
Niatnya hanya menjemput sang istri, nyatanya dia juga tidak lagi kembali. Keyvan memutuskan pulang dengan alasan khawatir, padahal sudah berkali-kali Mikhayla jelaskan dia baik-baik saja.
Sudah cukup lama dia bertahan dengan posisi ini, tidur di pangkuan Keyvan sembari menikmati serial kartun kesayangannya di salah satu stasiun televisi kebanggaan tanah air.
Mau tidak mau, Keyvan juga harus menikmatinya. Dia yang terbiasa mendengar berita kriminal kini beralih dengan tontontan lebih aman bagi anak-anak itu. Sejak tadi Keyvan bingung dimana letak menariknya serial tersebut, kepala lehih besar dari tubuh dan semua yang dia lihat tidak masuk akal.
Tidur?
Keyvan sedikit bingung lantaran Mikhayla yang kini diam, entah tidur atau tengah menikmati tontonannya hingga setenang ini. Biasanya dia akan mengatakan sepatah dua kata, akan tetapi kali ini dia benar-benar diam dan ini tampak aneh sebenarnya.
Bertahan dengan posisi tersebut tanpa mengucapkan apa-apa dia bosan juga. Merasa jika perkiraannya benar, Keyvan ingin membawa sang istri untuk kembali ke kamar.
"Ih kenapa di matiin?"
Keyvan terkejut kala Mikhayla merubah posisi dan kini menatapnya begitu tajam. Diamnya sang istri membuat Keyvan salah paham, ya pria itu berpikir jika istrinya tidak lagi sadarkan diri.
"Aku pikir tidur, Khayla."
Suasana hatinya yang kini rusak tidak dapat diselamatkan. Sungguh, dia tengah fokus menyaksikan para bajak laut yang mencari harta karun di pulau terpencil itu. Keyvan yang sudah wanti-wanti menghadapi suasana hati perempuan semacam ini masih memilih diam dan tidak mengusik Mikhayla dengan alasan apapun.
"Apa? Mau marah?" tanya Keyvan menopang dagu dan menatap sang istri yang kini duduk tidak manis di sampingnya.
Mata Mikhayla menjelaskan amarah. Sayangnya, pria di hadapannya ini bukannya Mikhail yang akan membujuk jika dia marah dengan cara ini. Sama sekali Keyvan tidak punya pikiran untuk membujuknya seperti bayi, pria itu hanya terkekeh kala Mikhayla berdecak sebal dan kelihatan bingung hendak meluapkan amarahnya.
Merasa kesal lantaran kegiatannya diganggu, wanita itu beranjak dan hendak meninggalkan Keyvan sendirian. Sayangnya, pergerakan Mikhayla dia sadari secepat itu hingga Keyvan menarik paksa sang istri dan kini terduduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Kamar, di sini gerah," jawab Mikhayla asal bicara, padahal sama saja dan bahkan terasa sejuk di setiap ruangannya.
"Kenapa harus di kamar? Di sini juga bisa," tutur Keyvan yang membuat Mikhayla berpikir macam-macam, kecupan di bahunya sejenak membuat Mikhayla meremang.
"Kurang nyaman, posisiku terbatas," jawab Mikhayla sedikit gugup, sebisa mungkin dia berusaha untuk membuat pikiran tetap jernih. Sayangnya, otak Keyvan yang niat awalnya sudah sedikit keruh semakin keruh ketika mendengar jawaban spontan Mikhayla.
"Kita belum pernah coba, tahu dari mana terbatas?"
Menyesal sekali Mikhayla menjawab demikian, yang dia maksudkan posisi tidur tapi Keyvan justru serius membahas posisi yang lain.
"Maksudku, po-posisi tidur ... aku kan tidurnya jelek, kalau di sofa nanti jatuh."
"Aku tidak bicara posisi tidur, lagipula ini bukan jam tidur siang." Keyvan dengan santainya menelusupkan tangan dibalik baju Mikhayla, salahnya pakaian dia kali ini dapat dikatakan kurang bahan dengan alasan panas di siang hari.
"Mau apa?"
"Kamu melupakan janji beberapa jam lalu? Touch me like you want, Honey ... masih ingat?" Beberapa jam lalu memang Mikhayla menjanjikan hal ini, sungguh Mikhayla berharap Keyvan lupa nyatanya tidak sama sekali.
"Tapi jangan di sini, kalau ada yang lihat bagaimana?" Siapapun jika berada di posisi Mikhayla jelas paham kehendak suaminya menginginkan apa, jelas saja dia was-was jika pelayan ataupun tukang kebun melihat perbuatan mereka.
"Tidak akan, mereka tidak akan masuk ke ruangan yang sama denganku selagi aku tidak meminta, Khay."
Keyvan yang sempat bosan akibat dipaksa menonton serial kartun anak-anak itu, kini berniat memberikan amunisi untuk matanya. Secepat itu dia melucuti crop top yang Mikhayla padukan dengan celana sejengkal itu, memang salah dia berpakaian sedemikian rupa di hadapan Keyvan.
__ADS_1
"Tunggu, nanti ada tamu bagaimana?"
Masih berusaha mempertahankan diri dari kegilaan Keyvan yang benar-benar mengajaknya bercinta siang ini. Mikhayla kian ketar-ketir kala Keyvan berhasil merobek celananya dengan satu kali tarikan, seperti tidak ada cara lain saja.
"Bercandanya tidak lucu sama sekali," kesal Mikhayla mencubit tangan Keyvan lantaran sebal luar biasa celananya tidak dapat digunakan lagi.
"Kamu bisa diam? Atau mau kubawa ke kolam renang sekalian?"
Mikhayla menggeleng cepat, yang benar saja jika sampai benar-benar di kolam renang. Sementara Ratni dan yang lain kerap berkumpul di taman belakang, memang otak Keyvan sepertinya kurang berfungsi, pikir Mikhayla.
Seperti biasa, sejak kapan Keyvan menerima penolakan jika sudah dihadapkan dengan hal semacam ini. Malu dan was-was yang Mikhayla rasa masih menjadi alasan dia memberontak sesaat, akan tetapi tubuhnya seakan berkhianat dan menerima setiap sentuhan Keyvan.
"Ssshh ...."
Keyvan menarik sudut bibir kala suara yang selalu Keyvan rindukan itu kini terdengar begitu nyata di telinganya. Sudah dia duga mana mungkin Mikhayla mampu menahan gelora dalam jiwanya.
Gigitan kecil di lehernya menciptakan rasa sakit yang begitu candu dalam diri Mikhayla, sekujur tubuhnya selalu berhasil dibuat terbakar setiap kali Keyvan mencumbunya.
Goresan di dada dan punggung Keyvan bahkan masih memerah, sayangnya pria itu sama sekali tidak jera. Dia menyukai setiap sentuhan Mikhayla walau pada akhirnya menggoreskan luka, dessahan dan rinttihan tertahan lantaran sang istri menggigit bibir bawahnya. Ya, dia masih khawatir seseorang akan mendengar racauan kenikmatannya.
"Khayla ...." Mata Keyvan seakan tertutup kabut, deru napas Mikhayla menelusup indera pendengarannya. Sungguh, dia takkan lagi mampu menahannya lebih lama.
"Evan!! What are you doing here?!"
- To Be Continue -
__ADS_1