
Alka, kamu bisa berhenti bersikap seolah kita masih ada hubungan nggak? Apa yang kamu lakukan malam itu, sudah aku anggap sebagai cara kamu mengakhiri hubungan kita ... camkan itu.
"Dia lebih pintar dari yang kuduga ternyata."
Keyvan menepi sesaat, dia memastikan apakah istrinya masih diusik pria itu atau tidak. Akan tetapi, dari yang dia dengar nampaknya Mikhayla sudah masuk kelas dan tidak lagi sendirian. Terdengar jelas banyaknya suara wanita yang lain di sana, batin Keyvan sejak tadi ketar-ketir kala dia mendengar istrinya bicara dengan seseorang yang dia yakini adalah pria yang Mikhayla maksud sebagai penyebab kecelakaannya malam itu.
Tidak semudah itu dia melepas Mikhayla. Walau anak buahnya sudah menjadi mata-mata, pria itu tetap mengawasi Mikhayla dengan caranya. Meski dia ketahui jika Mikhayla menyadari jelas tidak akan terima begitu saja dia tidak peduli. Hati Keyvan tidak sepercaya itu tentang lingkungan di dunia Mikhayla akan baik-baik saja, ada sejuta hal yang bisa saja mengusik kehidupan sang istri dengan sengaja.
Sepanjang hari, apapun yang Mikhayla katakan akan sampai ke telinganya. Dia licik? Jelas, hal semacam ini wajib dia lakukan. Selain hanya memastikan Mikhayla tidak diganggu Alka, dia juga memastikan sang istri tidak diusik yang lainnya.
Sebagai pria dengan tanggung jawab yang kini semakin lengkap, Keyvan jelas tidak bisa meninggalkan pekerjaan hanya demi wanita kecil itu. Meski sesayang apapun dia, pria itu tetap menyadari jika ada hal-hal yang seharusnya dibatasi sesuai porsinya.
Hari ini, dia akan berkutat dengan begitu banyak pekerjaan dan memenuhi undangan dari beberapa rekan bisnisnya. Tentu tidak hanya bersama Wibowo saja, melainkan Justin juga. Pria gila yang sempat menuding Keyvan sebagai pria tidak normal pasca kematian Liora.
"Van," panggil Justin mulai membuka pembicaraan, sejak rapat tadi pria itu sudah merasa janggal dan sedikit menganggap Keyvan aneh.
"Hm, kenapa?"
"Kau baik-baik saja?"
Justin bertanya demikian lantaran bingung kenapa sahabatnya tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Auranya hari ini juga tidak suram seperti biasa, sebagai orang yang mengenal kepribadian Keyvan dia merasa ini tidak wajar.
__ADS_1
"Kenapa pertanyaanmu begitu? Jelas saja aku baik."
Cincin pernikahan di jemari Keyvan sudah benar-benar dia lepas, foto Liora yang biasa terpajang di meja kerja juga sudah tidak terlihat lagi. Apa mungkin semudah itu melupakan? Justin sedikit heran dengan perubahan Keyvan.
"Kematian istrimu bahkan belum sampai sebulan ... tapi kau terlihat begitu lepas," tutur Justin tampak menahan pembicaraannya sebentar.
"Lalu aku harus apa? Bukankah kau sendiri yang waktu itu memintaku untuk menerima kenyataan ini? Sekarang, salah juga?"
Bukan begitu, memang kala itu Justin memberikan kekuatan untuk Keyvan agar menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan. Akan tetapi, Keyvan yang terlihat seakan tidak terjadi apa-apa begini membuat Justin merasa bersalah pada mendiang Liora, sahabatnya.
"Tidak salah ... aku bersyukur jika kau mampu hidup lebih baik setelah kepergian Liora, tapi aneh saja jika kau semudah itu melupakannya tanpa melibatkan wanita lain."
Keyvan mengangkat alisnya, dia menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sungguh dia hati-hati sekali jangan sampai hal yang sesungguhnya diketahui mulut ember seperti Justin.
"Bukan be_"
"Ah aku tahu, atau jangan-jangan kau punya kelainan? Impoten kah sampai biasa saja kehilangan istri?"
Semakin mengada-ngada, Keyvan ingin sekali mencakar wajah Justin lantaran murkanya. Sepuluh tahun berteman nyatanya masih menyimpan kecurigaan di luar nalar begitu, memang Justin minta dibakar, pikir Keyvan.
"Kau belum pernah masuk peti mati ya?"
__ADS_1
"Belum, kenapa memangnya?" tanya Justin tanpa dosa dan berpikir jika itu memang pertanyaan serius.
Merasa percuma bicara bersama Justin, Keyvan memilih fokus dengan ponselnya. Pria itu mengirim beberapa pesan untuk sang istri untuk memastikan dia sudah selesai atau belum.
"Van ... bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?"
"Tidak ada, Justin. Pergilah, sebentar lagi aku akan keluar," titah Keyvan serius dan dia beranjak dari kursi kebesarannya, tidak peduli dengan tatapan bingung Justin yang menuntut penjelasan darinya.
"Keluar kemana?"
"Cari wanita, aku kesepian ... seharusnya kau paham," jawab Keyvan kesal dan mulai terusik dengan Justin yang selalu ingin tahu urusan pribadinya.
"Ck, dasar pria ... baru juga ditinggal pergi beberapa minggu, sudah sebebas itu," ungkap Justin tak sadar diri, dia yang selingkuh sampai dua kali menilai Keyvan sebagai pria tak berhati jelas berhasil membuat hati Keyvan panas seketika.
"Yang terpenting aku tidak main belakang sepertimu ... selama bersama Liora aku bahkan tidak melirik tubuh wanita lain, apalagi menyentuh mereka," jawab Keyvan santai tapi itu tersirat sebuah kemarahan mendalam.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut ❣️