Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 74 - Otakmu tidak akan sampai - Keyvan


__ADS_3

"Pak, bilangin orangnya sudah pindah ke Belanda," bisik Mikhayla pada Rahman untuk segera disampaikan pada tamu tak diundang itu.


"Siap, No_"


"Mikhayla, aku mau bicara ... tolong keluar sebentar, Khay."


Terlambat, sejak tadi Alka menyadari keberadaannya. Pria itu datang dengan pakaian casualnya, sepertinya sedang tidak masuk juga. Meski demikian, Rahman tetap mencegahnya masuk dan mengusir Alka untuk pergi segera.


"Saya akan tetap di sini, sampai selesai Mikhayla mau bicara."


Alka tetap teguh dengan pendiriannya, pria itu menatap tajam Rahman yang kini berada tepat di hadapannya. Melihat keras kepalanya seorang Alka, Mikhayla lama-lama kesal juga. Dengan langkah panjang dia keluar dan seraya bersedekap dada, ingin sekali dia melayangkan pukulan di wajah pria itu sebenarnya.


"Mau apa?" tanya Mikhayla dingin dan sama sekali tidak membalas senyumnya, semua yang dia rasa untuk Alka dahulu benar-benar hilang tanpa sisa.


"Aku bawain ini, biasanya kamu suka."


Benar-benar bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Alka masih datang dengan membawakan beberapa macam coklat kesukaannya, tidak dapat dipungkiri hal-hal sekecil ini memang Alka begitu memahami dirinya.


Mata Mikhayla sejenak tersihir dengan coklat sebanyak itu, apalagi yang dibawa Alka adalah favoritnya semua. Dapat dia bayangkan betapa lumernya di lidah, sejenak dia goyah dan jiwanya yang memang belum dewasa menatap kemasan coklat itu dengan penuh damba.


"Kenapa cuma dilihat, ini ... Mama baru pulang dari Paris, sengaja dia beliin buat kamu, Khay," tutur Alka sebaik itu, jika dilihat detik ini sama sekali tidak menyangka jika dahulu pernah selicik itu menginginkan tubuh Mikhayla.


"Bawa pulang aja, temen-temen kamu yang lain kan suka juga."


Lama menimbang, Mikhayla menolak pada akhirnya. Alka menatapnya penuh dengan kekecewaan, biasanya membujuk Mikhayla tidak sulit. Kini, senjata paling ampuh sudah dia keluarkan tetap saja percuma.

__ADS_1


"Khay, kamu masih marah? Ayolah ... sudah lebih satu bulan kita begini, kamu kenapa sekuat itu? Apa memang benar karena ada orang itu?"


Satu bulan hidup Alka sama sekali tidak baik, dia sekacau itu dan penyesalannya luar biasa besar pasca Mikhayla kecelakaan.


"Kamu tu nggak ngerti bahasa manusia ya? Aku sudah tegaskan sama kamu hubungan kita berakhir sejak malam itu ... kamu nggak bodoh untuk bisa memahami ucapanku, Alka."


Mikhayla mengepalkan tangannya, dia menekan setiap kalimatnya berharap Alka akan mengerti. Sayangnya, pria itu justru terpaku dan menatap Mikhayla tanpa berkedip.


"Khay?"


"Oh iya, satu lagi ... perihal orang lain yang kamu maksud, memang iya dan kamu lihat sendiri kami ciuman waktu itu kan? Sudah jelas dan tidak perlu bertanya banyak hal, Alka!!" bentak Mikhayla hingga Rahman mengelus dada, suaranya menggema dan memang Mikhayla tengah berada di puncak kemarahannya.


"Mikhayla malu ... sadar kamu?"


Lingkungan rumah Mikhail tidak sesepi awal pembangunan, Alka berdesis lantaran teriakan Mikhayla memang cukup memekakan telinga. Terbukti dengan Bastian dan Rahman yang hendak menghampiri namun Mikhayla larang segera.


"Marah? Jadi penasaran gimana seorang Mikhayla kalau sudah benar-benar marah," tutur Alka kemudian melangkah lebih dekat hingga jarak mereka kian terkikis.


Jika pria lain bisa berbuat hal yang membuat Alka sakit hati, dia juga bisa, pikirnya. Secepat itu Alka meraih tengkuk Mikhayla. Beruntungnya seseorang menarik punggung Alka dan membuat pria itu terjatuh hingga coklat yang dia bawa ikut berserakan.


"Ays, anak kecil ini lagi ... mau apa kau?" bentak Keyvan hendak menghajarnya namun secepat mungkin Mikhayla menarik pergelangan tangan sang suami karena khawatir pria itu hilang kendali.


"Jangan." Mikhayla menggeleng cepat tanpa melepaskan genggaman tangannya, secara logika jika sampai Alka dipukuli bisa jadi berakhir di IGD.


"Kenapa jangan? Masih sayang kekasihmu ini? Hm?"

__ADS_1


"Bukan begitu, biarkan saja dia pergi ... tidak perlu jadi penjahat untuk mengusir badjingan seperti dia," ucap Mikhayla kesal lantaran pertanyaan Keyvan. Dia menahan Keyvan sama sekali bukan karena masih menyayangi Alka, melainkan menyanyangi Keyvan sendiri.


"Kau dengar? Istriku menyebutmu badjingan ... Itu artinya kau adalah pria baling menjijikkan dalam hidupnya, bocah!!"


Alka terdiam, dia yang berusaha bangkit menatap Mikhayla penuh tanya. Telinganya tidak salah mendengar dan memang nyata pria itu mengatakan Mikhayla sebagai istrinya.


"Mikhayla? Apa yang terjadi, kenapa? Bagaimana mungkin ... Khay!!" Alka mengacak rambutnya kasar, pria itu memerah lantaran amarah dan kacau menjadi satu dalam hidupnya.


"Ck, pulanglah. Otakmu tidak akan sampai untuk memahami hubungan orang dewasa," ucap Keyvan seraya menarik pergelangan tangan sang istri untuk pergi segera. Ternyata menghadapi anak ingusan menguras emosi juga, pria itu berlalu tanpa peduli teriakan Alka yang persis anak ayam kehilangan induknya.


.


.


.


Mengikuti langkah Keyvan yang luar biasa cepat, kaki Mikhayla pegal rasanya. Sungguh, dia bingung kenapa Keyvan terlihat marah begini. Mikhayla yang terus menoleh ke belakang membuat Keyvan kesal hingga pria itu menghentikan langkahnya.


BRUGH


"Awww!!" desis Mikhayl lantaran tubuhnya membentur sang suami yang berhenti tanpa dia duga.


"Kenapa masih melihat ke belakang? Tidak tega? Atau kenapa?"


"Coklatnya, aku kepikiran," ucap Mikhayla kemudian menggigit bibirnya, membayangkan harta karun yang biasa jadi penenang untuknya itu berceceran hati Mikhayla mendadak resah.

__ADS_1


"Aku bisa beli pabriknya jika kau mau, berhenti melihat ke belakang, Mikhayla ... hati suamimu ini sakit siallan!!" Perlahan Keyvan mengerti ucapan mertuanya di perjalann beberapa saat lalu.


- To Be Continue -


__ADS_2