Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 103 - Pantang Dipuji


__ADS_3

Niat hati hanya fitting baju pengantin, nyatanya mereka benar-benar pulang ketika Keny bisa memeluk bayinya. Walau memang begitu panjang drama hari ini dan sang istri butuh perawatan, akhirnya kehadiran malaikat kecil itu mengobati kekhawatiran ketiga pria dewasa itu.


"Aku harus pulang, Ken ... istriku tidak boleh terlalu lelah, bisa sendiri, 'kan?"


Keyvan mengerti meski Mikhayla selalu mengatakan dia baik-baik saja. Akan tetapi, wajah lelahnya tidak dapat disembunyikan. Apalagi, saat ini sang istri tengah hamil muda, jelas saja Keyvan harus benar-benar menjaganya.


"Terima kasih banyak, Van. Maaf merepotkan."


Memang benar-benar merepotkan, Keny dan Sonya hanya berdua tanpa kehadiran keluarga dari pihak manapun. Pernikahan tanpa restu yang mereka jalani benar-benar berakhir sesunyi ini, hal itulah yang menjadi alasan kenapa Justin dan Keyvan rela mengorbankan waktu untuk menemani pria itu di rumah sakit hingga tuntas.


"Santai saja, soal biaya Justin yang tanggung jawab."


"Heh? Kenapa aku?"


Justin yang sejak tadi diam sontak bersuara. Yang benar saja jika sampai dirinya harus kembali keluar uang, kemarin saja saldonya terkuras dalam jumlah besar pasca Keyvan meminta sebuah penthouse sebagai hadiah menang taruhan.


"Kau lupa sembilan bulan lalu bilang apa? Biaya rumah sakit jika Sonya melahirkan anak perempuan adalah tanggung jawabmu, dan sekarang lihat sendiri?"


"Ya tapi kan? Ays!! Iya-iya aku yang bayar," kesal Justin benar-benar menyesali setiap ucapannya yang kerap kali taruhan hanya demi keberhasilan seseorang.


Sahabatnya yang berkeluarga tapi Justin yang menangung biayanya. Lebih menyebalkannya lagi, Keyvan memilih rumah sakit terbaik di ibu kota hingga membuat Justin sedikit sakit kepala, bisa jadi biaya persalinan dan perawatan Sonya bisa dia gunakan untuk bersenang-senang sebulan lamanya.


"Ikhlas sedikit, Justin ... Kau tahu kan aku anak yatim?" Keny sama sekali tidak merasa kasihan meski sahabatnya kini mengurut dada, baginya baik Keyvan maupun Justin adalah atm berjalan yang baiknya luar biasa.

__ADS_1


"Setidaknya kau punya ibu, Ken. Sementara aku?"


Situasi mendadak haru, Keyvan yang tidak ingin bersedih sontak menepuk pundak Justin dan menjelaskan jika pria itu sendiri. Ya, keduanya sama-sama yatim piatu, hanya saja mereka memang sudah kaya sejak kelahiran mereka masih jadi rencana.


"Kau tidak sendiri, aku juga begitu."


"Tapi kau punya mertua yang lengkap, cantik lagi," ujar Justin yang lagi-lagi menuai polemik dan membuat Keyvan menepuk bibir sahabatnya, beruntung saja Mikhayla hanya duduk manis di sofa dan tidak fokus dengan pembicaraan mereka.


"Dasar mata keranjang, tadi istriku sekarang mertuaku yang kau puji."


Justin hanya tertawa sumbang dan merasa hal ini lucu sekali. Memang belum pernah bertemu Zia secara langsung, akan tetapi postingan di akun sosial media Mikhayla memperlihatkan dengan jelas betapa cantiknya seorang Zia.


"Santai saja, Van. Aku hanya memuji, mana mungkin aku berniat jadi papa tiri Mikhayla," ungkap Justin membela diri, sementara Keny yang biasanya akan mendukung Justin kini hanya diam sembari memandangi wajah cantik putrinya. Ya, mungkin seiring berjalannya waktu pria itu tidak akan peduli pada kekonyolan Justin yang memang kerap tidak terduga.


Terserah, Keyvan tidak akan mendengar ucapan pria itu lagi. Istrinya sudah terlihat mengantuk dan dia benar-benar memilih pergi. "Hati-hati, Van!! Salam untuk mertuamu," teriak Justin namun sama sekali tidak Keyvan pedulikan lagi, Mikhayla juga demikian.


Keluar dari rumah sakit hari memang sudah gelap, bahkan bisa dikatakan hampir larut malam. Keyvan yang tidak ingin Mikhail khawatir memilih pulang ke apartement dan dia sempat mengatakan hal itu pada Mikhail beberapa jam lalu.


"Ngantuk? Tidur sini."


Seperti biasa, pangkuan Keyvan akan menjadi bantal Mikhayla selama di perjalanan. Dia memang sudah mengantuk sejak tadi dan perjalanan untuk tiba di tempat tinggal mereka masih cukup lama.


Meski sang istri sudah teramat lelah, Keyvan tetap melaju pelan dan tidak ingin buru-buru. Khawatir tentu saja, apalagi pasca melihat bagaimana Sonya tadi siang. Meski dia berharap jangan sampai terjadi, tetap saja dia berusaha untuk tetap menjaga sang istri sepenuhnya.

__ADS_1


"Tubuhnya masih kurus, padahal naffsu makannya mulai naik, apa mungkin belum ya?"


Keyvan bergumam kala hendak menggendong tubuh Mikhayla, perjalana panjang itu akhirnya usai dan kini keduanya sudah tiba. Ketika istriny tidur di jalan maka tidak akan pernah dia ganggu walau sudah tiba.


"Haaah Astaga! Kita dimana?" tanya Mikhayla yang tiba-tiba terbangun ketika mereka masih di lift.


"Apartement, sebentar lagi tiba ... sabar ya," ujar Keyvan dengan senyum hangatnya.


"Ehm, kita mau tidur di sini?"


"Iya, kenapa memangnya? Aku sudah izin Papa, Sayang." Keyvan bicara lembut namun wajah Mikhayla masih panik, dia kebingungan dan itu dapat Keyvan tangkap dari sorot matanya.


"Tugas Prof. Harun belum aku selesaikan, besok pagi deadline aku bisa mati."


Gleg


Tugas? Deadline? Mikhayla baru mengadu sekarang. Keyvan sejenak terdiam dan menatap datar wajah sang istri. Merasa dirinya bersalah, Mikhayla memperlihatkan giginya, ya memang salah dia kali ini.


"Tidak bisa diundur saja, Sayang?"


Mikhayla menggeleng dan matanya tampak membasah, mungkin khawatir karena ini benar-benar ancaman baginya. Padahal, baru tadi siang Justin kagum dengan kedewasaan Mikhayla, kini berbalik bahkan Keyvan merasa sang istri persis anak SD yang mengadu jika ada tugas dari gurunya tepat beberapa jam sebelum matahari terbit.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2