Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 107 - Wanita Yang Terpilih


__ADS_3

Bagi seorang Keyvan, pesta atau keramaian adalah dua hal yang sama-sama tidak dia sukai. Akan tetapi, di hari bahagia ini Mikhail dan Zia benar-benar menyiapkan sebuah pesta pernikahan meriah yang dihadiri lebih dari 1000 tamu undangan.


Sama sekali Keyvan tidak mengatur prosesnya bagaimana, yang jelas baginya dihadirkan Keny dan Justin saja sudah cukup. Maklum saja, Keyvan bukan dilahirkan dari keluarga yang seperti Mikhayla, semenjak kepergian kedua orang tuanya Keyvan benar-benar merasakan kesendirian. Sekalipun masih ada sang paman, tetap saja tidak ada artinya. Terbukti kini pria itu sama sekali tidak menampakkan wajahnya meski sudah Keyvan beritahu baik-baik.


"Lihatlah, dia terlihat tegang, Ken," ungkap Justin yang duduk di samping Keny, pria itu sangat antusias dengan pesta pernikahan kedua sahabatnya ini.


"Iya, mungkin otaknya sudah memikirkan malam pertama," bisik Keny kemudian keduanya terkekeh pelan karena di kanan kiri mereka tamu undangan lain tampak memandangi pasangan pengantin dengan begitu seksama.


"Malam pertama apanya? Malam kesekian mungkin," sahut Justin kemudian membenarkan hingga keduanya kembali terkekeh tanpa henti, tidak peduli dengan batin Keyvan yang kini tegang luar biasa.


Calmdown, Van ... Ini sebuah pernikahan yang kau impikan, jangan gugup. Keyvan membatin dalam dirinya, pria itu memang luar biasa gugup padahal sudah pernah menikah sebelumnya.


Tradisi keluarga istrinya ternyata berbeda, Keyvan pikir hanya pesta sederhana saja. Akan tetapi yang terjadi sebenarnya lebih rumit dari itu, peresmian pernikahannya tidak hanya sekadar mewah, akan tetapi biayanya tentu saja luar biasa. Keyvan tidak keberatan akan hal itu sama sekali, karena baginya diberikan kesempatan untuk memperlakukan wanita ini secara baik-baik sebagaimana wanita lainnya adalah hal terindah bagi Keyvan.


Ini bukan kali pertama, bahkan dia sudah melihat sang istri sampai ke dalam-dalamnya. Akan tetapi, entah kenapa ketika melihat Mikhayla berjalan ke arahnya dengan balutan gaun yang begitu indah, dada Keyvan tetap berdebar luar biasa. Sungguh, ini adalah hal yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Matanya bahkan berkaca-kaca, anggap saja dia sedikit cengeng hari ini. Mikhayla sudah tersenyum, semakin dekat sang istri semakin memanas manik indah Keyvan. Jujur saja, menahan air mata itu lebih sulit bagi Keyvan.


Papa harus tahu, secantik ini bidadariku.


Keyvan membatin, dia mengulas senyum meski wajah Mikhail yang kini berada di sisi sang istri begitu datar. Entah karena sedih atau memikirkan biaya pernikahan putrinya hingga pria itu jadi sekusut itu di hari bahagia putrinya.


"Jaga putriku baik-baik, Evan. Aku sangat menyayanginya, terima kekurangannya walau memang terlihat tidak ada, Papa serahkan dia padamu."

__ADS_1


Keyvan salah sangka, rupanya Mikhail masih terlihat belum rela putri sulungnya resmi menjadi milik pria lain, bukan hanya di kamar saja melainkan di mata umum Mikhayla adalah jelas milik Keyvan seorang.


Rasanya baru kemarin Mikhayla mengenakan gaun ulang tahun, tanpa diduga-duga kini putrinya sudah mengenakan gaun pernikahan. Jelas saja seorang Mikhail bersedih dengan resminya sang putri jatuh pada pelukan pria yang memilihnya.


"Papa don't cry, malu dilihat tamunya."


"Aku tidak menangis, Mikhayla ... hanya ini kenapa berair terus," gumam Mikhail kesal sendiri, Keyvan tersenyum tipis lantaran papa mertuanya banyak sekali drama di hari ini.


Sejak tadi mereka sudah menjadi pusat perhatian, apalagi ketika Mikhail untuk pertama kalinya memeluk Keyvan sebagai bentuk penerimaannya akan kehadiran pria itu sebagai menantu. "Papa percaya, Mikhayla bahagia bersamamu."


Mikhail tampak bangga, memiliki menantu gagah perkasa dan tentunya kaya adalah impiannya sejak Mikhayla balita. Akan tetapi, impian itu terlalu cepat Tuhan kabulkan bahkan di saat dia masih ingin memanjakan putrinya pria itu sudah benar-benar hadir dalam hidup Mikhayla.


Dengan sepenuh hati Mikhail menyerahkan sang putri untuk Keyvan secara resmi hari ini. Ya, walaupun memang sejak lama sudah menjadi milik Keyvan seutuhnya, akan tetapi hari ini adalah simbolis pria itu memiliki Mikhayla secara nyata dan mengakui di hadapan banyak pasang mata jika statusnya sebagai duda sudah berubah dan kini memiliki seorang istri yang cantik jelita.


Beberapa rekan kerja yang Mikhail undang juga mengenal Keyvan dengan baik, hal ini tentu saja berita baik karena kelas Mikhail semakin naik dengan pengaruh Keyvan yang saat ini diakui sebagai pebisnis muda bahkan di mata dunia.


Pujian formal dari seorang pria beemanik hazel itu tampak Mikhayla balas dengan senyum hangatnya. Begitupun dengan Keyvan, mungkin satu-satunya pria yang tidak akan dia cemburui adalah Mark seorang.


"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang," balas Keyvan menyambut tangan Mark, seorang pria yang bisa dipastikan akan membuat karir Keyvan kian bersinar di tahun ini rela datang jauh-jauh dan mengorbankan waktunya.


.


.

__ADS_1


.


Selain melelahkan, pesta ini juga sangat membuat jiwa Keyvan tertekan. Akan tetapi, Mikhayla berusaha membuat suaminya sedikit lebih tenang meski sejak tadi dia uring-uringan.


"Kenapa? Lelah ya?"


"Sedikit, kamu tidak, Sayang?"


Bingung sendiri kenapa tenaga Mikhayla banyak sekali hari ini. Pesta hampir usai dan dia masih sesemangat itu, padahal teman-temannya cukup banyak yang hadir dan semuanya memberikan selamat dan terpaksa keduanya berdiri untuk menjabat tangan mereka.


"Sabar ya, sebentar lagi selesai."


Keyvan menghela napas panjang, dia menarik sudut bibir dan menatap lekat wajah cantik sang istri. Setelah beberapa hari lalu membuat Keyvan hampir gila dan tidak bisa tidur lantaran tugasnya, kini dia kembali terlihat dewasa dan membuat Keyvan benar-benar merasa tidak salah memilih Mikhayla sebagai istrinya.


"Tenagaku hampir habis, bisa transfer energinya sedikit saja, Sayang?"


Transfer energi? Bagaimana caranya? Mikhayla tampak bingung namun sejurus kemudian Keyvan mengikis jarak dan meminta kecupan di bibirnya. "Mau apa? Kita masih banyak tamu loh," ujar Mikhayla sedikit khawatir dan bingung sendiri lantaran Keyvan kembali kumat jika sudah dirayu.


"Biarkan saja, sudah halal sejak lama."


"Tetap saja malu, udah sana jauhan sedikit," kesal Mikhayla seraya mendorong tubuh Keyvan perlahan, pria itu terkekeh namun tetap nekat mencuri kesempatan hingga Mikhayla mendelik kemudian.


"Aku adu_"

__ADS_1


"Shhuut, sekarang tempatmu mengadu hanya aku, Sayang ... paham," ucap Keyvan lembut seraya mengelus wajah ayu Mikhayla, bahkan sudah hamil sang istri masih kerap memberikan ancaman begitu.


- To Be Continue -


__ADS_2