Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 62 - Hidup Tapi Mati


__ADS_3

Jeritan kedua pria yang tengah menjadi sasaran Justin memenuhi ruangan. Pria paruh baya yang berada tepat di hadapan Keyvan hanya menunduk seraya memejamkan matanya. Sama sekali dia tidak menduga jika akan dihadapkan dengan keadaan seperti ini, menyesal sekali dia mengikuti perintah Mike untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Leon masuk tanpa meminta izin lebih dulu pada majikannya.


"Anakmu perempuan, 'kan?"


"Jangan apa-apakan putri saya, Tuan ... demi Tuhan saya menyesal, tidak seharusnya saya mempersilahkan Leon masuk kemarin."


Maaf? Sayang sekali untuk saat ini hal semacam itu tidak berlaku lagi untuk Keyvan. Pria itu berdecih dan menatapnya begitu rendah, hanya karena uang yang memang cukup besar untuk pekerjaaan membukakan pintu tersebut, Arya terancam kehilangan nyawa setelahnya.


Gelak tawa Justin dan Keny terdengar begitu nyata, tampaknya dia bahagia sekali menikmati setiap kesakitan yang di rasakan oleh pengkhiatan-pengkhianat Keyvan. Sepertinya ini memang surga bagi dua cecunguk itu, pikir Keyvan.


Hadirnya Justin membuat pria itu ketar-ketir. Sejak tadi yang bertindak untuk menyiksa teman-temannya adalah Justin, sementara Keyvan memang sejak tadi hanya memantau.


"Biar aku yang bergerak, kau selesaikan Leon saja."


Dia lupa jika sejak tadi menunggu Leon tersadar, pria itu berlalu dan menuju ke tempat lain. Sebuah sudut ruangan paling gelap, hanya terlihat samar tapi bukan berarti tidak dapat dibedakan apa yang terlihat.


"Hahaha!! Hai ... Long time no see, Brother!!


Leon bicara dengan santainya dan berhasil memuat Keyvan mengepalkan tangannya. Tanpa sedikitpun rasa takut, tampaknya Leon memang kurang waras sejak lahir.


"Aku bukan saudaramu, Leon!!"


"Ah iya, aku lupa jika istrimu bukan lagi Liora ... But, istrimu yang baru cantik sekali, penurut dan Aargh pertemuan pertama yang sangat berkesan, milikku bahkan terasa masih hangat ketika aku mengingat betapa menggigitnya milik istrimu," racau Leon dengan tenaga yang baru saja terkumpul.


"Hentikan bualanmu, Badjingan!! Manusia bejjat sepetimu tidak pantas mengkhayalkan istriku," sentak Keyvan menghadiahkan bogem mentah tepat di wajah Leon hingga sudut bibirnya mengalirkan darah. Bukannya takut, pria itu hanya tersenyum lebar seakan puas dengan kemarahan Keyvan.


"Ck, santai sajalah!! Kita sama-sama kehilangan, bukankah tidak salah jika kita berbagi obatnya? Manusia licik sepertimu memang pantas mendapatkan semua ini ... Setelah Liora tewas, kau sebebas itu menikahi pembunuhnya, bukankah yang lebih bejjat di sini adalah kau, Keyvan Wilantara?"

__ADS_1


Bukannya takut, Leon makin menjadi dan justru menyerang Keyvan dengan kalimat-kalimat menjijikan hingga pria itu kembali dibuat marah dan menghantam dada Leon dengan kakinya.


"Jaga mulutmu, badjingan!! Istriku tidak bisa disamakan seperti wanita penghibur yang kerap kau nikmati."


"Oh iya? Lalu apa? Wanita mana yang bersedia memberikan tubuhnya sebagai bentuk pertanggungjawaban selain istrimu?"


"TUTUP MULUTMU!!"


Sekalipun memang ucapan Leon adalah fakta, Keyvan tetap marah dan jelas tidak bisa terima. Pria itu mengangkat pisau lipat yang sejak tadi dia genggam dengan posisi siap menancap dijantung Leon, dengan tangan kiri mencekik lehernya sebenarnya dengan mudah jika Keyvan ingin menghilangkan nyawa Leon.


Sayangnya, tujuan Keyvan bukan sedsdrhana itu. Akan tidak adil jika dia tidak merasakan sakit yang di setiap inci tubuhnya, mata Keyvan yang merah berselimut kemarahan dan dendam terlihat nyata di sana.


Tatapan Keyvan tertuju ke bibir Leon pertama kali, dia menatapnya datar sembari bersiap untuk menyayat permukaaan bibir Leon dengan pisau yang dia pegang. Leon yang tadinya berani menjawab setiap ucapan Keyvan sontak membeliak dan menggeleng berkali-kali.


"Menghindarlah jika mampu, kau bergerak sedikit saja maka lukanya akan semakin besar ... Aku hanya ingin menggores bibir lancangmu sedikit saja," ucap Keyvan benar-benar memulainya tanpa peduli saat ini Leon menahan sakit namun tetap berteriak sebisanya. Sengaja dia mulai dari bibir agar Leon semakin tersiksa di setiap kali dia menjerit.


Itu baru permulaan, Keyvan kembali membabi buta setiap dia ingat bagaimana Mijhayla ketika dia pulang dari kantor. Ingin berlama-lama seperti Justin dan Keny, akan tetapi Keyvan tidak lagi bisa menahan amarahnya.


"Selama ini aku sudah cukup baik padamu, bahkan di saat kau tidak menghargai posisiku sebagai suami Liora waktu itu aku tidak mempersalahkannya sama sekali."


Dia tidak berhenti meski Leon sudah terkulai lemas di lantai, dengan kaki dan tangan terikat semakin membuat Keyvan puas karena tidak perlu khawatir pria itu akan memberikan perlawanan.


Darah yang keluar dari mulut dan hidungnya sudah menetes hingga berceceran di lantai, Keyvan yang merasa belum puas menarik pria itu untuk berdiri dan dia benturkan ke tembok dengan sekuat tenaga hingga Leon benar-benar terbaring lemah.


BRAK


"Aarrrrggghhhh!!"

__ADS_1


Meski matanya sudah terpejam, Leon masih tetap meraung kala benda tumpul mendarat di kakinya berkali-kali. Kemungkinan besar patah karena rasa sakitnya benar-benar luar biasa.


"Bunuh aku secepatnya, Bedebbah," pinta Leon dengan suara lemasnya, sejak tadi Keyvan hanya membuatnya tersiksa namun seolah mempertahankan nyawanya.


Keyvan beranjak, Justin dan Keny yang baru saja selesai membuat ketiga bawahan Keyvan tidak berdaya, kini dia mendekat dan memastikan bagaimana kondisi Leon.


"Kenapa tidak kau habisi saja sekalian, Van?" tanya Justin bingung karena kini Leon masih bernapas meski tampak kesulitan.


"Aku berubah pikiran, sepertinya akan lebih menarik jika dia hidup tapi mati ... dengan mata dan kaki yang tidak lagi berfungsi, serta wajah yang tidak tampan lagi di tempat terpencil sudah cukup membuatnya merasakan makna hidup."


"Lalu mereka bertiga bagaimana, Van?"


"Perlakukan sama, mereka sama saja," jawab Keyvan santai, Justin dan Keny menghela napas pelan, beruntung saja mereka belum benar-benar menghilangkan nyawa ketiga orang itu sebelumnya.


"Masih hidup kan?"


"Hampir mati, Van ... tapi masih hidup."


Awalnya memang tersirat keinginan untuk membuat nyawa Leon melayang malam ini juga. Hanya saja, pesan Mikhayla sebelum dia pergi adalah salah satu alasan Keyvan berubah pikiran dan merasa akan lebih baik jika penderitaan Leon bertahan selama bertahun-tahun lamanya.


"Badjingan kau, Keyvan!! Bunuh saja aku sekarang juga!!" jerit Leon semakin membuat Keyvan yakin dengan keputusannya.


"Kalian urus sisanya, pastikan bersih karena aku tidak memiliki rencana untuk kembali ke tempat ini dalam waktu dekat." Pria itu pamit pergi lebih dulu dan mempercayakan sisanya pada mereka bertiga. Dia yang kini khawatir dengan keadaan istrinya harus tetap pulang segera meski ini sudah hampir fajar.


Aku kembali, Khay ... aku tidak menjadi pembunuh seperti yang kamu takutkan.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2