
Puas membuat Justin sakit kepala, kini saatnya Zavia pulang. Beruntung saja Keyvan tidak ada rapat hari ini, jadi waktu yang dia gunakan memang hanya untuk menjaga Zavia semata. Benar kata Mikhayla, membawa Zavia artinya Keyvan sudah siap direpotkan karena mana bisa lagi dia bekerja.
"Terima kasih, Justin ... kau banyak membantu hari ini."
"Hm."
"Lusa Rani dan Bastian belum bisa masuk, kau masih bisa bantu jaga Zavia?"
"Haah? Ta-tapi ... ya sudah aku usahakan.
Justin menjawab lesu, ingin sekali menolak hanya saja Zavia yang menatapnya dalam pelukan Keyvan membuat jiwa pria itu luluh seketika. Semudah itu dia luluh, padahal hati Justin sudah yakin seratus persen tidak akan lagi berurusan dengan keturunan Keyvan ini.
"Kita pulang ... Zavia pamit sama uncle, Sayang."
Bagian paling menyenangkan dalam hidup Justin hanya ini, Zavia mengecup punggung tangannya dan melambaikan tangan dengan jemari gembulnya itu. Belum lagi Zavia yang tersenyum malu dan masih saja berusaha menyembunyikan wajahnya di ketiak Keyvan kala Justin menggodanya.
"Aarrggh menggemaskan."
"Ck, jangan kau cubit."
Keyvan berdecak sebal lantaran Justin tiba-tiba mencubit pipinya hingga memerah. Mungkin dalam rangka balas dendam karena Zavia buat sakit pinggang hari ini, pikir Keyvan.
"Aku tidak tahan, Van ... kenapa bisa dia selucu ini," ujar Justin jujur.
Dia seakan lupa bagaimana ulah putri Keyvan jika sedang dalam mode full baterai, dia terlihat tenang begini karena memang baru bangun tidur, itu pun Keyvan yang bangunkan.
"Tentu saja bisa, kau lihat dulu pabriknya."
"Benar juga, Mikhayla memang menggemaskan ... tidak heran putrinya juga begini," puji Justin jujur dak tidak ada maksud apa-apa. Akan tetapi, wajah Keyvan kini kembali datar dan Justin paham betul maksud perubahan raut wajahnya.
"Kau cemburu?"
__ADS_1
"Tidak, sebal saja mendengarnya."
"Dasar aneh, sudah sana pulang ... hati-hati bawa jodohku ini," ujar Justin lagi-lagi menggoda Zavia dengan sengaja menyentuh dagunya. Tanpa dia duga, Zavia menangkap jemari Justin dan menyerang pria itu tiba-tiba.
"Aaarrrrgghh, Van!! Giginya ... Aawww ya, Tuhan."
Dada Justin kembang kempis dibuatnya, dia terlena dengan Zavia yang terlihat lucu ini. Sementara Keyvan hanya tertawa sumbang melihat sahabatnya itu menjerit kesakitan, maklum saja Mikhayla memang suka gigit menggigit sejak dahulu.
"Kau diam saja? Jariku putus bagaimana ... Zavia, kalau jari uncle putus bagaimana? Mau jodohmu ini ada cacatnya? Hm?"
Masih saja dia goda, sudah mendapatkan kesakitan hingga bekas giginya tampak nyata kini dia kembali mengecup punggung tangan Zavia yang berakhir dengan mendapat pukulan tepat di matanya.
"Aww jodohku toxic sekali, yang begini sakit, Sayang."
"Jodoh dengkulmu," gumam Keyvan lantaran sejak dulu kebiasaan sekali Justin mengatakan hal itu.
"Sakit, Van serius," ungkapnya menggosok pelan kelopak mata yang baru saja mendapat bogem dari Zavia.
"Itu adalah tanda-tanda dia berontak dan tidak sudi jadi jodohmu ... sudah sana pulang, lebih baik kau merenung setelah ini. Kira-kira apa yang salah dengan otakmu sampai mengharapkan Zavia jadi jodohmu," ujar Keyvan mengusap wajah Justin sekilas, ini adalah hal aneh dan harus segera diantisipasi. Khawatir jika itu adalah ucapan sungguhan, karena memang antara candaan dan sungguh-sungguh cukup sulit dibedakan.
"Gamau."
"Kenapa begitu? Uncle kaya loh."
"Tapi Zavia tidak suka pria tua, Uncle," jawab Keyvan santai dan itu tidak terbantahkan.
"Van ... kau_"
"Ah sudah aku pulang saja, istriku bisa marah kalau nanti terlambat jemputnya," ungkap Keyvan kemudian berlalu meninggalkan Justin yang kini masih merenungi setiap kalimat Keyvan.
"Apa iya aku tua? Umurku sekarang berapa memangnya?"
__ADS_1
Dia bertanya pada diri sendiri karena memang tampaknya lupa dengan usia, pria itu merogoh dompet untuk melihat indentitas pribadinya.
"Hah, ini tahun berapa? Seingatku baru 27 ... apa mungkin salah?"
Tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu, Justin tidak menyadari jika usianya sudah sematang itu. 27 tahun itu adalah usia ketika dia menikah untuk pertama kali, tepatnya enam tahun lalu.
Hah lupakan, siapa juga yang peduli umurku ... jika aku tutup mulut tidak akan ada yang tahu aku setua ini.
Justin berlalu menuju jalan raya, dia yang tidak membawa mobil hari ini terpaksa menggunakan kendaraan umum lebih dulu. Hendak meminta antar Keyvan tidak mungkin karena pria itu jelas punya tanggung jawab sendiri.
Hidup begini sepertinya tidak begitu sulit, Justin suka dan kini dia duduk manis menikmati perjalanan. Hingga, ketika berhenti di halte selanjutnya seorang gadis dengan jaket hitam dan celana pendek tampak berlari ke arahnya.
"Om boleh ganti posisi tidak? Aku mau di dekat jendela," pintanya sopan dan dia tampak terburu, ingin sekali mendapatkan tempat duduk di samping Justin.
"Sebelahku? Kursi belakang masih banyak yang kosong ... aku malas bergerak."
Sebenarnya Justin bukan pelit, tapi dia sedikit kesal akibat dipanggil Om oleh gadis itu. Dia yang berusaha damai dan merasa masih muda, tiba-tiba didatangi seorang gadis yang memanggilnya dengan sebutan Om. Andai seumuran Zavia sah-sah saja dan dia tidak akan marah.
Mendengar penolakan Justin, gadis itu semakin gugup dan dia kembali menyembunyikan wajah dibalik topinya. Beberapa detik Justin tidak ada niat baik, gadis itu tetap nekat dan kini dia berhasil duduk di samping Justin meski ada drama nyangkut di lutut pria itu.
"Ck, kau? Paham sopan santun tidak, sudah tahu aku tidak izinkan mas_"
"Shuut, aku duduk di kursi, bukan di pangkuanmu ... apa salahnya?" Dia bicara seraya menempelkan jemari ke bibir Justin, lancang sekali hingga pria itu menepis tangannya seraya menghela napas kasar.
Keras kepala, bisa-bisanya ada gadis tidak tahu etika seperti ini ... memang hanya Zavia yang waras di muka bumi ini.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -