
"Zavia."
"Ih Papa!! Ketuk pintu dulu kan bisa, kalau lagi ganti baju gimana coba?!"
Jantung Mikhayla seakan pindah dari tempatnya kala Mikhail membuka pintu tanpa aba-aba. Terlalu bahagia lantaran baru saja mendapatkan cucu Mikhail lupa jika putrinya juga butuh privasi, beruntung saja Mikhayla sudah selesai ganti baju karena memang dia yang manja kerap meminta Keyvan membenarkan kaitan branya.
"Khayla." Keyvan secepat mungkin menarik sang istri lantaran hal seperti tadi sedikit dikhawatirkan menyinggung hati Mikhail.
"Ini toa masjid teriak-teriak, persis tarzan kamu begitu ... Papa mau ketemu Zavia, bukan kamu."
Faktanya, jangankan tersinggung melainkan dia semakin berupaya membuat putrinya kian marah. Wajah Khayla memerah lantaran memang terkejut kala wajah Mikhail muncul tiba-tiba di balik pintu.
"Zavia bayi Khayla, kalau tanpa izin Khayla tetap tidak bisa dong," ungkap Khayla dan hal itu sama sekali tidak akan membuat Mikhail terpengaruh. Pria itu tetap melangkah maju dan bersiap membawa Zavia.
"Ih Papa, dia baru tidur jangan diusik dulu."
"Papa cuma sebentar, jam 10 Papa ke kantor ... janji," ungkapnya kemudian berlalu tanpa dosa dan membawa cucunya pergi. Meninggalkan Mikhayla yang sekesal itu karena dia baru saja ingin menggendongnya juga.
"Ck, seharusnya aku ajak Mama hamil juga kemarin."
Dia menatap sedih Keyvan dan seperti biasa tugas pria itu harus menenangkan istrinya juga. Memang tidak menangis, tapi bisa dipastikan saat ini Mikhayla sangat butuh ditenangkan. "Papa egois memang, kita kapan pulangnya? Kalau tetap di sini, Zavia seperti bukan bayi kita."
"Nanti, Papa juga tidak 24 jam ... Zavia kan tidurnya sama kita, Papa cuma sampai jam 10, Sayang tidak lama," ungkap Keyvan seraya menarik sang istri dalam pelukan, sebagai suami dan menantu dari keluarga ini dia memang tidak punya kuasa lebih untuk melarang Mikhail.
__ADS_1
"Tapi tetap saja lama, kemarin juga begitu ... Papa kan bohong terus, jam 10 apanya, 10 malam mungkin."
Sejak kapan Mikhail bisa dipercaya, perkara janji begitu papanya memang terkenal pembohong dan hal itu telah terjadi sejak lama bahkan Kanaya menjuluki papanya sebagai berhala yang jika dipercayai maka akan berdosa.
Sebenarnya Keyvan juga sedih, tapi melihat Mikhayla yang begini dia justru terkekeh dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Demi apapun dia merasa terhibur sekali dengan pertikaian antara Mikhail dan Mikhayla yang sudah berlangsung sejak awal putrinya lahir ke dunia.
"Jangan marah-marah, apa mau punya bayi lagi supaya tidak rebutan begini?"
"Nanti saja, melahirkan tidak semudah yang kukira ... sakit," ujar Mikhayla membayangkan bagaimana tubuhnya seakan ditusuk ribuan jarum ketika berjuang melahirkan Zavia.
"Kamu menyesal?"
"Tidak, mana mungkin aku menyesal," ungkap Mikhayla merebahkan tubuhnya di sisi Keyvan, dia menatap langit-langit kamar kemudian beralih pada suaminya.
"Kamu kenapa?"
"Itu tidak ada apa-apanya, lagian yang itu tidak sakit tapi nagih rasanya." jawabnya santai dan lagi-lagi Keyvan terkekeh mendengar jawaban sang istri, memang benar tampaknya dia salah bertanya pada wanita ini perihal arah yang iya-iya begitu.
"Siallan jawabanmu." Keyvan menenggelamkan wajahnya di perut Mihkayla pelan-pelan, meski sudah merindukannya tetap saja Keyvan harus berhati-hati.
"Perutnya masih sakit?"
"Tidak, cuma paling masih suka pusing sedikit-sedikit," ungkap Mikhayla jujur seraya menyisir rambut Keyvan yang mulai panjang dengan jemarinya.
__ADS_1
"Pusing? Apa memang begitu?"
"Mungkin karena kurang tidur saja, jangan khawatir hal semacam ini wajar-wajar saja," tutur Khayla pelan lantaran paham jika sang suami terlampau khawatir padanya.
"Kalau ada apa-apa jangan diam ya, katakan padaku apapun itu," titah Keyvan khawatir jika sang istri akan berpikir lebih baik menyembunyikan apa yang dia rasa.
"Iya, kan sudah aku bilang kemarin agak pusing sama ini perih, Zavia nyiksa kalau nyusu," keluhnya seakan tengah konsultasi pada sang suami, satu keluhan yang memang dia rasakan sejak awal adalah perih di bagian puttingnya, walau memang perlahan terbiasa tapi tetap saja terkadang Mikhayla hampir menagis rasanya.
"Mana coba lihat," ucap Keyvan meminta Khayla membuka pakaiannya, baru saja hendak terbuka pintu kembali diketuk dan itu sontak membuat Mikhayla bersembunyi di balik tubuh Keyvan.
"Pasti malaikat itu lagi," bisiknya kemudian, Keyvan yang kini sedang waras terpaksa mengalah terpaksa beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
"Maaf, Tuan ... ada paket untuk Non Khayla," ujar Rani menyerahkan satu buah kotak ukuran sedang berbungkus rapi yang baru saja dia terima dari kurir beberapa saat lalu.
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya, Tuan," ungkap Rani dan entah kenapa pikiran Keyvan sama sekali tidak jernih lagi, terutama jika dia mengingat Khayla tidak lagi punya teman yang dekat dengannya.
"Ya sudah terima kasih," ucap Keyvan sebelum kemudian masuk ke kamarnya.
"Sayang? Kamu pesan donat ya?"
"Donat dengkulmu," gumam Keyvan kini menutup pintu dan menghampiri sang istri, Keyvan pikir setelah melahirkan akan bertobat, nyatanya tetap saja semarah apapun dia tetap ingat dengan donat.
__ADS_1
- To Be Continue -
Hai guys jadi aku tadi heran kan kok ga ada tulisan upnya di novel😂 Ternyata aku memang belum up, lupa beneran kalau ternyata aku tu up semalem. Aku pikir dianya tetap nongol up di hari ini🤣 Sorry ya, jadi beneran untuk kali ini aku ga up karena lupa. Maklum udah tuaa