
"Haha begitu saja marah, penggoda emosian mana bisa," goda Keyvan sengaja menyentuh dagunya, saat itu juga Mikhayla menepis tangan Keyvan dan menggosok kuat-kuat bekas sentuhan Keyvan.
"Siapa yang goda? Aku istri kamu apa salahnya ... aku minta anak, bukannya uang," celetuk Mikhayla sebal sendiri dan benar-benar menjadikan hal ini sebagai masalah.
"Lulus dulu, baru kukasih anak," jawab Keyvan tak terbantahkan karena memang dia yakin jika sampai Mikhayla hamil lagi gelar dr itu tidak akan ada di depan nama Mikhayla.
"Ih lama, kenapa harus nunggu lulus? Sekarang kan bisa."
"Alasan kamu malas kuliah, aku belum siap kalau harus punya dua Zavia, Khay."
Keyvan mengatakan keseriusannya yang memang belum memiliki keberanian punya anak lagi. Khawatir justru lebih aktif dari Zavia, sementara hendak menggunakan jasa pengasuh Keyvan tidak semudah itu percaya pada orang baru saat ini.
"Ya sudah kalau begitu, aku ikut kamu saja," jawab Mikhayla menyerah dan dia kembali meneruskan tanggung jawabnya. Suaminya terlalu baik-baik untuk dirinya yang setiap lelah putus harapan.
"Tapi yang tadi tetap berlaku, sini ... aku akan buat kamu tidur nyenyak," ucap Keyvan mengangkat tubuh Mikhayla ke atas meja belajarnya.
"Aku belum selesai belajarnya," ucap Mikhayla terkesiap kala menyadari tubuhnya sudah berpindah.
"Lakukan sambil belajar, kita di meja bisa, 'kan?"
"Tentu, kita coba saja."
Mikhayla yang jenuh sejak tadi sontak mengalungkan tangannya di leher Keyvan. Wanita itu mengecup Keyvan tanpa diminta, lummatan tak berbalas antara Mikhayla dan Keyvan berlangsung beberapa saat.
"Kenapa tidak dibalas?" tanya Mikhayla menatap mata indah Keyvan penuh kerinduan, belum apa-apa tubuh Mikhayla seakan panas dengan sendirinya.
"Hm? Aku merasakan skillmu ... semakin pintar ternyata," puji Keyvan kemudian semakin dekat dan meminta Mikhayla melingkarkan kaki di pinggangnya.
__ADS_1
"Pintar, kamu gurunya."
Keyvan terkekeh, Mikhayla mengikat rambutnya. Namun, secepat itu Keyvan melepasnya, dia lebih suka rambut Mikhayla tergerai indah. "Jangan diikat, cantik kamu berkali lipat kalau diurai," puji Keyvan kemudian mulai mengecup keseluruhan wajahnya, setiap inci bahkan dia khawatir ada yang tertinggal sedikit saja.
"Euumh," jawab Mikhayla tidak sebenarnya lagi lantaran jemari Keyvan mulai menjelajahi tubuhnya. Mikhayla tidak mau kalah, Keyvan sibuk menelusuri lekuk tubuhnya sementara dia kini membuka kancing piyama Keyvan satu persatu.
"Punggung kamu kenapa?" tanya Keyvan menyadari punggung istrinya terlihat sedikit memerah dan itu cukup menyakitkan, dia khawatir luka semacam itu Mikhayla dapatkan dari pria yang dia ceritakan tadi siang.
"Hm? Gigit Zavia," jawabnya tidak lagi fokus pada pertanyaan sang suami.
"Benar-benar sama, kenapa kalian suka sekali gigit punggung begini?" tanya Keyvan mengelus bekas luka itu perlahan, heran juga kenapa bisa kebiasaan Zavia dan Mikhayla tidak jauh beda.
"Sakit?"
"Tidak, kita jadi tidak sebenarnya? Aku dingin begini," ungkap Mikhayla sebal sendiri lantaran Keyvan terus saja membahas bekas lukanya padahal tubuhnya hampir polos tanpa sehelai benangpun.
"Aaaaarrggghh!!" pekik Mikhayla merasakan sakit di bagian belakangnya, segala panas yang tadinya menjalar mendadak hilang seketika.
"Sayang? Kenapa?"
Keyvan panik kala melihat pinggang istrinya seakan naik padahal permainan saja belum dimulai. Mata Mikhayla terpejam, dan jelas menunjukkan dia kesakitan.
"Aaaawwww, saaakiit," keluh Mikhayla hingga Keyvan benar-benar berpikir jika itu adalah kesalahannya main banting.
"Sa-sakit apanya? Khayla jangan bercanda," ucapnya panik dan dia khawatir pinggang istrinya patah.
Mikhayla masih meringis dan berusaha menahan tangisnya. Beberapa saat dia butuh waktu untuk tenang sejenak sebelum kemudian menyingkap selimut, entah apa yang membuat pinggangnya sakit sampai ke tulang.
__ADS_1
"Zavia!!!" pekik Mikhayla tertahan kala melihat mainan putrinya berserakan di bawah selimut, kenapa bisa mereka tidak menyadari hal itu.
"Shuut, jangan teriak-teriak ... sudah malam."
"Lihat!! Kamu yang jaga dia malam ini, kenapa dibiarin bawa mainan ke atas tempat tidur?" tanya Mikhayla mengerutkan dahi dan naffsunya untuk berhubungan suami istri hilang seketika.
"Sayang, tapi dia memang main di sana ... mana aku tahu dia simpan mainannya di bawah selimut," sesal Keyvan menggosok pinggang sang istri yang sepertinya memang sangat tersiksa jika melihat berapa banyak mainan Zavia di atas tempat tidur mereka.
Beberapa jam lalu Zavia main sendiri. Keyvan bebaskan dia mau kemana dan terakhir memang dia membawa keranjang mainannya di kamar mereka. Akan tetapi, sama sekali Keyvan tidak bepikir jika putrinya akan menyimpan mainan sebanyak itu di bawah selimut mereka.
Zavia, kalau mamamu sampai marah Papa bisa pusing sampai besok, Nak.
Keyvan takut jika Mikhayla benar-benar enggan melanjutkannya. Apalagi ketika melihat cara dia mengumpulkan mainan Zavia. Habis sudah, salah Keyvan juga kenapa tidak dipastikan keadaan aman lebih dulu.
"Punya anak satu, nakalnya luar biasa ... padahal perempuan, eeeeuuh awas saja besok tuyul satu itu," omel Khayla kemudian, beberapa saat lalu dia meminta anak pada Keyvan, dan kini semua berubah secepat itu.
.
.
- To Be Continue -
Mikhayla : Tips dong, Bund itu anak saya kenapa begitu😣
Hallo, seperti biasa ini rekomendasi novel hari ini guys. Sementara Mikhayla up boleh mampir ya🤗
__ADS_1