
"Aku cuma cerita Papa!!"
Teriakan Zean terdengar memenuhi istana Mikhail. Mungkin sebal akibat aibnya dibuka terang-terangan di hadapan menantunya, Mikhail meradang dan mengejar Zean hingga anak itu berlari terbirit-birit ke kamarnya.
"Bodohnya, Om kenapa masih di sini?"
Selesai Zean, kini Sean yang datang. Meski tidak memperlihatkan tidak sopannya pada Keyvan, akan tetapi saat ini dia masih sama dan memberikan tatapan permusuhan pada Keyvan. Mungkin dia marah lantaran teman bertengkarnya tiba-tiba sudah berstatus istri pria asing itu.
"Kau belum tidur?"
Keyvan bertanya dengan wajah datarnya, Sean yang membawa minuman dingin di tangannya itu tampak biasa saja menatap mata tajam sang kakak ipar.
"Ditanya balik nanya, Om yang seharusnya aku tanya ... Kak Mikha biasanya sudah tidur jam segini, kenapa Om belum?"
Dibandingkan Zean, dia lebih berani bertanya banyak hal walau wajahnya masih sama dan tidak begitu bersahabat dengannya. Keyvan sesaat terdiam, orang-orang di rumah ini kenapa hampir sama semua.
"Belum saja, kau ingin menemaniku sebentar?"
"Tidak, aku banyak tugas ... Om sendiri saja," jawab Sean kemudian berlalu melewati Keyvan, pria itu hanya tersenyum tipis kemudian.
Baru beberapa jam berada di istana Mikhail, dia sudah merasakan makna keluarga hangat yang sesungguhnya. Cara Mikhail mendidik putranya benar-benar sebaik itu, hanya karena dibicarakan di belakang Mikhail membuat Zean berteriak ampun hingga terdengar serak.
"Kau tidurlah, apa mungkin yang tadi siang kurang?"
Beberapa saat dia menunggu di ruang tamu, kini pria itu dikejutkan dengan kehadiran sang mertua yang kini menghampirinya. Masih dengan teh panas yang belum berkurang di gelasnya, Mikhail duduk di hadapan Keyvan yang tampak sengaja menunggunya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, Pa."
Keyvan ragu sebenarnya, akan tetapi memang hal semacam ini harus dia utarakan. Bukan hanya tentang Mikhayla, tapi juga tentang dirinya.
"Apa?" tanya Mikhail tampak serius, dia menopang dagu dan menunggu apa yang hendak Keyvan katakan.
"Larangan Papa dalam pernikahan kami, apa tidak bisa Papa pertimbangkan lagi?"
Mikhail menghela napas panjang, tampaknya Keyvan memang begitu keberatan dengan permintaan Mikhail tentang itu. Ya, Mikhail memintanya untuk menunda kehamilan, tanpa bantahan dan tidak menerima alasan apapun.
"Jawaban Papa tetap sama, Van ... untuk hal lain Papa tidak akan ikut campur, tapi soal kehamilan Mikhayla jangan coba-coba nekat. Istriku hamil di usia 19 tahun, dan aku tidak ingin merasakan kekhawatiran yang sama pada Mikhayla seperti Zia dahulu."
Mereka berbeda pendapat, Mikhail melarang sementara Keyvan yang sudah menginginkan keturunan masih berusaha mendapatkan izinnya. Tiga puluh tahun bukan lagi muda bagi Keyvan, dia tidak ingin merasakan kesendirian begitu lama.
__ADS_1
"Lagipula pernikahan kalian masih belum tercatat secara negara, apa jaminannya kau tidak akan meninggalkan putriku semudah itu?"
Keyvan terdiam sesaat, memang faktanya demikian dan ini adalah sebuah kesalahan yang belum bisa dia benarkan secepat mungkin. Pria itu menatap datar sang papa yang kini tengah menatapnya setajam itu, sungguh kedua pria ini sama-sama merasa berhak atas Mikhayla.
"Pa ... aku_"
"21 tahun, kau cukup menunggu tiga tahun lagi ... bukan sepuluh tahun, Van."
Keyvan memejamkan matanya, tiga tahun bukan waktu yang singkat. Dia yang menikahi Liora dan butuh beberapa bulan untuk menunggu kabar baiknya saja dia sudah merasa sangat lama, apa lagi selama itu.
.
.
.
Selesai berbincang bersama sang mertua, Keyvan melangkah gontai menuju kamarnya. Pria tampan itu frustasi dengan penegasan Mikhail yang melarangnya menghamili sang istri untuk kesekian kali.
"Ck, tiga tahun ... kenapa harus selama itu?"
Dia pantang sekali diperintah sebenarnya. Akan tetapi jika dia membantah sepertinya akan menimbulkan masalah setelahnya, Keyvan membenturkan keningnya di pintu sebagai bentuk pelampiasan sakit kepalanya.
Semangat Keyvan ketika masuk kamar sedikit berbeda, dia yang merasa terkekang sebagai suami kesal sebenarnya.
"Hai, kenapa lama?"
Senyum teduh Mikhayla di tepian ranjang membuat Keyvan menghangat seketika. Wajahnya yang tadi datar perlahan lebih baik kala langkahnya semakin dekat pada sang istri.
"Bahas sesuatu sama Papa, kamu menungguku?"
Mikhayla mengangguk, memang benar dia menunggu Keyvan yang sejak tadi belum juga masuk. Padahal, dia sudah mengantuk namun merasa tidak sopan jika meninggalkan Keyvan sendirian malam ini.
"Bahas apa?"
"Pembicaraan laki-laki, sudah tidur sana."
Mikhayla mencebikkan bibirnya, hal ini sedikit aneh dan tidak biasa untuk seorang Keyvan. Dia yang biasanya akan segera menerkam tiba-tiba diam saja dan segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sisinya.
"Ah begitu." Mikhayla bergerak mematikan lampu demi menjamin kenyamanan Keyvan yang terbiasa tidur dengan keadaan gelap, hanya mengandalkan temaran lampu tidur saja.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu, Keyvan tidak memperlihatkan bagaimana agresifnya. Pria itu hanya menarik Mikhayla dalam pelukan tanpa mengucapkan kalimat apapun.
Tumben langsung tidur, apa karena di rumah Papa?
Biasanya, meski tidak bertempur Keyvan tetap akan mencumbunya. Sekadar membuat situasi menjadi panas, dan malam ini suaminya terasa berbeda.
"Om ...." panggil Mikhayla dengan suara lembutnya.
"Hm? Apa?"
"Aku sudah sembuh," bisiknya sengaja memancing predator yang sudah kelaparan sejak kemarin, pria itu sontak membuka mata dan menatap wajah cantik sang istri yang masih begitu jelas meski hanya mengandalkan lampu tidur.
"Lalu?"
Mikhayla menatapnya sedatar mungkin kala respon Keyvan hanya begitu. Padahal sejak kemarin dia berkali-kali mengatakan segera sembuh dengan alasan tidak bisa menahan lebih lama. Kini, hal yang membuat Mikhayla menyesal berkata demikian dia dengan dengar dengan sempurna.
"Cuma bilang," jawab Mikhayla singkat dan entah kenapa dia merasa kecewa lantaran respon Keyvan seolah tidak menginginkannya lagi.
"Hahaha ... besok saja, malam ini aku tidak bawa pengaman." Alasan Keyvan saja sebenarnya, malam ini pikirannya sedang tidak baik-baik saja dan dia sedikit lelah hingga godaan semanis itu tidak membuat gairrahnya menggelora.
"Kenapa harus pakai? Kan kata Dokter kalau sudah sembuh tidak masalah tidak pakai," tutur Mikhayla mengingat dengan jelas ucapan dokter Diana beberapa hari lalu.
"Nanti kamu hamil, Mikhayla."
Mikhayla terdiam sesaat, dia sedikit terkejut dengan ucapan sang suami. Usai mendengar hal itu, Mikhayla memilih diam tenggelam bersama pikiran buruk yang menghampiri otaknya secara bersamaan.
Kenapa? Apa karena dia tidak ingin punya anak dariku? Kata Mama aku bukan istri pura-pura, tapi kenapa sepertinya salah?
"Kenapa diam? Apa ada yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, aku ngantuk," ujar Mikhayla berbalik dan menjaga jarak dari Keyvan, jelas saja hal itu membuat Keyvan bingung.
"Kenapa? Apa aku membuat kesalahan?"
Mikhayla menggeleng dan memilih menutup matanya perlahan, pria itu menarik sudut bibir dan menarik tubuh Mikhayla sedikit kasar hingga membentur dadanya.
"Atau tetap mau coba? Aku bisa membuatmu melayang tanpa khawatir kamu hamil, Sayang." Keyvan berbisik kemudian dengan sengaja menggigit daun telinganya pelan-pelan, godaan termanis yang membuat Mikhayla menggilai Keyvan perlahan.
- To Be Continue -
__ADS_1
Buat bacaan besok pagi😘 Sengaja up malam, biar ngayal ke arah sananya di gas sendiri aja ya.