Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 134 - Milik Bersama


__ADS_3

Perdebatan masalah nama berujung panjang hingga pada akhirnya Azkayra Zavia Qirany adalah pilihan Keyvan. Bukan hanya mengambil keputusan sendiri tapi Keyvan memang mengambil nama yang Zia berikan pada putrinya, yaitu Zavia. Sementara Qirany ialah pemberian Ibra, sengaja tampak senada dengan nama Mikhayla lantaran dia berharap antara kedua bidadari itu akan saling terikat satu sama lain sekalipun mereka tinggal nama.


"Qirany ... Qianzy, Ibra dan Naya. Lucu, 'kan?"


Mikhail mengerutkan dahi kala mendengar ucapan Ibra, bisa-bisanya dia menggabungkan nama mereka untuk nama cucunya. Benar-benar tidak adil bahkan tiga kosa kata nama cucunya sama sekali tidak menyangkut nama Mikhail.


"Dasar kejam, namaku papa letakkan dimana? Dia cucuku dan seharusnya aku berhak, Pa."


Dia protes, meski sebenarnya sudah terlambat dan nama putri Mikhayla sudah diresmikan pria itu masih tetap menunjukkan betapa tidak adilnya dunia padanya. "Zavia itu kan Zia, Mikhail, Evan ... namamu sudah termasuk di sini," ungkap Ibra kemudian dan hanya membuat Mikhail berdecak kesal.


"Dimana letak Mikhailnya, jelas-jelas Za-Via ... coba Papa jelaskan dimana tersemat namaku?" tanyanya sebal namun masih terus memeluk Zavia tanpa berpikir memberikannya pada Keyvan sama sekali.


"Dengarkan Papa, Z itu dari nama Zia sementara a di huruf kedua diambil dari namamu ... Mikh-a-il, jelas?"


Benar-benar tidak adil sekali, hanya karena diambil satu huruf yang sama Ibra pikir itu cukup sekali. Padahal jelas-jelas tidak, Mikhail menggerutu dan memasang wajah masam sejak tadi bahkan keluarga yang kini berkumpul di kediaman utama mereka mengira jika pria itu marah dengan kelahiran cucunya.


"Tapi, Pa?"

__ADS_1


"Banyak protes, nama Evan juga hanya diambil huruf V nya saja tidak masalah," balas Ibra masih tidak habis pikir kenapa bisa putranya serumit itu.


"Udah, Mas ... nama kamu sepenuhnya sudah diberikan untuk Mikhayla, hanya berbeda sedikit saja dan waktu itu aku tidak marah, 'kan?"


Memang hanya Zia yang bisa membuat pria itu bungkam sebenarnya. Perkara nama dia seserius itu hingga membuat orang berprasangka buruk, padahal sewaktu Mikhayla lahir Zia sama sekali tidak protes meski namanya tidak diambil untuk putrinya.


"Hm," jawabnya singkat, padat dan sama sekali tidak jelas. Seperti biasa seorang Mikhail jika tidak setuju dengan keputusan seseorang maka dia akan begitu.


Keyvan yang menatap dari jarak tidak begitu jauh hanya menggeleng pelan kala melihat bagaimana mertuanya. Sejak awal pulang sudah tidak diizinkan ke apartement melainkan harus tetap tinggal di kediaman utama. Berbagai macam alasan dia keluarkan demi membuat Keyvan menuruti keinginannya.


Sempat menolak lantaran merasa tidak siap menjadi kakek kini Mikhail yang justru berkuasa atas Zavia. Aroma tubuh pria itu bahkan sudah berubah seperti aroma bayi, ternyata benar apa yang dikatakan Ibra tentang Mikhail. Dia adalah sosok pria yang teramat menyayangi bayi hingga dia terobsesi untuk terus memiliki anak lagi meski hampir setengah abad itu.


Keyvan yang punya bayi, Mikhail jadi penguasanya. Pria itu bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Keyvan sebentar saja, Mikhayla bahkan sebal sendiri lantaran Mikhail seakan tidak punya kerjaan lain saat ini.


"Sayang, kamu belum selesai makannya ... aku suapin yang ini atau mau ambil yang baru?" tanya Keyvan seraya menepikan anak rambutnya, wanita itu sempat makan siang akan tetapi memang belum sempat dia habiskan karena harus menyusui Zavia lebih dulu.


"Yang ini saja, mubazir kalau kata Papa."

__ADS_1


Meski tengah di hadapan keluarga besar Mikhayla sama sekali Keyvan tidak merasa canggung dan ragu untuk memperlakukan Mikhayla selembut mungkin. Dokter sempat berpesan jika istri tetap harus diutamakan setelah kelahiran putrinya, karena bukan tidak mungkin Khayla yang masih berusia belia akan berpikir macam-macam dan hal tersebut bisa memicu baby blues nantinya.


Zia menghela napas lega menatap kedekatan Keyvan dan putrinya, melihat Khayla diratukan dan jatuh pada pria yang sangat tepat demi apapun Zia bersyukur luar biasa. Kekhawatirannya di masa lalu terbantahkan, faktanya meski Mikhayla hadir akibat kesalahan dia dan Mikhail akan tetapi jalan hidup Mikhayla tidak sama sepertinya.


"Kamu kenapa, Sayang? Sedih atau kenapa?" tanya Mikhail menyadari bagaimana sang istri menatap ke depan begitu lekat dan sesekali menghela napas panjang.


"Aku bahagia, Mikhayla mendapatkan pria yang tepat dan kasih sayangnya tidak kalah dari kamu, Mas."


"Semoga, aku juga berharap Evan menjadikan Mikhayla satu-satunya ratu hingga akhir."


Tidak hanya Zia, Mikhail juga berpikir sama tentang Keyvan. Ketulusan pria itu memang sangat jelas dan tidak perlu diuraikan dengan kata-kata Keyvan telah membuktikannya melalui tindakan.


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2