
Selalu saja ada hal tak terduga yang Mikhayla alami semenjak menikah. Ya, salah satunya adalah mandi lebih dari satu kali. Tidak hanya itu, Keyvan memperlakukannya persis balita yang belum bisa mandi sendiri. Alasannya sederhana, demi menghemat waktu karena istrinya mandi selalu lama entah bagian mana yang Mikhayla gosok.
Pada prakteknya tidak demikian, justru semakin lama ketika Keyvan ikut campur perkara mandi Mikhayla. Hendak menolak juga percuma karena Keyvan tidak pernah menerima penolakan kecuali dia yang memutuskan untuk tidak menyentuh sang istri lebih dulu.
"Sampai kapan kita berendam begini?" tanya Mikhayla pelan karena sudah hampir tiga puluh menit keduanya berendam berdua di bathup dengan keadaan sama-sama polos, jujur saja terkadang Mikhayla masih merasa malu dengan keadaan seperti ini di hadapan sang suami.
"Risih?" tanya Keyvan tanpa membuka mata dengan tangan memeluk sang istri yang kini duduk di pangkuannya.
"Bukan begitu, tapi mandinya kelamaan ... nanti keriput," ucap Mikhayla hati-hati dan memang dia mengkhawatirkan bagian intinya, sejak tadi dia sudah merasakan dingin berendam di genangan air penuh dengan busa yang menggunung itu. Heran juga, Keyvan sudah berapa lama tidak mandi sampai harus menikmati hari libur dengan cara yang begini.
"Apanya keriput?" tanya Keyvan membuka matanya, ucapan Mikhayla terlalu ambigu hingga dia berpikir ke arah yang tidak seharusnya.
"Jari-jariku lihat ... keriput kan?"
Mikhayla memperlihatkan jemarinya yang memang tampak berkerut karena kedinginan. Dia memang kerap mandi lama tapi tidak berendam seperti ini, sementara ritual mandi bersama Keyvan sedikit berbeda dan hal ini membuat Mikhayla sedikit terkejut.
"Lalu?"
Menyebalkan sekali, Mikhayla berdecak sebal karena Keyvan seakan tidak peduli meski jemarinya tidak lagi seperti manusia normal pada umumnya. Jika jemarinya saja begitu lalu bagaimana yang lain, pikiran Mikhayla sudah tidak waras lagi.
"Malah balik tanya, sudah selesai mandinya ... aku kedinginan, kalau jariku saja keriput bagaimana yang lainnya?"
"Maksudmu?"
Keyvan menarik sudut bibir, tampaknya paham bagian mana yang Mikhayla khawatirkan. Pria itu beranjak tanpa meminta sang istri berdiri lebih dulu. Ya, untuk ukuran tubuh Mikhayla tidak begitu memberatkan bagi Keyvan.
Keduanya kini berdiri di bawah guyuran air, ini adalah agenda paling akhir dalam acara mandi mereka. Berusaha bersikap biasa saja meski sadar siapa yang kini berada di sampingnya, Mikhayla tidak ingin terlalu lama dan tidak peduli dengan Keyvan yang masih terus memandanginya.
Disaat fokus membilas rambutnya, Mikhayla terkejut kala pria itu mendorong tubuhnya hingga menunduk beberapa derajat. Firasat Mikhayla semakin tidak baik-baik saja kala Keyvan menyentuh pahha bagian dalamnya.
Benar saja, tanpa aba-aba Keyvan kembali melakukan hal gila yang membuat Mikhayla menggigit bibirnya kuat-kuat. Mikhayla hanya memiliki dinding sebagai tumpuan, Keyvan yang terus menghentaknya berkali-kali membuat Mikhayla sedikit khawatir tubuhnya tidak mampu karena ini baru pertama kali Keyvan mencari kesenangan dengan posisi ini.
__ADS_1
Suara yang tiga puluh menit lalu memenuhi kamar tidurnya, kini bersahutan di kamar mandi dan tentu saja lebih menggema. Apa yang istrinya miliki memang begitu candu hingga Keyvan tidak bisa untuk menahannya jika sudah bersama, apalagi dengan keadaan yang begini.
Mikhayla tidak sekuat itu untuk terus bertahan dengan posisi yang Keyvan tentukan tanpa persiapan. Melihat istrinya sedikit kesulitan, pria itu menghentikannya beberapa detik untuk mengubah posisi Mikhayla agar menghadapnya.
"Are you okay, Baby girl?"
Napas Mikhayla yang berderu cepat tidak bisa menjawab dengan tenang pertanyaan sang suami, mereka di bawah guyuran air tapi yang Mikhayla rasakan tetap saja gerah dan sedikit lelah.
Sayangnya, niat Keyvan bukan untuk berhenti melainkan cari posisi. Pria itu mengangkat tubuh mungil sang istri dan meminta Mikhayla melingkarkan kaki di pingangnya, Mikhayla yang juga sebenarnya terbakar gelora asmara menurut begitu saja seraya memeluk erat tubuh sang suami.
"Good girl," puji Keyvan seraya kembali membuat milik istrinya terasa sesak, untuk hal semacam ini dia sedikit egois dan tidak menunggu Mikhayla siap atau tidak.
Dessahan dan rinttihan kenikmatan yang keluar dari bibir istri kecilnya lebih jelas terdengar, Keyvan kian tertantang dan menganggap suara sang istri adalah tingkat keberhasilannya sebagai suami.
Mikhayla kian menggila dan akan selalu berhasil menggoreskan luka di pundak Keyvan kala tubuhnya dibuat bergetar seolah aliran listrik mengalir di sekujur tubuhnya. Sungguh, Keyvan benar-benar berhasil membuatnya terbang dan mendapat kenikmatan yang tidak akan pernah dia dapatkan dari pria lain.
Keyvan adalah pria yang sangat berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kini, libur yang sebenarnya tidak terduga antara keduanya Keyvan anggap sebagai bulan madu tentu saja.
Pria itu menatap wajah lemas Mikhayla yang bahkan membuka mata saja tidak kuasa, bukannya kasihan Keyvan justru menarik sudut bibir menatapnya. Pria itu kembali meraup sekilas bibir sang istri sebagai isyarat dia akan menuntaskan hasrratnya.
"Aaakkh, belum selesai?" tanya Mikhayla dengan suara lemah ketika Keyvan kembali menggerakkan tubuhnya. Tanpa menjawab dengan suara Keyvan akan memperlihatkan dengan tindakan yang kali ini merupakan puncaknya, pria itu mengerang kala merasakan miliknya hendak menyiram lahan subur di bawah sana.
Keyvan menurunkan sang istri perlahan, napasnya keduanya masih belum stabil. Pria itu merengkuh tubuh sang istri sebelum kemudian benar-benar mandi, tidak ada niat mencuri kesempatan lagi karena memang dia juga lelah.
"Aku sendiri saja, sini." Mikhayla yang khawatir akan dihajar untuk ketiga kalinya menolak bantuan Keyvan untuk membersihkan tubuhnya.
"Jangan membantah, aku yang lakukan."
"Hanya mandi, aku tidak mau mandi tiga kali," celetuk Mikhayla dengan wajah cemberut dan berhasil membuat perut Keyvan tergelitik kemudian.
"Janji, hanya mandi," ucapnya kemudian masih sempat mencuri kecupan di bibir dan itu sungguh membuat Mikhayla ingin marah.
__ADS_1
.
.
.
Setelah pertempuran dadakan itu, Mikhayla kini mengeringkan rambutnya. Sementara Keyvan kini sudah tampak segar dengan celana pendek dan kaos putih yang begitu pas dengan tubuhnya.
Dari kejauhan dia memandangi sang istri yang sibuk sendiri dengan hair dryer demi membuat rambutnya lebih cepat kering tentu saja. Dengan langkah pasti Keyvan menghampiri sang istri dan berdiri tepat di sampingnya.
"Cari apa?" tanya Mikhayla tanpa menatap suaminya sama sekali, Keyvan tidak berniat mencari apapun. Dia hanya ingin memperhatikan istrinya dari dekat, itu saja.
"Tidak ada," jawabnya singkat, pria itu memang begitu irit bicara dan seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Selesai Mikhayla dengan urusannya, pria itu diminta duduk dan sang istri sedikit memaksa. Kening Keyvan berkerut dan pria itu bingung kenapa istrinya tiba-tiba begini.
"Kamu mau apa?"
"Keringkan rambutnya, pakai handuk lama." Tanpa peduli Keyvan terima atau tidak Mikhayla mengeksekusinya sembari sengaja sedikit ditarik-tarik demi membalaskan dendamnya ketika di kamar mandi.
"Aarrghh, Khay sakit ... sengaja?" tanya Keyvan menyadari istrinya sedikit berbeda bahkan kulit kepalanya terasa sakit.
"Satu sama, aku juga begitu di kamar mandi tadi. Bahkan lebih lama dan tariknya lebih kasar ... seperti ini!!" jawab Mikhayla sembari terus mengeringkan rambut Keyvan dengan sedikit tenaga dalam.
"Awas saja, di lain kesempatan rambutmu yang lain aku tarik juga."
"Silahkan, kita lihat siapa yang bertahan sampai akhir ... aku tarik juga labu airmu sekalian!!" Sejak kapan Mikhayla memiliki rasa takut yang sesungguhnya, sama sekali tidak.
"Labu air?"
Labu air? Sejak kapan dia punya, pikir Keyvan berusaha berpikir jernih karena Mikhayla masih terus menarik rambutnya meski memang niat awal mengeringkan rambut.
__ADS_1
- To Be Continue -
Votenya jan lupa cintakuđź’‹ Istri online Keyvan mohon kerja samanyađź’‹