
Tiba di rumah sakit keduanya melangkah cepat, khawatir Mikhail mengalami hal serius. Akan tetapi, ada satu kekhawatiran yang juga sama besarnya saat ini, yakni khawatir bagaimana cara Keyvan menjelaskan sesuatu jika saja Mikhail menuntut penjelasan.
Tidak hanya Keyvan yang takut, melainkan Mikhayla juga tentu saja. Wajahnya sudah tampak pucat dan kemungkinan besar mereka tidak akan lepas dari masalah hari ini. Semua bermula karena rasa rindu Mikhail padanya. Ya, Tepat jam sepuluh pagi Mikhail dan Zia mengunjungi Mikhayla demi menuntaskan rasa rindu kepada sang putri.
Awalnya, tidak ada hal yang aneh dan semua baik-baik saja. Hingga tidak berselang lama, Mikhayla yang mencium aroma parfum sang papa mendadak mual dan muntah cukup lama. Dia yang panik menghubungi dokter Bayu dan meminta pria itu untuk datang demi memastikan keadaan sang putri.
Akan tetapi, karena Bayu sibuk dan sedang menangani pasiennya terpaksa Bayu meminta Mikhail menjelaskan keadaan putrinya demi memberikan jawaban sementara. Tidak perlu waktu lama untuk Bayu menyimpulkan jika Mikhayla mual disebabkan kondisinya yang tengah mengandung.
Mendengar kabar itu bukannya bahagia pria itu mendadak lemas hingga terbaring begitu saja. Hal yang sebenarnya sudah Zia duga akan begini, Mikhail kebiasaan membuat drama tiada habisnya. Bahkan karena paham Mikhail bagaimana, Zia hendak membiarkan dia bangun sendiri. Namun, sebagai putri yang begitu mencintai sang papa jelas saja Mikhayla khawatir hingga tanpa pikir panjang meminta Bastian mengantar Mikhail dan Zia ke rumah sakit, sementara dia menghubungi Keyvan.
Kini, antara hidup dan mati mereka berada di ruang dimana Mikhail berada. Dadanya sama sekali tidak aman, terlebih kala menatap Keyvan. Demi apapun, Mikhayla khawatir sekali pada pria itu, karena larangan Mikhail kemarin benar-benar tidak terbantahkan meski dia sudah meminta baik-baik.
Keyvan yang memimpin, meski saat ini nyawanya sedang diujung tanduk tetap saja harus melindungi sang istri dan bertanggung jawab penuh meski dalam keadaan bisu begini, akan Keyvan coba paksakan nanti walau dokter sebenarnya melarang dia bicara lebih dulu.
Ya Tuhan, mampukan aku meluluhkan hati Papa.
Takut, cemas dan khawatir kala Mikhayla menatap wajah datar sang papa yang kini tampak menunggu kehadiran mereka. Benar saja dugaan Khayla jika Mikhail akan sadar lebih cepat daripada kedatangannya.
"Papa baik-baik saja, 'kan?"
Mau tidak mau Mikhayla harus mulai bicara, walau tatapan tajam sang papa sempat membuatnya sedikit ciut tetap saja harus dia upayakan. Keyvan yang memang tidak memiliki persediaan suara hanya bisa diam kala mencium punggung tangan mertuanya, berharap sekali dengan etika yang baik ini Mikhail bisa luluh.
__ADS_1
"Sudah berapa lama? Kalian pasti menyembunyikan ini dari Papa ... Iya, 'kan?"
Pertanyaan tepat pada intinya, Mikhayla terdiam dan dia menatap ke arah Zia. Curiga sekali jika yang menyampaikannya adalah sang mama, akan tetapi gelengan kepala Zia membuat wanita itu mencoba untuk tenang sesaat.
"Hampir dua bulan, Pa."
Mikhayla adalah pembohong sekaligus manusia paling jujur sebenarnya, dia akan bersikap sesuai kebutuhan dan biasanya akan jujur jika sudah terlanjur diketahui kebenaranya. Hal itu bukan tanpa alasan, dia tidak ingin semakin salah dan membuat siapapun kecewa berlebihan.
"Dua bulan? Papa tidak salah dengar, Khayla?" tanya Mikhail merasa udara di sekitarnya seakan habis hingga sesak luar biasa. Serapi itu mereka menyimpan rahasia hingga jalan dua bulan Mikhail sama sekali tidak mengetahuinya, benar-benar luar biasa.
"Van, benar begitu?"
"Iy_"
"Jawab!! Kamu laki-laki atau bukan? Lihat mataku!!" gertak Mikhail sempat membuat dada Keyvan bergetar, seakan tidak ada cara lain selain membuatnya terkejut dengan cara yang begini.
"Pa ...."
"Mas!!"
Mikhayla dan Zia yang terkejut lantaran Mikhail mengeluarkan suara tinggi sontak panik dan khawatir hal itu akan menyakiti hati Keyvan. Ya, meskipun hubungan mereka sudah baik-baik saja dan tampak semanis itu tetap saja Zia khawatir sikap pendendam Keyvan tetap bertahan.
__ADS_1
"Mikhayla diam!! Kamu juga, Zia!!"
Niat hati membela Keyvan, keduanya justru ikut dibentak. Keyvan menghela napas pelan, dia berdehem demi mencoba agar suaranya keluar sedikit saja, hanya untuk menjelaskan perihal kehamilan Mikhayla.
"Kalian memang benar-benar buat Papa marah ya, Zia juga ikut-ikutan diam ... aku suami kamu dan Papa dari Khayla, aku berhak tahu apapun yang terjadi pada putriku!!" Sudah lama tidak marah, dan kali ini Zia juga kena getahnya.
Keyvan yang merasa bersalah masih berusaha meski sudah dia coba sejak tadi. Namun, suaranya tetap hilang bahkan mulutnya sudah berapa kali mengutarakan kalimat hingga hal itu membuat kesabaran Mikhail yang luar biasa tipis habis sudah.
"Jawab, Evan ... sejak kapan kau jadi persis ikan terdampar begitu."
"Ya Tuhan, bagaimana caraku menghadapinya ... kemarin putrinya, sekarang Papanya. Hidupku benar-benar sempurna rasanya."
Sama sekali Keyvan tidak marah dengan ucapan Mikhail yang terkadang memang seenak jidat begitu, hanya saja dia lebih khawatir Mikhail akan mengungkapkan kata-kata yang merusak mood Mikhayla.
"Pa, biar Khay_"
"Papa tidak memintamu bicara, Khayla ... Saat ini Evan yang Papa minta, bukan kamu apalagi Mama." Tak terbantahkan dan hal itu membuat Zia mengelus dada, entah kapan Mikhail akan berubah dan tidak seegois ini tentu saja.
- To Be Continue -
Sementara Author up, silahkan mampir ke sini yaw😚
__ADS_1