
Panik, kecewa dan khawatir menyatu kala dia menatap keadaan kamarnya yang kini terlihat kacau. Dada Keyvan sesak bak dihujam ribuan anak panah kala melihat istrinya yang kini duduk di di lantai sembari memeluk kakinya dengan keadaan polos dan wajah yang terlihat sama kacaunya.
"Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Mikhayla dengan air matanya yang kini kian membasah.
Sama sekali dia tidak memiliki keberanian untuk menghambur ke pelukan Keyvan, dia akan menunggu suaminya datang dan merengkuh tubuhnya yang terasa dingin. Sementara tatapan kecewa Keyvan amat nyata terlihat dari manik sendu Mikhayla.
"Apa yang terjadi, Khayla? Kenapa kamar bisa sekacau ini? Bajumu, tubuhmu ... Khay, katakan!! Kenapa?"
Keyvan bergetar, dia berlutut dan membopong tubuh Mikhayla ke atas tempat tidur. Perasaannya sudah sekacau itu, apalagi tatapan Mikhayla yang kini terlihat kosong meski sudah bersamanya.
Mikhayla yang tadinya hanya menangis dalam diamnya, kini benar-benar pecah hingga telinga Keyvan sakit rasanya. Akan tetapi, yang terpenting saat ini bukan telinganya, melain sang istri.
"Siapa? Hm? Buka mulutmu, Khayla!!"
Sejak melihat istrinya memang pikiran Keyvan sudah tidak baik-baik saja. Kini, kala tubuh poloa istrinya terpampang nyata tanpa perlu dijelaskan Keyvan bisa menerka apa yang terjadi.
Tanda kemerahan di bagian dada dan lehernya jelas mengatakan jika sang istri menerima tindak asussila. Tidak hanya itu, gigitan yang bahkan menimbulkan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya jelas milik orang lain, bukan dia.
"Katakan, Mikhayla ... siapa yang melakukannya?"
Bukannya menjawab, Mikhayla menarik tubuh Keyvan agar lebih dekat. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada Keyvan dan hanya butuh perlindungan sesaat. Walau hatinya sekacau itu, Keyvan berusaha untuk tetap tenang dan memberikan pelukannya.
__ADS_1
"It's okay ... jangan takut, aku di sini."
Keyvan mengeraskan rahangnya, giginya bergemelutuk dan kemarahannya kini tertuju pada pengawal yang bertugas menjaga Mikhayla. Tiga pria yang sempat menyapanya di halaman depan dengan wajah tenang, kini ingin Keyvan habisi seketika.
"Dia yang memaksa masuk, aku sudah larang ... demi Tuhan aku tidak mempersilahkan dia masuk sama sekali," tutur Mikhayla pelan tapi mampu Keyvan dengar dengan jelas, pria itu memejamkan mata dengan kemarahan yang mulai naik hingga ubun-ubunnya.
"Lalu, apa yang dia lakukan padamu?"
Keyvan bertanya dengan suara tegasnya, ini bukan marah melainkan ungkapan sakit hati dalam jiwanya. Jika sampai benar-benar sampai ternoda, demi apapun Keyvan tidak akan memaafkan pelaku dan dirinya sendiri.
"Dia memaksaku melakukan hal menjijikkan itu, aku sudah berteriak sekuat tenaga tapi kenapa tidak ada satupun yang menolongku ... bahkan ketika dia melucuti pakaianku dunia seakan diam saja!" tutur Mikhayla panjang lebar, betapa kuatnya dia berusaha mempertahankan diri. Akan tetapi, tenaga Loen memang tidak sebanding hingga dia tetap merasa kesulitan.
Keyvan yang ketar-ketir melepas pelukan Mikhayla kini membuka kaki sang istri lebar-lebar, memastikan apa mungkin ada jejak yang tertinggal di sana.
Mikhayla menggeleng, hampir sebenarnya. Di saat dia Leon berhasil melucuti pakaiannya, Mikhayla memang sudah pasrah sekalipun dia kehilangan dunia. Akan tetapi, ketika pria itu membuka ritsleting dan mata Mikhayla melihat dengan nyata bagian intinya, sontak dia menghamtam selangkangann Leon dengan kakinya sekuat tenaga.
Belum sempat Loen bangkit, Mikhayla berdiri dan kembali menginjak alat vittal Leon hingga yang dia rasakan hanya sakit tak terkira. Mikhayla yang masih dikelilingi ketakutan mengangkat lampu tidur sebagai hantaman susulan tepat di kepalanya, dan itu bukan hanya sebagai ancaman. Melainkan benar-benar dia lemparkan dan tepat mengenai kepala Leon, bukti benar-benar nyata salah satu lampu tidur di kamar mereka kini tergeletak di lantai dengan bentuk yang tidak lagi sempurna.
Mungkin tidak ada yang perlu disyukuri dengan hal ini. Akan tetapi Mikhayla yang menggeleng sejenak membuat Keyvan sedikit tenang. Merasa tidak puas hanya dengan pengakuan sang istri, Keyvan dengan sengaja memasukkan jemarinya ke bagian inti Mikhayla untuk memastikan jika milik istrinya memang tidak terjamah pria lain.
.
__ADS_1
.
.
"Siapa yang melakukan ini semua? Apa orang-orang di rumah ini? Aku suamimu, dan aku berhak tau, Mikhayla."
Selesai menenangkan Mikhayla, dia tidak tinggal diam. Keyvan membawa Mikhayla ke kamar mandi dan mengguyur tubuh istrinya dengan air sembari menggosok berkali-kali tanda kemerahan itu dengan tenaganya, dan jelas saja hal itu terasa sakit.
"Jika kamu berpikir malu maka manusia paling bodoh itu kamu, Mikhayla."
"Adik kamu ... kenapa tidak bilang kalau punya adik sebejjat itu!!" ucap Mikhayla dengan isak tangis yang masih belum juga mereda, masih dia ingat dengan jelas bagaimana brutalnya pria itu hingga membuat dia hampir gila.
"Adik? Yang benar saja, Mikhayla ... aku anak tunggal, kenapa bisa dia mengaku sebagai adikku!!"
"Aku tidak tahu, yang jelas dia mengaku begitu."
Sesaat, Keyvan terdiam. Di dunia ini hanya satu orang yang dengan bangga mengenalkan diri sebagai adiknya. Pikiran Keyvan kini tertuju pada Leon, sang adik ipar yang selalu menjual namanya sebagai adik Keyvan.
"Kamu tetap di sini!! Jangan beranjak sebelum aku datang." Keyvan berlalu keluar meninggalkan Mikhayla yang kini pasrah dibawah guyuran air yang terasa dingin menusuk persendiannya.
- To Be Continue -
__ADS_1
Jan lupa stor votenya💋 Mari saling memenuhi kebutuhan cintaku🦈
Ini kendala sinyal ya, Shay ... Aku tadi mau up barengan cuma satu yang berhasil.