelah luar biasa. Baru juga beberapa menit Mikhayla tidur dengan posisi itu, Keyvan memeluknya dari belakang dengan selembut itu.
"Maaf, Khay ... aku terpaksa marah dengan cara ini agar kamu mengerti."
__ADS_1
Keyvan mengecup pundak polosnya begitu tulus, sungguh dia benar-benar tidak memiliki rencana akan marah sore ini, sama sekali tidak ada. Kesabaran Keyvan diuji dengan kehadiran sang istri yang memiliki pikiran dan dugaan sejahat itu dalam menilai orang lain.
"Tidak ada pria yang menjadikan istrinya pelampiasan, apalagi hanya pemuas naffsu, Khay ... otakmu terkontaminasi drama tidak berguna itu sepertinya," tutur Keyvan melawan rasa kantuk yang sejak tadi menyerangnya, akan tetapi jika dia tidak bicara khawatir saja Mikhayla akan semakin marah dan tidak akan peduli padanya hingga esok atau lusa.
"Mungkin saja ... tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kecuali gigit kepala sendiri."
Keyvan tidak kuasa menahan tawanya usai mendengar ucapan Mikhayla yang dia sendiri bingung itu di dapat dari mana. Padahal suasana belum baik-baik saja dan Mikhayla berhasil membuat suasaa hangat seketika.
"Dapat dari mana kalimat semacam itu?"
"Papa," jawab Mikhayla seadanya dan dia tidak berontak ketika Keyvan kembali menarik tubuhnya demi mengikis jarak di antara keduanya.
Keyvan sejenak terdiam, dia kembali mengingat ancaman Mikhail jika sampai nekat membuat Mikhayla hamil di bawah 21 tahun. Akan tetapi di sisi lain, Mikhayla membuatnya menentukan pilihan sendiri.
"Sayang."
"Kenapa?" tanya Mikhayla singkat dan enggan banyak bicara untuk saat ini.
"Sakit?"
Mikhayla diam membisu, dia memang tidak merasakan sakit yang separah itu, hanya saja memang kali ini Keyvan tidak selembut biasanya dan Mikhayla tidak habis pikir dibuatnya.
"Khay, aku tanya ... kalau memang sakit balas semaumu," ujar Keyvan menawarkan diri padahal dada dan lengannya bahkan berdarah akibat gigitan Mikhayla di awal pemaksaannya.
"Tidak perlu, besok aku telpon om Babas saja kalau memang minta aku membalas," ucap Mikhayla berhasil membuat Keyvan tersedak ludah, dia ingat jelas bagaimana kejamnya Babas dari cerita sang istri beberapa waktu lalu.
__ADS_1
- To Be Continue -