
Hari berlalu begitu cepat, cukup lama Mikhayla dan Keyvan menghabiskan waktu di kediaman sang papa demi hidup tenang. Selain ingin memastikan mental Mikhayla lebih baik, hal itu juga semakin mendekatkan hubungan Keyvan dan Mikhail.
Meski berawal dengan cara tidak baik, bukan berarti selamanya akan tidak baik. Keyvan akan menebus semua yang dia lakukan terhadap Mikhayla, memulai hidup baru tanpa melibatkan masa lalu. Bukan hanya karena permintaan Mikhail, melainkan memang niat Keyvan yang demikian.
Penthouse yang kala itu dia dapatkan dari Justin akhirnya menjadi aset bermanfaat juga. Keyvan juga tidak tinggal diam terkait pencacatan pernikahannya. Ya, meski memang sedikit rumit lantaran usia Mikhayla yang masih 18 belas tahun, bukan berarti tidak mungkin untuknya mendapatkan dokumen penting itu.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Kini keduanya benar-benar pindah, Mikhayla yang memang penurut sekalipun dibawa pindah ke gua akan ikut jelas tidak protes kala Keyvan mengajaknya pindah.
Apalagi, begitu mendapati hunian barunya semewah ini. Tanpa tahu dari mana asalnya, yang jelas Mikhayla merasa nyaman dengan tempat barunya. Mungkin dia akan sedikit tidak percaya begitu mengetahui fakta bahwa penthouse yang kini dia pijaki adalah hasil taruhan sang suami.
Mata Mikhayla membulat sempurna, dia tidak berhenti berdecak kagum kala semenjak masuk. Tanpa ada foto pernikahan Keyvan di masa lalu, tidak juga ada foto Liora yang mengganggu mata Mikhayla. Ah, sungguh ini adalah surga yang dia impikan.
"Hanya berdua?" tanya Mikhayla kemudian kala menyadari sejak tadi tidak ada tanda-tanda kehidupan lainnya.
"Tidak," jawab Keyvan singkat padahal saat ini nyata-nyata hanya mereka berdua. Mikhayla jelas saja bingung mendengar jawaban Keyvan yang sama sekali tidak jelas.
"Lalu sama siapa? Jangan bilang orang-orang yang dulu masih kerja ikut kita?" Mikhayla khawatir andai saja memang Keyvan masih memberikan kesempatan pada orang-orang yang menutup mata dan telinga ketika dia berada di posisi sulit.
"Our baby," jawab Keyvan menarik sudut bibirnya, Mikhayla yang kini duduk di sofa terdiam sejenak.
"Kenapa diam? Bukankah kamu menginginkan anak juga?"
"Tentu saja ... Mama sudah kasih izin aku hamil kemarin," ujar Mikhayla sontak membuat Keyvan menghentikan kesibukannya, pria itu menatap sang istri dengan wajah bingung seakan tidak percaya jika Zia yang berkata demikian.
"Benarkah?"
Keyvan mendekat dan kini duduk di samping Mikhayla, sesaat dia tidak peduli perkara tanaman hias yang Justin berikan sebagai sumber oksigen di ruangan tersebut. Apa yang Mikhayla katakan jauh lebih menarik dibandingkan apapun.
"Hm, kemarin aku minta izin ... katanya boleh." Mikhayla menatap Keyvan yang juga penuh harap saat ini.
Lampu hijau resmi menyala meski
__ADS_1
hanya dari satu pihak. Walau sebenarnya Keyvan sudah berusaha membuat Mikhayla hamil sejak beberapa minggu lalu, akan tetapi tetap saja dia merasa berdosa karena melanggar sesuatu yang memang dilarang.
"Are you serius, Honey?"
Mikhayla mengangguk pasti, dia meyakinkan Keyvan jika ucapannya tidak salah. Meski dia termasuk anak manja, akan tetapi Mikhayla memiliki jiwa keibuan yang besar dan begitu mencintai anak kecil. Itu sebabnya dia masih ikut andil membantu Mikhail dalam merayu Zia agar mau memiliki anak lagi, padahal Zia sudah benar-benar tidak memiliki keinginan untuk menambah momongan lagi.
"Bagaimana caramu meminta izinnya, Sayang?"
.
.
.
Tentu saja ada caranya, dan itu bukan meminta baik-baik. Dia santai sekali bicara jika Zia yang memberikan izin, padahal yang terjadi sesungguhnya ialah dia memaksa Zia berkata "Iya" dengan sejuta kalimat manisnya.
Kemarin, sewaktu Keyvan ke kantor dia yang hanya berdua bersama sang mama berbicara banyak hal hingga tiba dimana Mikhayla meminta Zia menceritakan kisahnya sewaktu dalam kandungan. Awalnya pembicaraan normal-normal saja, hingga dia bertanya serius dan membuat Zia merasa salah dengar.
"Khayla mau hamil juga."
Mikhayla terdengar bercanda namun itulah nyatanya. Sontak Zia dibuat tidak percaya dan mengerutkan dahi, di usia masih begitu muda Mikhayla benar-benar yakin tentang keinginannya.
"Hamil? Kamu pikir mudah?" Zia menggeleng pelan, bingung sendiri kenapa putrinya bisa sesantai ini dalam bicara.
"Ya apa sulitnya? Kan Khayla punya suami, suami Khayla juga sehat dan normal ... Khayla pasti mudah hamil, Ma."
Tidak salah, tapi tidak benar juga. Bukan begitu maksud Zia, sama sekali bukan begitu!! Ucapan Mikhayla sukses membuat wanita itu mengurut dada. Demi Tuhan, sama sekali Zia tidak berpikir putrinya akan menjawab seperti itu. Zia yang awalnya telah menilai Keyvan baik, mendadak ragu ketika otak putrinya begini.
"Bukan itu maksud Mama, Sayang ... dengarkan, Mama tidak bicara prosesnya karena memang mudah selagi ada suaminya. Yang Mama maksud itu ketika kamu merasakannya, sembilan bulan sepuluh hari, Mikhayla!! Bukan sebentar!!" jelas Zia perlahan berharap sang putri mengerti maksud ucapannya.
Sama sekali dia tidak marah, hanya saja khawatir jika keadaan putrinya nanti. Zia khawatir karena dia pernah merasakan di titik itu, bagaimana sulitnya perjuangan menjalani peran sebagai ibu. Sama sekali tidak mudah, apalagi usianya yang semuda itu, demi apapun Zia benar-benar ragu.
__ADS_1
"Iya Khayla tahu, sembilan bulan sepuluh hari ... perjuangan menjaganya memang tidak mudah. Tapi kan, setelah hamil Khayla akan melahirkan bayi yang lucu-lucu," ucap Mikhayla dengan wajah sendunya, demi mendapatkan izin sang mama dia benar-benar berjuang sebaik mungkin.
"Ayolah, Ma, lagipula apa Mama tidak bosan Papa minta anak melulu. Kalau misal Papa punya cucu setidaknya Papa malu dan sadar kalau sudah jadi kakek-kakek," tambah Mikhayla sukses membuat Zia diam seribu bahasa.
Memang benar ucapan putrinya, Mikhail tidak berhenti meminta bayi lagi dengan alasan Lengkara dan Ameera sudah besar dan tidak bisa ditimang lagi. Mungkin dengan adanya seorang cucu, suaminya akan benar-benar berhenti.
"Iya ma? Hmm boleh ya, Ma?"
Jika anak seusianya mungkin akan merayu minta dibelikan ini dan itu. Lain halnya dengan Khayla yang justru minta diizinkan hamil. Zia yang kini menatapnya bingung menimbang keputusan, di sisi lain dia khawatir namun di sisi lain melihat niat putrinya dan bagaimana Keyvan memperlakukan Mikhayla dia harus berpikir jernih.
"Kamu yakin, Khayla? Ketika kamu jadi seorang ibu pernikahan kalian bukan hanya tentang bersenang-senang, tapi juga tanggung jawab. Sanggup begadang? Apa kamu tidak akan menangis kalau bayi kamu nanti menangis? Hm, coba jawab Mama." Zia bertanya sembari menatap lekat manik indah putrinya.
"Yakin!! Khayla paham resikonya, dulu waktu Lengkara sama Ameera masih bayi, Khayla sering temenin Mama ... pasti sekarang beneran bisa," ucap Mikhayla mengulas senyum manis hingga membuat Zia mengangguk pada akhirnya. Dia juga berpikir, untuk pria seusia Keyvan memang sudah sepantasnya memiliki seorang anak dari pernikahannya.
"Baiklah kalau begitu, Mama izinkan dengan catatan hal ini juga sudah suami kamu pertimbangkan," tutur Zia yang kemudian membuatnya mendapat pelukan erat dari sang putri tanpa aba-aba.
"Alah lebay!! Udah punya suami masih aja minta apa-apa ke Mama."
Zean yang baru pulang dari main basket bersama Sean sontak melontarkan kalimat itu kala mendapati Mikhayla tengah berkali-kali mengucapkapkan terima kasih, mungkin Zean pikir Mikhayla masih meminta pada mamanya.
"Dih, anak kecil ikut campur aja!! Sebelum dikasih suami harus izin Mama dulu lah."
"Memangnya Khayla minta apa, Ma?" tanya Sean yang sembarangan duduk meski keringatnya masih bercucuran hingga bajunya basah.
"Kepo, udah sana mandi ... bau, dekil lagi."
"Yeee padahal Bang Evan kalau ikut main keringatnya lebih banyak dari kita, iya, 'kan, Zean?" Sean menjulurkan lidahnya, meski sudah menikah Khayla tetap menempati posisi teman bertengkar paling utama.
"Hm, bassaaaaaah sampai bulu keteknya bisa diperras!!" jawab Zean hiperbola hingga bantalan sofa mendarat tepat di wajahnya.
- To Be Continue -
__ADS_1