
Perlahan, semua yang dahulu Zia katakan Mikhayla rasakan. Sulitnya menjadi ibu hamil dengan perut besar bahkan bergerak saja tidak bebas. Beruntung saja Tuhan mengirimkan Keyvan sebagai suami untuknya. Sosok pria paling sabar, tidak marah meski dimaki dan selalu memposisikan sebagai suami yang paling baik untuknya.
Agenda senam hamil yang dulu Mikhayla minta bahkan benar-bemar rutin Keyvan jalani hingga kini kandungan sang istri kian membesar. Seperti penuturan Keny, jika perut sang istri sudah membesar bisa dipastikan manjanya akan berkali lipat dan siap-siap jadi tukang pijat setiap malamnya.
Rutinitas semacam itu sudah Keyvan jalani sejak lama. Sama sekali dia tidak mengeluh apalagi merasa keberatan dengan kehamilan sang istri, jika seseorang bertanya apakah dia menginginkan istrinya hamil lagi jelas saja iya.
"Normal."
"Operasi, Khayla."
"Normal ... aku yakin bisa melahirkan secara normal."
Itu adalah perdebatan sejak kandungannya masuk trimester ketiga. Khayla seyakin itu normal sementara Keyvan terlalu khawatir dan tidak ingin istrinya merasakan sakit yang ketika melahirkan.
"Pikirkan baik-baik, Van ... mana baiknya saja," timpal Mikhail yang kini datang dengan membawa segelas teh hijau untuknya sendiri.
"Papa minum teh hijau? Mau diet, Pa?"
Sedang membahas apa dan larinya kemana, hal semacam ini sudah biasa bagi Keyvan dan dia tidak menjadikannya masalah. Lama kelamaan dia benar-benar terbiasa dan jika sudah ada Mikhail fokus istrinya kadang terpecah.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, bahas saja yang tadi sama suamimu ... melahirkan saja harus berdebat, padahal bayinya juga diam saja."
Baiklah, keduanya benar-benar serius kali ini. Merasa butuh pendamping Keyvan meminta Zia untuk turut memberikan saran kepada mereka. "Normal titik." Mikhayla menutup pembicaraan dan tidak ingin mendengarkan saran apapun lagi.
Seyakin itu Mikhayla dengan kemampuannya, sebagai suami Keyvan hanya bisa menimbang keputusan dengan sebaik mungkin, tidak lupa dia meminta saran Diana sebagai dokter yang menemani proses kehamilan sang istri sejak awal.
.
.
.
Meski perutnya sudah sebesar itu, Mikhayla nekat datang ke kantor hari ini demi mengantarkan bekal makan siang untuk sang suami. Seperti biasa penampilan Mikhayla tidak pernah gagal jika hendak menemui sang suami, kecantikannya tetap mampu menyihir para karyawan yang menatapnya.
__ADS_1
Dia datang tanpa mengabari Keyvan hari ini, sengaja memberikan kejutan dan dia ingin membuat suaminya tersenyum dengan masakannya siang ini. "Jam sebelas, semoga ada di ruangannya."
"Mikhayla?"
"Eh, Bang Justin mau kemana?" tanya Mikhayla kala melihat sahabat suaminya ketika menunggu lift terbuka, kebetulan sekali dia bertemu Justin di sini.
"Mau naik, Khay ... aku baru datang, flu jadi bangunnya siang," jawab Justin kemudian, pria itu terlihat santai karena memang Keyvan mengetahui keterlambatannya hari ini.
"Cepat sembuh, sudah minum obat?"
Kali pertama setelah beberapa tahun ada seseorang yang perhatian padanya. Justin terdiam sejenak dan tidak segera menjawab hingga Mikhayla menjentikkan jemarinya baru Justin tersadar.
"Su-sudah, Khay ... ayo kita naik, mau ketemu Evan kan?" lanjut Justin bertanya basa-basi yang sebenarnya memang basi sekali.
"Iya."
Mikhayla mengangguk pelan dan dia mengikuti langkah Justin kemudian. Dia menunggu dengan sabar hingga lift terbuka dan Justin mengantarnya ke ruangan Keyvan tanpa diminta.
"Aisyah, Evan ada?"
"Ada urusan apa?" tanya Justin paham betul saat ini istri Keyvan kesal luar biasa.
"Janji makan siang bersama pak Wayan, Pak ... atau saya telpon beliau sekarang?" tanya Aisyah berharap akan membuat istri bosnya sedikit lebih tenang.
"Tidak perlu, Kak. Aku tunggu saj_ ssshhh aaakkh." Ditengah pembicaraanya, Mikhayla berhenti seraya menyentuh perutnya.
Justin yang melihat dengan nyata sontak dibuat khawatir dan dia menahan tubuh Mikhayla dengan cepat. "Kenapa? Sakit atau kenapa?" tanya Justin khawatir mana kala Mikhayla meringis bahkan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Aaaawwww ... Iya, sakit."
Bukan hanya Justin tapi Aisyah juga sama khawatirnya. Wanita itu sontak mengambil alih kotak makan yang Mikhayla pegang. "Asiyah, telpon Evan."
"Sakit," keluh Mikhayla masih berusaha menahan namun yang gemetar saat ini adalah Justin.
__ADS_1
"Apa memang sudah waktunya?" Tidak salah lagi, di hadapannya ini adalah wanita hamil yang mendadak kesakitan. Di saat yang sama Keny datang dan justru bertanya hingga membuat Justin semakin kesal saja.
"Khayla kenapa? Tidak jatuh kan? Justin, kau apakan sampai dia kesakitan begitu?" tanya pria itu beruntut dan sama sekali tidak memahami keadaan.
"Kau bisa diam? Dia tiba-tiba sakit sendiri ... aku sama sekali tidak mengusiknya," jelas Justin kemudian membopong tubuh Khayla karena jika menunggu Keyvan tentu akan semakin lama.
"Aaaaaaaa kalian berdua diam! Perutku sakit!" teriak Mikhayla di sela rasa sakitnya, sungguh ini luar biasa ditambah lagi dengan kehadiran Keny yang banyak bicara.
"Iyayaya sabar ya, kita ke rumah sakit sekarang ... Aisyah!! Pinta Evan cepat," titah Justin sedikit meninggi karena memang dia luar biasa panik.
"Tahan, Khay!! Jangan sampai melahirkan di sini ... Evan kemana memangnya." Adanya keny sama sekali tidak membuat suasana tenang, yang ada justru semakin runyam hingga di mobil pun tetap sama.
"Astaga, Keny!! Kau di depan kenapa ikut di belakang? Sejak kapan mobil bisa jalan sendiri?!!" sentak Justin lantaran Keny justru ikut masuk dan duduk di belakang.
"Oh iya-iya, Aisyah kamu dampingi Justin di belakang ... kamu yang sudah pengalaman melahirkan di sini," ungkap Keny kemudian, tidak hanya dia saja tapi juga Aisyah sama paniknya.
"Oke tenang, tarik napas ... buang," ungkap Aisyah ketika duduk di sisi Khayla, Justin yang berpikir itu adalah cara-cara untuk melahirkan segera spontan menahan Khayla.
"Khayla jangan!! Aisyah jangan macam-macam, tidak lucu kalau dia sampai melahirkan di mobil!!"
"Haaaa Bang Justin jangan teriak-teriak!! Sakit!" pekik Khayla menarik rambut Justin lantaran telinganya berdengung akibat pria itu berteriak luar biasa paniknya.
"Justin lampu merah, bagaimana ini?" Keny semakin membuat masalah rumit dan di dalam mobil tidak ada yang bicara santai kecuali Aisyah. Sebagai ibu dari dua anak jelas dia sangat paham bagaimana seharusnya.
"Terobos saja boddoh!! Persetan dengan aturan, nyawa lebih penting!!" Tidak peduli meski dicap salah, saat ini nyawa Khayla tergantung kesigapan mereka.
Tahan, Khayla ... jangan sampai melahirkan di jalan, bisa habis aku dicincang Evan.
"Keny cepat sedikit!!" bentak Justin merasa mobil ini seakan tidak berjalan sama sekali.
"Ini sudah cepat!! Bahkan melampaui batas, matamu buta?" kesal Keny yang lama-lama habis batas kesabaran akibat pria itu.
- To Be Continue -
__ADS_1
Selamat hari senin, setor vote buat Khayla jangan lupa, Bestie❤