Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 152 - Keluarga Sempurna - End


__ADS_3

Realita tidak sesuai ekspetasi, hari yang Mikhayla duga akan sesibuk itu kini terganti menjadi hari malas-malasan dan membuat dia bahkan tertidur hingga siang hari. Mikhayla menggeliat kala dia menyadari sang suami sudah tidak ada lagi di sisinya, melainkan mandi.


"Jam berapa?" tanya Mikhayla dengan suara serak menatap Keyvan yang baru saja keluar dengan rambut basahnya.


"Jam dua belas, kamu lapar, Sayang?" tanya Keyvan kemudian, pria itu mendekati sang istri masih dengan keadaan basah begitu. Heran sekali kenapa Keyvan kebiasaan dan tidak dapat diubah sejak awal menikah hingga saat ini.


"Hm, kita pulang saja ya? Zavia juga pasti sudah pulang," ucapnya kemudian duduk dan menahan selimutnya agar menutupi bagian dada, melihat hal itu Keyvan dengan sengaja menariknya hingga telapak tangan mendarat sempurna di punggung Keyvan yang putih.


"Aaaaaawww, sakit sekali."


"Makanya jangan sejahil itu," gerutu Mikhayla menatapnya sebal sekali, pria itu memang kebiasaan kerap membuatnya naik darah hingga terjadi kekerasan secara tidak sengaja begini.


"Kejamnya jadi istri ... sudah kamu mandi sana, kita pulang sebentar lagi."


"Iya, awas dulu," titah Mikhayla hendak meraih pakaiannya yang sudah tergeletak di lantai. Sementara Keyvan yang memang jahil sejak lahir tampaknya tidak bisa merasakan udara segar jika tidak jahil pada istrinya, hingga dia dengan sengaja menjauhkan pakaian Mikhayla dengan kaki jejangnya.


"Ih kebiasaan banget sih."


"Pakai baju itu nanti, setelah selesai mandi ... sekarang ya tidak perlu, Khayla."


Dasar dia saja ingin melihat sekali lagi, memang Keyvan tidak akan pernah kehabisan akal untuk membuat sang istri masuk dalam jeratnya. Pria itu terkekeh kala melihat wajah istrinya cemberut luar biasa, sungguh ini sangat mengerikan sekali.


"Santai saja, tujuh tahun aku melihatnya ... tanda lahirmu aku bahkan hapal, Khay."


Mungkin Keyvan bisa santai, tapi sayangnya Mikhayla tidak sama sekali. Dia masih ada perasaan malu meski memang jelas Keyvan suaminya sendiri, bukan suami tetangga.


Akan tetapi, demi memperkecil masalah Mikhayla lebih memilih untuk berlari dengan keadaan polosnya ke kamar mandi. Meski khawatir jika Keyvan akan kejar, wanita itu hanya bermodalkan yakin dan percaya kepada penciptanya jika Keyvan tidak akan membuat lelah hari ini.


"Dasar aneh, dia pikir aku ini cabbul atau bagaimana?" tanya Keyvan pada dirinya sendiri, dia merasa tidak ada yang salah dengannya. Kenapa Mikhayla menghindarinya setakut itu, pikir Keyvan.


.


.

__ADS_1


.


Malam harinya, seperti biasa keluarga besar Ibra berkumpul untuk makan malam biasa. Semua hadir, termasuk Syakil yang datang jauh-jauh demi malam ini. Tidak ada perayaan spesial, Ibra hanya bersyukur cucunya kini memiliki keluarga kecil yang luar biasa bahagia.


Tidak hanya mengundang keluarga inti saja. Akan tetapi, pria itu juga mengikutsertakan Justin dan Keny. Tiada terduga, mereka yang tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga merasakan nikmat sebaik ini.


Diterima Ibra sebagai cucunya juga membuat Justin dan Keny merasa terharu. Kedekatan mereka kian erat sejak Keyvan menikah, jika hubungan pertemanan orang lain kerap renggang setelah salah satunya menikah, mereka justru sebaliknya.


Akan tetapi, sayang sekali untuk saat ini Justin berhalangan hadir. Ya, maklumi saja terkadang kesibukan manusia berbeda-beda. Zavia yang terbiasa dengan Justin kali ini hanya murung, dia duduk di pangkuan Keyvan seraya menggenggam jemari Mikhayla.


"Papa," panggil Zavia mulai meminta dilepaskan, berdiam diri sejak tadi dia juga lemas sendiri.


"Hm? What wrong, Honey?"


"Via mau uncle Justin," pintanya kemudian dan membuat Keyvan menghela napas kasar, sejak tadi keinginan putranya tetap Justin dan memang dia bingung sendiri.


"Uncle Justin sibuk, sama Uncle Keny mau?"


Zavia menatap Keny yang tengah berbincang bersama Mikhail di sana, pria itu memang cukup dekat dengannya tapi tidak selengket Justin. Akan tetapi, jika dia terus bersama Keyvan di sini jelas saja bosan.


Dia memang mau, namun Giska yang merupakan putri Keny membuat Zavia sedikit malu. Anak itu memang berpikir jika dunia harus menjadi miliknya semua, ya begitulah seorang Zavia.


"Okay, sebentar Papa panggilkan."


"Ken ... Keny!! Woy_"


"Ih Papa jangan teriaaaak, telinga Zavia denyut-denyut tau," protes Zavia menutup mulut Keyvan dengan telapak tangannya, sontak Mikhayla terbahak dan itu sama besarnya.


"Mama jangan ketawain Papa ... Via aduin Opa nih," ancamnya mengingatkan Keyvan pada sang istri ketika baru saja menikah.


Keny yang menyadari dirinya dipanggil segera mendekat lantaran penasaran apa gerangan keluarga kecil yang tampak bahagia itu memanggil dirinya. "Kenapa, Van?"


"Via ingin bersamamu, sejak tadi cari Justin tapi tidak ada ... bawa dia sebentar," ucap Keyvan yang kemudian membuat Zavia memerah dikatakan ingin bersama Keny.

__ADS_1


"Oh, kamu merindukan Uncle rupanya? Sini ... sama saja, lagian Justin tidak asik," ungkap Keny kemudian mengankat paksa Zavia.


Dia yang tekejut dengan perlakuan Keny sontak berontak dan hal itu membuat Mikhayla panik. Khawatir jika putrinya benar-benar mengamuk dan marah lantaran pria itu mengatakan jika Justin tidak asik.


"Santai saja, kami sudah biasa begini," ungkap Keny sedikit kewalahan dengan Zavia yang mulai kerasukan reog begini.


Kehidupan mereka benar-benar sempurna, dari kejauhan Keyvan dan Mikhayla memandangi pendahulu mereka. Kanaya dan Ibra, serta Mikhail dan Zia telah melahirkan putri cantik sebagai pelengkap hidupnya. Tidak pernah berhenti rasa syukur bagi seorang Keyvan, bahkan mungkin sejuta ucapan terima kasih tidak akan cukup untuk mengutarakan betapa beruntungnya dia memiliki Mikhayla.


"Nanti kita akan jadi seperti Papa dan Mama juga kan?"


"Hm, seperti Opa juga ... kita akan menua bersama, dengan perasaan yang sama sekali tidak berubah."


"Terima kasih, Mikhayla."


Terlalu mendalami suasana, Keyvan tidak sadar jika mereka berada di ruang terbuka hingga dia mengecup bibir Mikhayla begitu dalam. Sontak saja menjadi pusat perhatian, teriakan gemas dari anggota keluarganya yang lain terdengar jelas.


"Lanjutkan!! Pesta ini milik kalian!!" Suara Mikhail terdengar paling besar lantaran sengaja menggunakan speaker persis pimpinan aksi demo.


"Papa sewot!!"


"Lanjutkan!! Dunia ini milik kalian, Papa dan yang lainnya hanya numpang, Mikhayla."


Momen romantis berubah menjadi gelak tawa lantaran Mikhail sebagai pemandu acara ikut campur. Mikhayla memerah sementara Keyvan terlihat santai dan kini terkekeh melihat sang istri. Mikhayla yang memerah hanya bisa menenggelamkan wajahnya ke dada Keyvan karena hingga detik ini teriakan keluarganya masih mendominasi.


Jika Mikhayla sedang sibuk dengan teriakan orang-orang di sekitarnya, Keny saat ini tengah berusaha menghadapi Zavia yang semakin tidak dapat dikendalikan hingga pada akhirnya menyerah juga. Dia pikir Zavia tidak lagi seaktif dulu, nyatanya semakin aktif bahkan sulit dikendalikan.


"Ampun, kenapa bisa Justin meluluhkan hati anak ini."



...****************...


...Happy Ending...

__ADS_1


Hai guys, terima kasih banyak 60 hari bersama Keyvan dan Mikhayla. Sebagai tanda perpisahan coba komentar tokoh yang paling berkesan, dan momen apa yang paling kalian sukai di Keyvan dan Mokhayla.


Insya Allah aku kasih Bonus Chapternya, seraya aku menyiapkan Justin. Pantengin terus, jangan di-unfav biar tidak ketinggalan notifikasinya, follow author jika berkenan ya❤ See you dan Bye-Bye, pengumuman Give Away menyusul ya ... aku masih milih komentator ulung di lapak Mikhayla😎


__ADS_2