Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 80 - Jalan Paling Benar


__ADS_3

"Ya Tuhan istriku, benar-benar membuat gila," gumam Keyvan kemudian mengusap wajah kasarnya, melihat Keyvan gelisah pria itu mendadak ragu jika tanggal pernikahan itu adalah keputusan Keyvan.


"Van?"


Justin mengerutkan dahi, jika memang itu keputusan Keyvan tidak mungkin dia gusar begini. Pria itu menoleh dan menatap Justin bingung, sebelumnya memang dia sempat mengatakan pada Mikhayla terkait pesta pernikaha terserah sang istri. Akan tetapi, sama sekali tidak dia duga jika Mikhayla akan benar-benar menuruti ucapannya yang menekankan kata terserah.


"Aku harus pulang, Justin ... Wibowo batalkan semua pertemuan hari ini."


Perintah dadakan yang lagi-lagi membuat Wibowo hanya mengangguk pelan. Pria itu kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan, Justin yang dibuat bingung berusaha mengejar Keyvan dengan langkah panjangnya.


"Van, tunggu!! Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau jadi begini?"


"Nanti saja aku jelaskan, Justin ... aku harus menjemput istriku, ini jam pulangnya."


Keyvan beralasan demikian agar Justin tidak banyak bertanya lagi. Padahal tujuannya bukan hanya itu, Keyvan tetap meneruskan langkahnya meski Justin masih tetap mengikuti langkah Keyvan dari sampingnya.


"Keyvan!! Lalu bagaimana dengan Mike?"


"Nanti malam, Justin ... aku tidak pernah lupa, sekarang tolong pastikan keadaan di sini baik-baik saja, aku harus pulang." Keyvan menepuk pundak Justin pelan, lagi dan lagi Justin tidak punya kuasa untuk menahan Keyvan tetap di sini.


"Huft, Evan-evan ... aku tidak habis pikir kenapa bisa begitu?" Justin bermonolog seraya menatap punggung Keyvan yang kian menjauh.


"Ya begitulah, ketika punya istri dunia seorang pria tidak hanya bisa fokus dengan pekerjaan saja," sahut Keny yang tiba-tiba saja datang merangkul pundak Justin.


"Itulah alasan kenapa aku lebih baik bercerai saja."


Justin menggeleng pelan, sama sekali tidak sepaham dengannya kenapa seorang pria bisa setunduk itu pada wanita hingga pekerjaan kerap dianggap sepele. Dia yang gagal menikah sampai dua kali juga akibat lantaran wanita adalah makhluk paling rumit menurutnya.


"Kau belum saja merasakan yang namanya kebahagiaan dalam rumah tangga, Justin ... salah sendiri menikahi wanita tidak bermoral," ucap Keny kemudian dengan bangganya menepuk dada lantaran dia merasakan hangatnya pernikahan hingga bisa memahami Keyvan.


"Terserah kalian, aku tetap pada pendirianku ... wanita itu merepotkan." Justin tetap meyakini pendiriannya dan membantah semua ucapan Keny.


"Sama sekali tidak begitu, Justin. Sini aku jelaskan, bagaimana seorang wanita. Kau lihat bagaimana pernikahanku bukan? Ketika kau menemukan wanita yang tepat, kalimat itu tidak akan pernah terucap lagi. Istriku sama sekali tidak merepotkan dan di_"


Drrt Drrt Drrt


Belum selesai bicara, ponsel Keny telah bergetar dan terpaksa dia menerima telepon tersebut. Justin meliriknya malas, apalagi kala senyum tengil Keny terlihat jelas. Ya, sudah pasti itu istri Keny dan demi apapun Justin sebal sekali mendengarnya.

__ADS_1


"Sebentar, ratuku yang telepon."


"Hm," jawab Justin malas, ingin sekali dia berbalik sekarang juga.


"Hallo, Sayang ... Apa? Sakit?! Oke-oke, aku pulang sebentar lagi. Sabar ya, Sayang." Suaranya menggema hingga telinga Justin sakit sekali, pria itu kemudian segera mengakhiri sambungan teleponnya.


"Justin ... aku juga harus pulang juga, istriku terluka. Jarinya terkena pisau, ays!! Siapa juga yang meminta dia masak sendiri."


Keny berlalu begitu saja meninggalkan Justin yang kini memukul angin. Setelah kejadian ini dia semakin yakin jika seorang wanita memang ditakdirkan untuk merepotkan.


"Kau berada di jalan yang benar, Justin."


Justin kembali melangkah masuk dan mencoba memaklumi kedua sahabatnya yang tampaknya memang benar-benar buta itu. Semenjak memiliki pasangan, kedua sahabatnya memang begitu berbeda.


.


.


.


"Khay?"


"Apalagi, Alka?!! Sudah jelas di sana, masih nanya juga ... apa kamu buta?"


Selain Keyvan, Alka juga sama gusarnya akibat postingan Mikhayla tadi malam. Setelah berjam-jam tidak punya kesempatan untuk bicara, pria itu kini berhasil membuntuti Mikhayla ke toilet. Ya, kali ini memang dia didampingi Bastian atas perintah papanya.


"Kamu bercanda kan? A-aku minta maaf, Khay ... aku mengatakan hal itu karena kesal, maafin aku, Khayla."


Sama sekali Mikhayla tidak peduli, Alka dengan teganya menyebar fitnah dan mengatakan jika Mikhayla adalah simpanan om-om dan itu membuat hati Mikhayla terluka. Wanita itu melayangkan serangan yang bisa membuat mulut Alka dan teman-temannya jadi diam, kini berhasil. Bahkan suaminya sendiri dibuat tidak bisa berkata apa-apa.


"Nggak, aku memang sudah menikah dan bahkan kamu sudah dengar sendiri suamiku menyebutku sebagai istri ketika kita bertemu tarakhir kali."


"Kamu jahat banget sumpah!! Kamu nggak mikirin perasaan aku, Khayla?" tanya Alka dengan mata yang kini membasah, dia mengepalkan tangan dan hal ini membuat Mikhayla tersenyum senang.


"Kamu minta dipikirin? Sementara kamu aja nyebar fitnah nggak jelas itu tentang aku, salah aku bela diri? Kamu ngotorin nama aku aja nggak mikir!!" sentak Mikhayla kesal, andai saja Alka tidak sejahat itu Mikhayla tidak akan melakukan hal diluar batas begini.


"Tapi aku begitu karena sayang sama kamu."

__ADS_1


"Sayang? Heh kalau memang sayang nggak akan tega buat mabok demi bisa menikmati tubuhnya, kamu pikir aku bodoh? Berhenti membual, jangan buat aku semakin marah, Alka!!"


Alka hanya bisa diam, dia tidak punya kalimat lain lagi untuk bisa membantah Mikhayla. Hingga, teriakan seorang mahasiswi yang lain memaksa Alka untuk berlari dari toilet wanita. "Kenapa diusir? Padahal kan dia bukan laki-laki," tutur Mikhayla pada salah satu mahasiswi yang memang mengenalnya meski tidak begitu dekat.


"Ada-ada saja si, Khayla ... btw kalian memang putus beneran?"


"Iya, sejak kapan aku suka settingan," jawab Mikhayla kemudian berlalu keluar dan mencari keberadaan Bastian. Semua peraalatannya Bastian yang bertanggung jawab karena khawatir lupa meletakkannya dimana.


Tiba di luar, Mikhayla menghampiri pria berbadan besar itu. Dia tampak santai di taman sembari mengecek notifikasi ponselnya, tentu saja menunggu kabar dari Rani, tebak Mikhayla.


"Pacaran terus istrinya, kurang waktunya di rumah ya, Om?" tanya Mikhayla sembari menepuk pundaknya.


"Bukan Rani, tapi Bos yang kirim pesan. Dia sudah menunggu di depan, ayo pulang," ujar Bastian membuat Mikhayla bingung sejenak, dia tampak berpikir siapa yang dimaksud.


"Papa?"


"Bukan, tapi Evan."


Sama sekali Keyvan tidak pernah berkata akan menjemput Mikhayla hari ini. Dia jelas saja terkejut dan sontak beranjak dari tempat peristirahatan sementaranya. Ada apa gerangan suaminya datang, tanpa kabar dan sama sekali Mikhayla tidak mengetahui rencana Keyvan kali ini.


"Bang Evan marah-marah, Om?" tanya Mikhayla mendadak khawatir dan perasaannya tidak baik-baik saja kini.


"Tidak, hanya khawatir makanya dia yang jemput."


Semakin panik Mikhayla, apalagi mobil sang suami sudah ada di hadapannya dan pria itu berdiri dengan memasukkan tangan di saku celananya. Tatapan tajam Keyvan membuat tenggorokan Mikhayla kering seketika.


"Kenapa dijemput?" tanya Mikhayla sedikit bergetar namun Keyvan segera membukakan pintu untuknya.


"Ingin saja, tidak masalah kan, Sayang?"


Sama sekali tidak masalah, akan tetapi dada mikhayla berdegub kencang kala sang suami menarik pergelangan tangannya untuk masuk segera.


Matilah aku, apa jangan-jangan dia sudah tahu ya?


- To Be Continue -


Ohayu, coba pada muncul di kolom komentarđź’‹ Apa Keyvan sudah ditinggalkan? Tembus 150 di eps ini bisaaa?!!

__ADS_1


__ADS_2