
Terlalu antusias, Keyvan bahkan bangun tanpa aba-aba hingga membuat tubuh sang istri hampir saja terjatuh dari ranjang. Beruntung saja Keyvan cepat menarik tangannya, "Biasa saja kan bisa!!" sentak Mikhayla ketar-ketir seakan kehilangan setengah nyawanya.
"Maaf, aku terlalu bahagia."
Semua gusar yang dia rasakan seakan hilang begitu saja. Keyvan merengkuh sang istri begitu erat hingga Mikhayla merasa susah bernapas, pria itu benar-benar tidak bisa ditebak. "Katakan ini nyata, Khay."
"Memang nyata, kita tidak sedang bermimpi," ujar Mikhayla selembut mungkin, Keyvan yang sejak siang memang sudah tidak baik-baik saja kini tidak kuasa menahan air mata kebahagiaannya.
Berkali lipat lebih bahagia daripada ketika Liora hamil. Mungkin karena dia yang mengkhawatirkan benihnya tidak akan berhasil, pria itu menenggelamkan wajahnya di perut Mikhayla sembari mengucapkan beberapa kalimat manis yang tidak bisa Khayla dengar dengan jelas.
Dia menangis, tanpa ditutup-tutupi meski air matanya segera dia hapus lantaran malu kepada sang istri. Ya, sejak tadi Mikhayla ingin sekali mengejeknya, "Nangis?"
"Tidak, hanya saja mataku berair tiba-tiba," jawab Keyvan masih menjaga diri dari kalimat cengeng dari sang istri.
"Hahah apa bedanya?"
Ingin sekali Mikhayla mengejeknya habis-habisan. Belum pernah dia melihat Keyvan menangis seperti ini, sekalipun pernah dia selalu berusaha menghindar dan Mikhayla tidak dapat melontarkan kata-kata untuk membuatnya menjadi pria lemah.
"Berbeda, kalau menangis itu ada suaranya ... sementara aku tidak, iya, 'kan?"
Ada saja jawabannya, padahal dimana-dimana jika mata sudah berair namanya memang menangis. Mikhayla tidak habis pikir dengan tingkah suaminya ini. "Ini berita baik, jangan terlalu banyak menangis, kata Mama tidak baik."
Bisa saja dia berbohong, padahal dirinya juga sempat menangis ketika mengetahui fakta itu. Keyvan kini tersenyum simpul, dia berusaha menyeka air mata meski dilakukan dengan cara pura-pura mengusap wajahnya. "Terima kasih sudah bersedia mengandung anakku, Mikhayla."
"Memang sudah kewajibanku sebagai istri, tidak perlu berterima kasih ... yang menginginkan dia bukan hanya kamu, tapi aku juga."
Apa yang terjadi pada Liora membuat Keyvan merasa benar-benar berguna di mata Mikhayla saat ini. Dia mengecup jemari Mikhayla berkali-kali, sepertinya tidak ada kata yang bisa mengungkapkan rasa bersyukurnya.
"Kamu baik sekali, hati kamu terbuat dari apa, Khayla? Kenapa tidak dendam sedikitpun padaku?" tanya Keyvan bingung sendiri kenapa bisa Mikhayla sama sekali tidak memiliki rasa dendam pada dirinya.
"Dendam? Untuk apa dendam, menjadi bagian hidupmu itu adalah sebuah anugerah yang harus aku syukuri ... jangan bicara macam-macam. Lebih baik mandi karena malam ini kita akan makan malam di rumah Opa, kata Opa kita harus syukuran ramai-ramai." Mikhayla bertepuk tangan dan itu sontak membuat Keyvan menganga.
__ADS_1
"Syukuran? Dalam rangka apa? Jika benar dalam rangka kehamilan Mikhayla, akankah Papa bisa terima?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu hadir dalam benak Keyvan. Dia yang khawatir jika Mikhail marah jelas saja gusar kala mendengar ucapan Mikhayla, apalagi saat ini keluarga besar ada di sana.
"Sa-sayang, syukuran bagaimana maksudmu?"
"Ya, syukuran biasa ... kenapa mukanya panik begitu?" tanya Mikhayla bingung lantaran sang suami terlihat ketakutan padahal hanya makan malam biasa.
"Kehamilan kamu? Atau apa?"
"Bukan, tapi syukuran karena Opa masih bisa lihat cucu-cucunya beranjak besar ... setiap tahun Opa selalu mengadakan makan malam bersama keluarga besar begini, paling doa sedikit bukan syukuran besar-besaran."
Huft, syukurlah. Keyvan sudah sekhawatir itu jika yang dimaksud adalah kehamilan Mikhayla. Andai saja benar memang lebih baik, akan tetapi bisa dipastikan Mikhail akan menjadikannya sasaran kemarahan karena berani melanggar janji yang telah dia sanggupi beberapa bulan lalu.
"Tenang saja, aku masih merahasiakan ini dari Papa ... hanya Mama yang tahu, sebenarnya aku tidak diizinkan hamil kan?"
Entah dari mana Mikhayla bisa mengetahui hal itu, Keyvan terdiam sejenak dan lagi-lagi dia dibuat kagum pada istri kecilnya yang mampu bersikap sedewasa itu. Padahal, di usianya yang semuda itu bisa saja bertindak gegabah dan membuat Keyvan justru terjebak masalah.
"Apapun itu, intinya saat ini tidak diizinkan ... tidak masalah, kita hadapi berdua dan aku akan tetap diam sampai Papa sadar sendiri, palingan dia pingsan sebentar setelah itu sadar dan tidak mungkin marah lagi."
Keyvan terdiam sejenak mendengar ucapan sang istri yang sekejam itu pada Mikhail. Demi apapun ide itu luar biasa gila dan tidak dapat diterima akal, pikir Keyvan. "Kamu sekejam itu? Kalau Papa benar-benar marah bagaimana?"
"Sekalipun dia marah, mau dengan cara apa? Kalau nanti Papa sadar dengan sendirinya itu artinya kandunganku sudah besar dan tidak akan mungkin dia tega untuk menggugurkan bayi kita ... aku sangat-sangat memikirkan hal ini, Papa itu tidak bisa ditebak dan dia bisa berbuat apa saja jika tidak sesuai keinginannya," lirih Mikhayla berharap Keyvan mengerti dan tidak menganggapnya sebagai putri durjana.
"Maaf, Khay ... karena aku kamu jadi pembohong begini," desis Keyvan tertunduk dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku tidak sedang berbohong, akan tetapi ini memang rahasia kita," tutur Mikhayla seraya menunjuk perutnya, Keyvan bahkan masih memerah sontak tertawa sumbang kala Mikhayla berucap demikian.
"Rahasia kita?"
"Iya, rahasia kita karena kita buatnya berdua," jawabnya cepat dan lagi-lagi membuat kesedihan Keyvan hilang sepenuhnya.
__ADS_1
"Lalu Mama bagaimana? Kan tidak ikut dalam prosesnya," sahut Keyvan terdengar konyol namun itu jelas saja bisa dijawab secara cepat oleh Mikhayla.
"Mama adalah saksinya," bisik Mikhayla dengan sengaja sedekat itu di telinga Keyvan hingga pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigit wajahnya.
"Aarrgh, udah sana mandi ... nanti telat, dimarahin Opa malu."
.
.
.
Sementara Keyvan mandi, Mikhayla sudah menyiapkan pakaian untuk mereka gunakan menuju kediaman Ibra. Karena suasana hati Mikhayla sedang sebahagia itu dia memutuskan untuk memilih pakaian dengan warna yang melambangkan sebuah kebahagiaan menurutnya. Ya, biru langit dan keduanya akan mengenakan pakaian yang senada.
"Sayang," panggil Keyvan dikala gemercik air tidak lagi terdengar, tampaknya pria itu sudah selesai.
"Iya ... kenapa?"
"Tolong bawakan handuk, aku lupa," pekik Keyvan yang membuat Mikhayla menghela napas kasar, biasanya Keyvan tidak pernah lupa dengan benda itu.
"Sayang, dengar, 'kan?"
"I-iyaa sebentar, aku ambilkan."
Meski firasatnya sedikit tidak baik akan tetapi demi menuruti perintah suami Mikhayla tetap memberikan handuk itu Keyvan. Dengan langkah pasti dia mendekat dan membuka pintu kamar mandinya pelan.
"Ini," ucap Mikhayla seraya menyerahkan handuk untuk sang suami, tanpa terduga yang Keyvan tangkap bukan handuk, melainkan pergelangan tangan Mikhayla.
"Heeeh, mau apa!! Jangan bercanda ya, aku teriakin maling mau?"
"Teriak saja, di rumah hanya ada kita," balas Keyvan tanpa melepaskan pergelangan tangan sang istri sama sekali.
__ADS_1
- To Be Continue -