
"Haaah?!!" Mata Mikhayla membulat sempurna kala melihat sosok pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan juga masker di wajahnya.
Mikhayla mengenal Keyvan bahkan hanya dari postur tubuhnya. Buru-buru dia membuka pintu kaca tersebut dan menarik Keyvan masuk. Dadanya berdebar dan membuka masker yang menutupi wajah Keyvan, senyum sang suami begitu dia rindukan.
"Aku tidak bermimpi kan?" tanya Mikhayla dengan mata yang kini mengembun, setiap malam dia berharap pemilik senyum hangat ini akan berada di hadapannnya.
Keyvan menggeleng pelan, dengan segala kasih sayang dan luapan kerinduan pria itu merengkuh sang istri. Bahu Mikhayla yang bergetar menjelaskan jika kini dia tengah menangis, semanis apapun pertemuan batinnya tetap menangis.
"Aku merindukanmu, Khayla ... sangat-sangat rindu."
Cukup lama keduanya bertahan dengan posisi itu, Keyvan mengecup pipi sang istri berkali-kali. Mereka hanya terpisah tiga hari, tapi Keyvan merasa disiksa bertahun-tahun. Terdengar berlebihan, tapi memang nyata demikian.
"Tenanglah, aku sudah di sini."
Keyvan menyeka air mata Mikhayla begitu pelan, setelah tiga hari hanya bisa memantau kamar sang istri dari kejauhan, kini tubuh mungil yang dia rindukan kembali dalam peluknya.
"Bagaimana kabarmu, apa sudah lebih baik? Hm?"
Keyvan bertanya sembari memeriksa tanda kemerahan yang merupakan akar masalah kemarahannya, sudah tampak lebih baik tapi masih terlihat meski samar.
"Sudah, Mama kasih obat luar juga di beberapa bekas lukanya."
Penjelasan Mikhayla sejenak membuat Keyvan naik darah. Pria itu kembali panas seketika hingga berakhir dengan helaan napas perlahan. Ucapan Mikhail tentangnya sebagai pria yang gagal disebut suami kembali terngiang, sungguh Keyvan malu pada dirinya sendiri.
"Sebentar, aku tutup pintunya dulu ... nanti om Babas sadar kalau pintunya kebuka," ucap Mikhayla kemudian berlari pelan, karena biasanya jam segini Bastian masih berjaga di depan, terlebih lagi ketika Mikhayla berada di rumah.
Keyvan memandangi kamar Mikhayla, sungguh menyedihkan nasibnya. Bertemu istri saja harus berjuang layaknya pencuri, bakatnya menyusup melekat sejak dulu. Walau, dia akui untuk bisa menerobos masuk ke rumah Mikhail cukup sulit dan butuh strategi yang benar-benar matang. Dia bahkan tidak pergi kerja selama tiga hari demi menyusun rencana untuk menemui istrinya.
__ADS_1
Tidak hanya itu, dia bahkan mengunci pintu kamar lebih dulu. Khawatir papanya diam-diam masuk, Mikhayla lebih baik mencegah daripada mengobati. Akan tidak lucu jika mereka tertangkap basah tengah malam begini.
"Sudah."
Ucapan yang begitu candu bagi Keyvan, setiap melakukan segala sesuatu Mikhayla akan menghampirinya sembari dengan senyum yang sama. Keyvan tersenyum tipis menatapnya, mata Mikhayla masih memerah. Namun, hadirnya Keyvan membuatnya seceria itu, bukti nyata jika keduanya sama-sama membutuhkan.
"Kenapa dikunci?"
"Aku takut Papa masuk tiba-tiba, nanti dia misahin kita lagi gimana?"
Beberapa hari lalu Mikhayla hampir kehilangan dirinya, dan kini di hadapan Keyvan dia tidak akan memperlihatkan luka itu. Karena hal menjijikan itu tidak untuk diingat, dan dia berusaha melupakan dengan adanya Keyvan.
"Tidak akan, Papa punya seribu cara untuk memisahkan, tapi aku juga punya sejuta cara untuk menemukanmu, Khayla."
Tidak ada aturan yang membuat hidup Keyvan terkekang. Negara saja dia tentang, apalagi larangan Mikhail yang hanya sebuah kalimat berbalut amarah. Diminta sabar berhari-hari, jelas saja dia tidak bisa.
"Tadi naiknya gimana? Bukannya di bawah ada yang jaga?"
"Bisa, sekalipun aku jelaskan kamu tidak akan paham," tutur Keyvan terkekeh, jika dia jelaskan mungkin Mikhayla tidak akan percaya.
Sesulit itu dia menunggu waktu yang tepat, Keyvan bahkan hanya makan roti dan air mineral selama mengawasi istana keluarga Mikhail. Bukan untuk menaklukan musuh atau lainnya, melainkan demi seorang putri yang begitu dicintai sang penguasa sejak kecil dan Keyvan tengah berusaha untuk merebut putri kerajaan itu.
Keyvan menatap lekat mata indah Mikhayla, jika biasanya sang istri akan menghindari ditatap begitu, malam ini berbeda. Meski tidak dia utarakan secara langsung, dapat dipastikan jika rindunya sedalam itu.
"Tidur ya, sudah terlalu larut," ucap Keyvan begitu lembut, lingkar mata Mikhayla tampak meghitam dan itu tidak biasanya.
"Tapi dipeluk," pinta Mikhayla yang kemudian diangguki oleh Keyvan, tujuannya menyelinap masuk bukan hanya menyampaikan pesan atau hanya sekadar bertamu biasa. Melainkan sengaja untuk tidur bersama Mikhayla, itulah mengapa dia beraksi kala malam mulai larut.
__ADS_1
.
.
.
Hampir setengah jam, keduanya sama sekali belum berniat untuk tidur. Baik Mikhayla maupun Keyvan, keduanya kini masih saling memandangi. Keyvan sudah mengusap wajah Mikhayla berkali-kali, bukannya tidur dia hanya tertawa setiap kali Keyvan melakukannya.
"Khay, apa kamu belum ngantuk?"
"Belum, masih betah melihat pemandangan ini," jawabnya santai kemudian tersenyum, padahal matanya sudah mulai redup bahkan hanya segaris karena terlalu mengantuk.
"Tidur, Sayang ... ini sudah tengah malam."
"Hm, tidur."
Peduli setan dengan hari esok, meski kali ini Keyvan tidur tanpa izin di kamar istrinya, sama sekali tidak dia pikirkan. Setelah tiga hari tiga malam istirahatnya tidak tenang, baru kali ini Keyvan bisa terlelap dengan nyaman.
"Maaf, Papa ... aku terpaksa curang karena sangat-sangat butuh putrimu."
"Tunggu!! Kalau besok tiba-tiba Papa tahu gimana?"
Keyvan terkesiap, rasa kantuknya mendadak hilang kala istri kecilnya tiba-tiba bangun akibat pikiran buruknya. Di mata Mikhayla, Keyvan saat ini seakan musuh bebuyutan Mikhail, jelas saja dia khawatir suaminya celaka besok pagi.
"Tenang saja, Sayang ... besok aku akan pulang sebelum Papa bangun, percayalah." Meski jantungnya hampir copot, Keyvan tetap berusaha tenang kala bicara pada Mikhayla. Bingung juga kenapa bisa istrinya sesemangat itu, pikir Keyvan.
"Papa bangun jam empat, sanggup?" Mikhayla ragu sebenarnya, karena sejak kemarin-kemarin Mikhail akan masuk setiap dia baru saja bangun pagi.
__ADS_1
"Hm, jangan khawatir ... Itu adalah jam biasanya suamimu ini bangun pagi, Qianzy"
- To Be Continue -