Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 146 - Bukan Sugar Baby


__ADS_3

Seperti janji Keyvan, dia yang akan menjemput sang istri. Dari kejauhan dia sudah melihat wajah sebal Mikhayla yang kini menunggunya di halte. Dada Keyvan berdebar tak karuan, dia bukan tipe suami takut istri tapi jika istrinya sudah kusut begitu dia seakan kehilangan rasa percaya diri.


"Mampush, wajahnya begitu ... pasti kelamaan menunggu," tebak Keyvan yakin seratus persen jika hal itu benar.


Mikhayla melangkah cepat dan membuka pintu mobil dengan tenaga dalam. Andai saja tidak ada Zavia mungkin dia akan meluapkan kata-kata mutiara saat ini juga. Keyvan diam saja kala Mikhayla sudah duduk di belakang berdampingan dengan putrinya yang lanjut tidur di car seat begitu lelapnya.


"Besok-besok jemputnya jangan di sana, kamu lama."


Benar dugaan Keyvan, dia marah dan gerak geriknya mengerikan. Bahkan ketika dia mengelap tangannya dengan tisu basah begitu kasar hingga membuat Keyvan curiga ada hal lain yang membuat dia marah.


"Iya, maaf tadi mac_"


"Macet? Alasan!! Kamu kelamaan, aku digodain om-om!!"


"What? Go-goda? Goda gimana?" tanya Keyvan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan, pria itu menoleh dan memastikan tidak ada yang rusak di tubuhnya.


"Dia pegang tangan aku, katanya kalau nurut dia kasih uang tiga ratus ribu," jelas Mikhayla dengan mata yang kini membasah.


Jemarinya bahkan bergetar ketika menjelaskan hal itu pada Keyvan. Dia yang sempat dilecehkan jelas saja setakut itu walau tidak terjadi hal-hal gila beberapa saat lalu.


"Hah? Bangshat!! Coba pindah ke depan, jangan menangis," tutur Keyvan mengulurkan tangannya dan meminta Mikhayla pindah tanpa harus keluar lebih dulu.


"Tangan mana yang dipegang?"


"Dua-duanya, dia tarik aku tapi ada ibu-ibu yang bantuin tadi," jelasnya memperlihatkan pergelangan tangan yang memang tampak memerah, tidak ada barang yang hilang hanya saja Keyvan tetap tidak terima.


"Masih ingat orangnya?"


"Sedikit, di pakai topi sama kacamata ... perutnya buncit iyuuuh."

__ADS_1


Menjelaskannya saja Mikhayla jijik, bisa-bisanya pria tadi menawarkan imbalan senilai uang jajan Mikhayla sehari. Keyvan menariknya dalam pelukan, memberikan sang istri ketenangan karena memang dia bisa merasakan tubuh sang istri bergetar.


"Badjingan, selain pegang tangan apalagi yang dia lakukan?" tanya Keyvan lembut, khawatir sekali jika pria itu melakukan hal lain yang lebih gila dari ini.


"Tidak ada, tadi mau pegang pundakku tapi ada ibu-ibu yang lempar dia pakai sepatu," jelas Mikhayla membuat Keyvan sejenak menghela napas kasar, akan tetapi meski hanya sekadar memegang tangan tetap saja Keyvan tidak akan tinggal diam.


"Sudah-sudah, maaf ya ... ini salahku, besok aku yang jaga sementara Bastian belum bisa," ungkap Keyvan memilih jalan tengah karena memang lebih baik begitu daripada dia merasakan hal-hal semacam ini.


"Bener ya temenin?"


"Hm, janji."


"Om-omnya juga tollol ... dikira aku tu sugar baby atau apa, tidak tahu saja dia anakku sudah bisa lari-lari begitu. Mau yang cantik tapi miskin, tiga ratus ribu? Dih najish!!" omelnya mulai mengeluarkan kata-kata mutiara yang hanya dia lontarkan di saat-saat tertentu saja.


Mulutnya terus saja mengomel sementara Keyvan mengelus pundaknya pelan-pelan, pria itu yakin betul sang istri memang benar-benar marah. Sudah dia tenangkan begini tapi tetap saja menggila hingga Keyvan menghela napas perlahan.


"Sudah-sudah, jangan kotori mulutmu, Sayang ... biarkan aku yang membalasnya," ungkap Keyvan masih tetap halus walau sang istri benar-benar makin menjadi.


"Iya, tidak salah ... sudah sopan, namanya binnatang! Otaknya tidak berfungsi, isinya hanya selangkangann. Tidak tahu saja dia siapa pemilik sugar baby ini," ucap Keyvan serius dan dia memang tidak terima sama sekali.


Bagaimana dia bisa terima, Justin yang menatap istrinya saja tidak dia izinkan. Kini pria lain yang jelas membuat istrinya tidak nyaman dengan lancang menggenggam tangan. Jelas saja Keyvan marah sejadi-jadinya.


"Apa tadi nyebutnya?"


"Sugar baby," jawab Keyvan tanpa dosa dan dia tidak merasa ucapan itu salah.


"Aku istrimu gilaa, sembarangan."


Keyvan lupa istrinya masih marah, pria itu masih marah tapi melihat Mikhayla yang begini dia justru tertawa sumbang hingga membuat istrinya salah paham.

__ADS_1


"Kamu ketawa kenapa?"


"Tidak, siapa yang tertawa."


"Barusan apa kalau bukan tertawa?" tanya Mikhayla sama sekali tidak santai seakan lupa Zavia tengah tertidur.


"Shhuut, jangan teriak-teriak, Zavia tidur ... sudah tenang."


Mikhayla bersandar dan menaikkan kakinya di dashboard. Keyvan baru menyadari sesuatu ketika Mikhayla hendak melepas sepatunya. "Sayang, tunggu," tahan Keyvan karena dia penasaran dengan bagian tumit sepatu Khayla.


"Kenapa?"


"Sepatu kamu? Kenapa ada darahnya? Luka atau_"


"Oh darah Om-om yang tadi mungkin, aku ikut pukul kepalanya eh berdarah ... padahal cuma aku pukul tiga kali, bolong ternyata," jawab Mikhayla santai kemudian dia menarik tisu basah untuk membersihkan tumit sepatu yang kerasnya persis batu dan hanya sejari itu.


"Sayang serius?" tanya Keyvan menelan salivanya pahit, dia menangis tapi sudah berhasil membuat kepala pelakunya cidera. Tidak heran jika dahulu Leon juga luka kepalanya pasca Mikhayla lempar lampu tidur.


"Iya ... aku hanya membela diri."


"Setelah itu dia lari?"


"Tidak, masuk rumah sakit."


Astaga, Keyvan bungkam. Dia baru saja berniat menghajar pria itu dan Mikhayla sudah benar-benar melakukannya bahkan membuat pelakunya dilarikan ke rumah sakit.


"Itu adalah bayangan kalau sampai kamu berani main api di belakangku, Keyvan Wilantara," ancam Mikhayla dan berhasil membuat Keyvan menghela napas perlahan.


Siapa juga yang berani, Mikhayla ... dia sadar hampir membunuh orang atau tidak sebenarnya.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2