Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 81 - Keputusan Final


__ADS_3

Sepanjang perjalanan firasat Mikhayla sudah tidak nyaman. Keyvan tetap fokus dengan kemudinya sementara Mikhayla sejak tadi menggerakkan kakinya lantaran gugup tanpa sebab. Tidak biasanya Keyvan diam begini, sekalipun dia bicara itupun karena dia yang sebal dengan lalu lintas yang sama sekali tidak kondusif.


"Mikhayla."


"Hm, apa?"


Suara Keyvan membuatnya sejenak terkejut. Pria itu baru bersuara setelah mereka melewati setengah perjalanan, wajah pias sang istri dapat dia lihat dan Keyvan hanya memerhatikannya sekilas.


"Tanggal yang kamu tentukan untuk pesta pernikahan kita di postinganmu, apa tidak bisa ditunda?" tanya Keyvan langsung pada intinya sembari tetap fokus tanpa berniat menunggu tiba di apartement, sejak tadi dia menahan dan pada akhirnya tidak bisa.


Mikhayla semakin bingung kala Keyvan justru bertanya tentang itu. Padahal, dia menentukannya juga asal mengikuti ulang tahunnya lantaran kesal pada Alka. Niat awalnya memang hanya membuat Alka panas, hanya saja rumor yang beredar tentangnya semakin menyebar dan Mikhayla berpikir lebih baik klarifikasi sekalian agar pandangan orang tentangnya bisa berhenti segera.


"Kamu marah ya?"


Keyvan menggeleng, sebenarnya bukan marah, hanya terkejut saja. Dia tidak mungkin bisa marah pada Mikhayla, pesona istri dibawah umur itu memang nyata. Pria itu mengulas senyum demi membuat istrinya nyaman karena sejak tadi sang istri tampak panas dingin dia diamkan beberapa menit saja.


"Hanya tidak menyangka saja, apa tidak terlalu cepat, Sayang?"


Gawat, seluruh temannya sudah mengetahui kabar itu bahkan doa baik sudah bertabur di laman sosial medianya. Mikhayla menatap Keyvan sesaat, jika sampai gagal bisa jadi rumor tentangnya kian menjadi dan Alka menjadi pemenang dalam hal ini.


"Kecepetan ya? Katanya terserah, makanya aku pilih tanggal lima biar sama seperti tanggal lahirku," ujar Mikhayla merasa keputusannya tidak salah, karena memang Keyvan sempat berkata demikian.


Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Keyvan menghela napas kasar dan semakin bingung dalam menentukan keputusan. Apalagi, ketika dia mengingat berapa jumlah orang yang sudah mengucapkan selamat untuk mereka.


"Mama sama Papa sudah tahu soal ini?"


Mikhayla menggeleng, sungguh dia menuliskan keterangan di postingannya tadi malam tanpa meminta izin Mikhail maupun Zia lebih dulu. Bukan tanpa alasan, yang jelas dia belum sempat. Lagipula tanggal lima itu masih satu bulan lagi, menurut Mikhayla bisa saja dipersiapkan karena memang dia tidak menginginkan resepsi yang berlebihan.


"Tapi kalau memang keberatan tidak masalah, tidak perlu pesta."


Keyvan menepikan mobilnya sejenak, bukan itu yang dia mau. Wajah Mikhayla tampak datar dan dia sedikit sebal karena Keyvan tampak keberatan padahal jelas-jelas pria itu mengatakan terserah padanya beberapa waktu lalu.


"Bukan begitu, sama sekali tidak keberatan ... baiklah kita lakukan saja, tanggal lima artinya masih punya satu bulan untuk menyiapkan diri."


Keyvan tidak ingin merusak citra Mikhayla di hadapan temannya. Perihal Mark dia akan mencoba bicara baik-baik nantinya, akan tetapi jika sampai Mikhayla benar-benar menjadi bahan pembicaraan lantaran pesta yang tidak diselenggarakan sesuai pengumuman, akan lebih bahaya lagi.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hm."


Mikhayla yang merasa terbebas dari amarah Keyvan sontak menghela napas lega. Bisa-bisanya dia segugup ini seolah melakukan kesalahan yang luar biasa fatal di mata Keyvan. Dia yang gemas sendiri dengan suaminya sontak menggenggam jemari Keyvan sebagai ucapan terima kasihnya.


"Kenapa terima kasih?"


"Tadi aku berpikir kalau bakal marah dan benar-benar ditunda, kalau saja benar terjadi mungkin aku akan semakin menjadi buah bibir mereka."


Satu ketakutan Mikhayla, meski memang dia sempat bertanya untuk membatalkan jika keberatan, jujur saja dia khawatir sekali Keyvan benar-benar akan membatalkannya.


Benar sekali dugaan Keyvan, sedikit demi sedikit dia bisa memahami bahasa wanita yang memang sulit diartikan. Benar kata Justin, biasanya wanita lain dimulut lain dihati. Pria itu hanya tersenyum tipis kala sang istri bergerak ke kanan dan ke kiri sebagai ungkapan kebahagiaannya.


"Tapi itu tidak gratis, Mikhayla."


"Heh?"


Mereka adalah pasangan suami istri, dan ketika membahas resepsi pernikahan Keyvan masih berpikir tentang bayarannya. Mikhayla sontak melepaskan jemari Keyvan yang tadinya di kecup beberapa kali.


"Perhitungan sekali," gumam Mikhayla sebal lantaran Keyvan mulai terbiasa mencuri kesempatan terhadap dirinya dalam hal apapun itu.


"Hahaha itu bukan perhitungan, Sayang ... kamu tidak lupa prinsip hidup kan? Give and take," jelas Keyvan sekali lagi dan itu sudah berkali-kali dia ungkapkan.


"Iyayaya, sama sekali tidak lupa."


"Bagus kalau begitu, aku tidak perlu jelaskan ulang," tutur Keyvan kemudian,


Keyvan kembali melajukan mobilnya dan menambah sedikit kecepatan. Anehnya, Keyvan mengambil arah berlawanan dan ini bukan menuju tempat tinggal mereka.


"Kita mau kemana? Ada yang ketinggalan? Apa tidak masalah kalau aku ikut ke kantor juga?"


Siapa juga yang akan membawanya ke kantor, Keyvan tersenyum licik seraya terus melajukan kendaraannya. Dia biarkan istrinya terjebak dalam kebingungan sampai nantinya dia mengerti dengan sendirinya ketika sudah tiba di tempat tujuan.


.

__ADS_1


.


.


"Hotel? Kenapa jadi kesini?" tanya Mikhayla bingung, sementara Keyvan keluar lebih dulu dan kini mengitari depan mobil untuk kemudian membukakan pintunya.


"Turunlah kita sudah sampai."


"Jangan macam-macam ya, aku bilangin Mama nih," ancam Mikhayla menebak-nebak Keyvan mengajaknya ke tempat ini untuk apa, pria itu hanya tertawa sumbang kala sang istri memperlihatkan wajah cemberutnya.


"Masih saja mengadu, dengarkan aku ... kamu berani-beraninya mengambil keputusan tanpa bertanya padaku lebih dulu, bukankah itu sebuah kesalahan, Mikhayla?"


"Kemarin-kemarin aku sudah tanya, tapi dijawab terserah ... ya artinya terserah aku dong." Dia membela diri karena merasa tidak salah, dan definisi terserah baginya memang seperti itu.


"Ya tapi tidak seperti itu juga, sampai kamu mengundang seluruh teman-temanmu sementara aku belum mempersiapkan segalanya."


"Ya tapi kan_"


"Shuut, itu tetap kesalahan dan kamu pantas dihukum untuk tindakan seenak jidatmu ini," ucap Keyvan tidak terbantahkan.


Nyatanya Keyvan tidak semudah itu mengiyakan keputusan Mikhayla. Pria itu menarik pergelangan tangan sang istri hingga Mikhayla menepuk lengannya beberapa kali.


Keduanya sontak menjadi pusat perhatian, apalagi ketika di resepsionis. Keyvan persis penculik yang memaksa seorang wanita untuk melayaninya.


"Ini pemaksaan, Mbak kamarnya sudah full kan?" tanya Mikhayla pada seorang resepsionis yang kini terlihat bingung di hadapannya.


"Berikan saja kunci kamarnya kalau kau tidak mau aku pecat," titah Keyvan kemudian yang berhasil membuat wanita itu patuh seketika, wajah Mikhayla kembali dibuat bingung dengan apa yang terjadi.


"Ini, Tuan."


"Kok?"


Keyvan merangkul pundak sang istri sembari melangkah dengan santainya. Mikhayla mendongak butuh penjelasan namun sama sekali tidak akan Keyvan berikan jawaban apapun.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2