Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 71 - Bukan Mertua Biasa


__ADS_3

Diizinkan masuk bukan berarti bisa bebas begitu saja untuk memadu kasih. Di mata Mikhail keadaan seperti ini sama sekali tidak ada baiknya, dia membutuhkan penjelasan dari Keyvan terkait siapa dan bagaimana sebabnya hal sekacau itu bisa terjadi.


Mikhail mendengarkan dengan teliti tanpa menyela lebih dulu. Keduanya tampak seperti dua pria serius yang tengah berusaha memecahkan masalah. Penjelasan Keyvan membuat Mikhail teringat akan hal yang terjadi padanya sewaktu muda. Ya, perihal pengkhianatan dari orang-orang sekitar.


"Kau yakin aman hanya dengan membuat hidupnya tersiksa begitu, Van?"


Mikhail sedikit ragu, meski dia memang tidak pernah membunuh orang, entah kenapa untuk kasus putrinya ini dia justru berambisi untuk menghabisi nyawa pria bernama Leon itu.


"Cacat seumur hidup, tidak akan banyak hal yang bisa dilakukan orang buta dan lumpuh total di pulau terpencil dengan pengawasan dari orang-orangku, Pa."


Keyvan meyakinkan mertuanya bahwa semua akan baik-baik saja. Untuk mengawasi Leon, pria itu kembali melibatkan orang-orang lama yang pernah menjadi bagian dari kelompoknya di masa lalu. Orang-orang yang tidak buta hanya dengan melihat nominal uang di atas ratusan juta karena mereka bahkan mampu mendapatkan lebih dari itu dengan mudah.


Mendengar kalimat Keyvan semakin dia yakin jika menantunya ini memang memiliki dunia yang tidak biasa. Sebelumnya dia curiga jika keyvan adalah penguasa Jayabaya, setelah mendengar hal ini tampaknya lebih dari itu. Tidak perlu diragukan, wajar saja dia berani menyelinap masuk seenaknya demi bertemu sang istri meski sudah dilarang keras.


"Hanya Leon, lalu sisanya bagaimana?"


"Dua pengawalku juga akan mendapat perlakuan sama, tapi untuk asisten rumah tanggaku, terpaksa tidak diikutsertakan, Pa."


"Kenapa demikian? Apa karena dia wanita sampai kau pilih kasih? Ingat ya, Van ... yang namanya hukuman itu tidak pandang bulu, mau wanita, pria kau harus adil!!" kesal Mikhail ingin sekali melemparkan vas bunga di wajah tenang Keyvan, hal yang tidak bisa Mikhail lakukan adalah tetap tenang meski yang dibahas sepanas kobaran neraka jahannam.


"Bukan begitu, Pa, tapi overdosis." jelas Keyvan perihal Ratni yang memang dia temukan tidak lagi bernyawa.

__ADS_1


"Oh begitu," sahut Mikhail mengangguk berkali, seram juga.


"Memang dari sananya tukang culik ternyata. Semudah itu kau meghilangkan nyawa seseorang, Evan?" lanjut Mikhail kembali bertanya setelah sempat mencela kehidupan menantunya.


Bukan Keyvan sebenarnya, melainkan Wibowo. Pria itu menyuntikkan obat dengan dosis tinggi ke tubuh Ratni. Sementara dalam peggunaannya, lebih dari 5ML bisa membunuh dan Wibowo memberikannya dua kali lipat dari dosis yang seharusnya. Cairan ini disuntikkan oleh Wibowo ke tubuh Ratni pada bagian punggung, dan juga tangan.


Terserah, untuk hal itu Mikhail tidak ingin ambil pusing. Tindakan keyvan bahkan lebih bayangannya, dan itu Mikhail maklumi karena dirinya saja menginginkan hal yang sama sebagai hukuman untuk membuat mereka jera.


"Lalu, bagaimana dengan pemeran utamanya? Apa masih belum ditemukan?"


"Saat ini Wibowo sedang berusaha melakukan pengejaran, Pa ... kemungkinan besar lari ke kota kelahirannya lewat jalur laut," jawab Keyvan menatap wajah sang papa yang terlihat sedikit memendam kekecewaan.


Tepat keesokan hari pasca penyiksaan itu terjadi, Wibowo diperintahkan untuk melacak keberadaan Mike. Meski pada akhirnya melakukan pengkhianatan, Mike sejujur itu perihal identitasnya. Hal ini jelas saja memudahkan Wibowo untuk mengetahui keberadaannya, Keyvan bergerak cepat untuk membatasi ruang gerak Mike hingga dia tidak bisa untuk lari ke tempat yang lebih jauh.


"Iya, Pa."


Jika Mikhail tidak memikirkan masa depan Keyvan sebagai menantunya, sudah sejak awal dia sudah bergerak dengan melibatkan Ibra serta keluarga besarnya. Akan tetapi, jika sampai mereka mengetahui hal itu, kemungkinan besar perceraian adalah jalan utama dari akhir kisah mereka.


Dia paham Keyvan tidak akan tinggal diam, untuk itu Mikhail memilih menjadi pemantau. Hanya saja kekecewaan dan kemarahan ketika hal itu terjadi tidak dapat dia bohongi. Keputusan Mikhail untuk membawa Mikhayla diam-diam malam itu selain sebagai bentuk kekhawatirannya, juga sebagai pelajaran pada Keyvan untuk menjaga permata yang sempat dia curi dari kotak perhiasan itu lebih baik di masa depan.


"Kembalilah, untuk hari ini cukup dulu ... di luar sana sudah ada yang menunggu," titah Mikhail seraya menggerakkan tangannya, bak pria penting yang banyak sekali tamunya.

__ADS_1


.


.


.


Keyvan berlalu dari ruang kerja sang papa dengan perasaan lega. Dia salah menilai tentang cara Mikhail memperlakukannya. Sungguh, untuk pertama kalinya dia merasa seperti berhadapan dengan mendiang papanya di masa lalu. Tegas, terlihat marah namun tujuannya begitu nyata. Ya, begitulah fakta baru tentang Mikhail yang baru dia ketahui.


"Om hendak masuk juga?" tanya Keyvan sedikit terkejut kala dia keluar sudah ada dua pria dengan wajah pias menunggu di sana, entah karena pernah berseteru dengannya atau karena faktor lain, pikir Keyvan.


"Iya, Van ... Suasana hati bos besar bagaimana? Apa baik-baik saja?"


"Sepertinya ba_"


"BASTIAN, RAHMAN!! MASUK!!"


Keyvan terperanjat kala suara sang papa menggema hingga Bastian dan Rahman melewatinya begitu saja. Pria itu mengelus dada seraya menghela napas lega, setidaknya dia tidak dibentak seperti dua pria malang itu.


BRAK


"Astaga?" Keyvan menganga, dia berlalu segera dan tidak ingin ikut campur urusan mereka. Sungguh, dia belum terbiasa dengan suasana hati Mikhail yang bisa berubah secepat itu.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2