Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 140 - Mandiri Sejak Bayi


__ADS_3

Hari berlalu dan Zavia tumbuh menjadi bayi yang sehat dan begitu baik. Di usia yang tengah aktif-aktifnya Zavia kerap membuat kepala bagian belakang Keyvan dan Mikhayla sedikit sakit. Pria itu bahkan mengeluhkan banyak hal pada sahabatnya lantaran dia merasa Zavia terlampau aktif.


Bagaimana tidak, masih sekecil itu tapi sudah membuat Mikhayla hampir pingsan lantaran dia menghilang dan ternyata bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Tidak hanya dia dan Keyvan saja yang dibuat hampir gila, melainkan Mikhail dan Zia juga.


Sekeluarga dibuat panik, bahkan Mikhail sudah marah besar pada Rani lantaran tidak bisa menjawab padahal yang terakhir menjaganya setelah Keyvan ke kantor adalah Rani. Begitu tenang Zavia di sana, tanpa bersuara dan bahkan dengan lelapnya dia tidur di sana.


"Kenapa matamu, Van?"


"Lelah, putriku benar-benar membuatku sakit kepala. Ya, Tuhan ... kupikir dia tidak akan seperti itu, aku masih kecil tidak banyak ulah, Justin."


"Kamu jangan lupa siapa yang kamu nikahi, wajar saja putrimu begitu. Kau sendiri yang mengatakan jika sepupu Mikhayla menyebalkan semua, 'kan?"


"Hem apalagi yang gendut itu," ungkap Keyvan mengingat dengan jelas Zeeshan, putra Syakil.


"Nikmati saja, Van ... namanya tumbuh kembang anak beda-beda, semua itu anugerah percayalah."


"Giska pendiam, beda dengan Zavia yang ditinggal sebentar dia menghilang," ujar Justin membandingkan putri Keny yang memang begitu tenang dan tidak banyak gerak, berbeda dengan Zavia.


"Ikat saja kalau begitu, Van."


"Kau kira putriku ayam jantan pakai diikat segala."

__ADS_1


Ide dari Keny sama sekali tidak menyelesaikan masalah, pria itu kemudian terkekeh tanpa dosa usai menyampaikan saran paling tidak bergunanya itu. Dia memang tidak merasakan bagaimana rasanya di posisi Keyvan, putri aktif istri terkadang manja dan mertua juga ikut perlu mendapat perhatian.


Ketiganya kini tengah menghabiskan waktu di apartement Keyvan, mereka yang kasihan dengan keadaanya berniat baik bahkan membawakan buah lantaran khawatir Keyvan kurang vitamin. "Putrimu mana sekarang, Van?"


"Ada di kamar, mungkin masih mandi ... aku panggilkan ya."


"Tidak, aku harus pergi, Van. Salam untuk Khayla ya," ungkap Justin seakan sibuk sekali padahal ini hari minggu, entah kenapa akhir-akhir ini Justin kerap pergi tanpa mereka ketahui kemana tujuannya.


"Mau kemana? Tidak mungkin club pagi-pagi begini?"


"Ck, bukan itu ... bisnis," ungkap Justin dan hal itu sontak membuat Keny terbahak, mana mungkin pria itu pergi dengan alasan bisnis, mustahil sekali.


"Terserah, kau juga mau pergi, Keny?"


"Semoga ya, perlihatkan semua kekayaanmu, Keny!! Semangat!!"


.


.


.

__ADS_1


Selepas kepergian sahabatnya, Keyvan kembali ke kamar untuk melihat bagaimana perkembangan sang istri yang katanya sudah bisa menjaga anak. Keyvan membuka pintu kamar begitu pelan, ketika masuk tidak lagi terdengar celotehan putrinya.


"Sayang, Zavia mana?"


Keyvan sejenak bingung kenapa Mikhayla terdiam di tepian ranjang. Wajah putus asa Mikhayla membuat firasat Keyvan sedikit buruk, itu adalah tanda-tanda istrinya menyerah. "Khayla? Via sudah mandi?"


"Sudah, tapi belum ganti baju," jawabnya lemah dan hal itu semakin membuat Keyvan khawatir.


"Serius? Lalu dia kemana?"


"Mau ganti baju sendiri mungkin, terusin sana aku mau mandi juga ... tadi sudah basah semua karena Zavia," ungkapnya benar-benar meminta, Mikhayla pernah menjaga Lengkara tapi dia rasa tidak segila ini, sungguh berhasil membuat kepalanya berasap seketika.


Keyvan mengangguk, pria itu melihat dengan jelas bagaimana sang istri melangkah gontai, sementara dia segera berlalu dan mencari keberadaan Zavia.


"Zavia, sayang Papa dimana?"


Zavia yang diam adalah sebuah bencana, biasanya dia tengah melakukan sesuatu yang sangat dia senangi hingga tidak tertarik akan hal lain. Benar saja, beberapa saat kemudian Keyvan sudah dibuat terpejam kala menyaksikan kelakuan putrinya.


"Astaga, putriku berusaha mandiri rupanya ... Sayang, pakainya tidak begitu, Ya Tuhan Khayla kenapa dibiarkan begini," keluh Keyvan sungguh bingung sendiri, dia mengusap wajahnya kasar namun jelas tidak bisa marah jika yang berulah seimut ini.


__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2