
"Ibu rumah tangga?" Keyvan kembali bertanya, tampaknya kalimat ibu rumah tangga terlalu besar lingkupnya untuk Mikhayla.
"Iya rumah tangga, sekarang memang baru bisa di kamar. Tapi, nanti aku juga usaha supaya bisa di dapur dan yang lainnya, jangan meremehkan ya Anda," ungkap Mikhayla tampaknya paham apa yang Keyvan pikirkan. Selama menikah memang dia hanya bisa menyelesaikan pekerjaan di kamar saja, akan tetapi hal itu juga atas perintah Keyvan karena khawatir rumahnya meledak jika Mikhayla turun ke dapur.
"Aku tidak memintamu melakukan hal semacam itu, Sayang. Cukup lakukan kewajiban inti yang tidak bisa digantikan oleh wanita lain, itu saja."
"Inti?"
"Iya, tidak perlu aku jelaskan otakmu sebenarnya paham, Mikhayla."
Memang paham, jelas saja arah pembicaraannya ke sana. Mikhayla hanya mengangguk dan menarik sudut bibirnya tipis.
"Baguslah, terima aku apa adanya karena memang waktu itu aku sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menikah di usia muda."
Salah sendiri Keyvan asal menculiknya, dia yang tidak bisa apa-apa bahkan makan saja masih kerap disuapi harus menerima takdirnya menjadi istri orang. Jelas saja dia tidak memiliki persiapan apapun, pikir Mikhayla kemudian tertawa sumbang.
Hingga Mikhayla mulai terdiam kala melihat pelayan restoran membawakan makanan ke meja mereka. Akan tetapi yang membuat Mikhayla bingung kenapa yang datang banyak sekali sampai meja itu penuh padahal mereka hanya berdua saja.
"Hah? Ini kenapa? Kamu pesan semuanya? Yang makan cuma kita berdua, astaga!!"
"Hanya beberapa, Khay ... ayo makan, aku tidak tahu apa yang kamu suka," ungkap Keyvan tanpa dosa dan dia sama sekali tidak berpikir istrinya akan marah.
Ini sungguh berlebihan, entah Keyvan yang lapar mata atau bagaimana hingga hal semacam ini bisa terjadi. Mikhayla bingung sendiri bagaimana cara menghabiskannya, sementara Keyvan sudah mulai menikmati makan siangnya.
"Laper banget ya?"
Keyvan makan begitu lahap padahal tadi pagi mereka sudah sarapan. Mungkin efek suasana hatinya baik-baik saja maka dari itu naffsu makan Keyvan lebih tinggi, apalagi dia mendatangi tempat makan yang sudah dia rindukan sejak enam bulan lalu.
"Hm, kamu kenapa belum makan? Tidak suka?"
"Suka, ini aku makan," tutur Mikhayla kemudian, hal semacam itu bukan masalah. Dia bahagia jika memang naffsu makan Keyvan meningkat, akhir-akhir ini dia terlihat lebih baik setiap harinya.
Mikhayla menatap sendu ikan bakar utuh yang ada di hadapannya, dia ingin tapi tidak bisa karena khawatir dengan durinya. Sama seperti orang tuanya, Mikhayla tidak bisa makan jika tidak dipisahkan lebih dulu. Biasanya yang melakukan hal itu adalah Rani ataupun Zia, dan saat ini yang ada di sisinya hanya Keyvan saja.
__ADS_1
"Sayang," panggil Mikhayla seraya menyentuh lengan Keyvan, pria itu berhenti sejenak dan menatap ke arah istrinya.
"Kenapa? Butuh sesuatu?"
"Mau ikannya, tapi takut durinya ... pisahin ya," pinta Mikhayla dengan menunjukkan mata indah penuh permohonan, mau tidak mau jelas saja Keyvan harus turun tangan dan berhenti makan sejenak demi menuruti kemauan istrinya.
Tatapan beberapa pengunjung tertuju pada mereka, cara Keyvan melayani ratunya memang sebaik itu dan jelas saja membuat wanita lain merasa iri. Hanya saja, beberapa dari mereka berpikir jika Mikhayla adalah adik Keyvan jadi wajar saja makan saja belum becus.
"Thanks, My Hubby," ujar Mikhayla semanis itu ketika ikan bakar kesukaannya siap disantap tanpa khawatir tenggorokannya mendapat masalah, meski hal itu menghambat acara makan siang Keyvan akan tetapi pria itu sama sekali tidak keberatan.
"You're welcome, my wife."
Keyvan terkekeh lantaran kalimat itu terdengar asing dan hampir tidak pernah Mikhayla ucapkan. Hanya demi kalimat manis itu, Keyvan harus berjuang memisahkan ikan dari duri-durinya lebih dulu. Dia yang sebenarnya tidak sesabar itu harus berusaha tetap tersenyum dan memberikan yang terbaik untuk sang istri di setiap harinya.
.
.
.
"Ya Tuhan!! Semuanya habis karena kita berdua?" tanya Mikhayla tidak percaya.
"Iya," jawab Keyvan santai dan merasa tidak ada hal yang aneh jika makanan habis.
"Lalu ikannya aku yang habiskan sendiri?" tanya Mikhayla kian panik kala dia mengingat Keyvan sama sekali tidak makan ikan itu sejak tadi.
"Hm, kenapa memangnya?"
"Astaga, kenapa bisa? Kenapa tidak dilarang?!!" tanya Mikhayla mendadak frustasi dan dia bingung sendiri kala menyadari berapa banyak kalori yang masuk dalam tubuhnya kali ini.
"Apa salahnya, Sayang? Biarkan saja, tidak akan gendut hanya karena itu," ujar Keyvan menebak kekhawatiran Mikhayla sebagai kaum wanita pada umumnya.
"Nanti gaunnya tidak muat, dan Papa malah salah paham kalau perutku buncit," keluh Mikhayla setakut itu jika akan terjadi hal yang tidak-tidak nantinya.
__ADS_1
"Tidak akan, kalau lapar jangan ditahan ... Ingat, kamu itu tidak lagi sendiri, Khayla. Tapi ada calon bayi kita dan jika kamu membatasi makan hanya karena takut gendut aku tidak suka," ungkap Keyvan lembut namun membuat Mikhayla mengerti itu sebuah ungkapan kemarahan Keyvan.
"Iya."
"Jangan cuma iya-iya saja, lakukan dan tekankan dalam diri kamu."
Menyebalkan sekali, Mikhayla yang kini kekenyangan bahkan tidak bisa lagi berdiri untuk beberapa saat. Matanya terlihat mengantuk dan sudah menguap berkali-kali.
"Ayo pulang, kamu ngantuk sepertinya."
"Bentar, aku ke toilet dulu ... sakit perut," keluh Mikhayla membuat Keyvan berdecak heran.
"Tidak bisa ditahan? Sampai rumah saja bagaimana?" tawar Keyvan berharap Mikhayla akan menundanya.
"Tidak bisa, sudah diujung ... Argh tunggu sebentar ya." Mikhayla berdiri bersamaan dengan suara yang terdengar familiar yang membuat Keyvan menatap ke arahnya, pria itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Ih jangan ketawa ya, itu bukan kentut!! Tapi kursinya yang geser," elak Mikhayla dengan wajah yang sudah memerah lantaran malu di hadapan sang suami.
"Hahaha iya, percaya." Keyvan memperkecil masalah dan tidak ingin membuat suasana hati Mikhayla buruk pada akhirnya.
"Tapi masih ketawa!!"
"Ck, sudah cepat sana, Mikhayla." Banyak sekali dramanya, lagipula kenapa semalu itu ketahuan buang angin di depan pasangan, pikir Keyvan bingung sendiri.
- To Be Continue -
Hai-hai cintaku, aku mau rekomendasi novel-novel tulisanku yang sudah end. Ini bisa kalian baca bagi yang belum💋
Btw buat yang punya ig boleh follow ig Author ya, aku lebih aktif disana untuk memberitahu perihal up dan lainnya daripada di GC💕 (Ig: desh_puspita)
Hanya saja aku sarankan My Bastard Husband tidak perlu dibaca ya. (Nanti menyesal) Maklumi saja, itu prosesku belajar menulis dan memang aku akui bertele-tele.
__ADS_1