
Imbas dari kemarahan Mikhail pada Bastian ternyata tidak sesederhana itu. Dia menolak diantar Bastian dan meminta Keyvan turun tangan untuk menjadi sopir pribadinya hari ini. Tidak masalah, sesekali dia merasakan jadi Wibowo, pikirnya.
"Van, boleh Papa minta sesuatu?" Mikhail membuka suara setelah hampir delapan menit keduanya diam-diam saja.
"Boleh, Pa ... minta apa?" tanya Keyvan sedikit menoleh pada sang Papa yang kini tetap fokus menghadap ke depan.
"Untuk terakhir kalinya Papa minta masalah ini, Van ... Papa tidak butuh pengakuan cinta atau perasaanmu pada putriku, segera registrasikan pernikahan kalian."
Dalam rumah tangga memang tidak seharusnya ada campur tangan orangtua. Mikhail paham betul akan hal itu, hanya saja demi memastikan mental putrinya baik-baik saja pria itu meminta dengan sangat untuk Keyvan membuktikan jika memang mencintai putrinya tidak hanya lewat bicara, tapi tindakan.
Bukan tentang kekuasaan, bukan pula ingin menguras harta Keyvan sebagaimana dia kerap lakukan pada Syakil dahulu. Akan tetapi, satu hal yang Mikhail minta ialah menjadikan Mikhayla istri yang sesungguhnya. Pria itu hanya ingin status putrinya sebagai istri Keyvan tercatat jelas secara negara tidak peduli apapun alasan Keyvan.
"Iya, Pa. Secepatnya aku akan selesaikan."
Mikhail menghela napas lega, setidaknya Mikhayla memiliki hak sepenuhnya sebagai istri Keyvan. Sebelumnya, memang hal itu sudah Keyvan rencanakan. Hanya saja, Leon yang tiba-tiba mengacaukan kehidupan mereka membuat semuanya kacau dan terpaksa ditunda.
Perihal resepsi atau semacamnya itu terserah Keyvan karena Mikhail tidak lagi punya hak untuk ambil keputusan. Setidaknya dia sudah berusaha yang terbaik untuk membuat kejelasan status putrinya yang kini sudah menjadi istri orang.
"Satu lagi, bisakah kau tidak kembali ke rumah lamamu? Kemanapun ... Andai kau tidak mampu beli rumah baru, Papa akan sediakan, Van."
Demi apapun, Mikhail benar-benar tidak sudi Mikhayla kembali ke tempat itu. Tempat dimana mereka bertemu dengan keadaan yang memang tidak baik, suasana di sana terlalu panas dan yang Mikhail ingat tentang rumah itu hanyalah tentang kenangan pahit dimana dia harus menikahkan putrinya secara paksa demi sebuah kesalahan yang sama sekali tidak sengaja dia lakukan.
"Mulailah hidup baru tanpa harus mengingat kenangan apapun tentang masa lalumu ... Mikhayla mungkin tidak mengungkapkan rasa sakitnya. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, ketika pasangan memiliki jiwa lain dalam hatinya selain kita rasanya sakit sekali, Van."
__ADS_1
Keyvan tertegun sejenak mendengar ucapan sang papa. Pria itu dibuat kagum seketika dan mendadak penasaran dengan kisah cinta sang mertua.
"Papa pernah merasakannya?"
Siallan, bukan itu yang ingin dia tanyakan tapi kenapa justru kalimat itu yang keluar. Keyvan sontak menutup mulutnya kala menyadari jika dirinya benar-benar tidak sopan, pria itu berusaha untuk tetap terlihat santai padahal dirinya ketar-ketir jika Mikhail meledak-ledak seperti marah pada Bastian semalam.
"Siapa bilang? Apa Papa memiliki tampang pria tersakiti? Ada-ada saja kau."
Sejak kapan Mikhail mau mengaku, egonya luar biasa tinggi dan takkan mungkin rela berbagi kisah lama. Kisah yang membuat dirinya menjadi penjahat asmara dan teganya merampas seorang bidadari dari pelukan sang pangeran dengan cara liciknya. Ya, ganti rugi spion mobil yang padahal jika di service tidak akan semahal itu.
"Benar juga, pria seperti Papa sepertinya tidak mungkin merasakan sakit hati ... Tapi kemungkinan menyakiti," ucap Keyvan santai tanpa takut macam di depan agar tersinggung dengan ucapannya.
"Kau belum pernah masuk peti mati?"
"Oh iya, Papa ingin mengenalkanmu dengan beberapa orang penting di kantor hari ini ... Apa tidak keberatan?"
"Tidak, Pa. Hari ini aku juga tidak ada agenda penting yang harus diselesaikan," sahut Keyvan kemudian. Mendapat ajakan begini jelas saja dia bahagia, dia merasa benar-benar dihargai dalam keluarga ini.
.
.
.
__ADS_1
Sementara di rumah, Mikhayla tengah dibuat uring-uringan dengan tugas dadakan yang diberikan sang papa untuk suaminya. "Kemana ya? Kok lama," gumam Mikhayla begitu pelan.
Sepanjang suaminya belum pulang, Mikhayla tidak henti-hentinya menatap khawatir dan sengaja menunggu di pos jaga bersama Rahman. Dia khawatir, kenapa mengantar ke kantor harus selama itu bahkan ini sudah lebih satu jam.
"Tenang saja, Non ... paling juga sepuluh menit lagi pulang."
Rahman mengerti kegundahan hati Nona mudanya itu kembali angkat bicara. Mikhayla yang mendengar ucapan Rahman hanya mencebik karena itu sudah Rahman ucapkan sejak tiga puluh menit lalu.
"Om Rahman bilang gitu lagi aku kasih piring cantik," celetuk Mikhayla sebal sekali.
"Dibilangin nggak percaya ... suami Nona tu jago, Khay. Manjat pagar, manjat tembok, lari, mengendap-ngendap dan semuanya bisa. Santai, dijamin dia baik-baik saja."
Celotehan Rahman sama sekali tidak dia dengarkan lagi. Ponsel Keyvan juga tertinggal, memang benar-benar menyebalkan. Hendak menghubungi sang papa juga percuma karena biasanya Mikhail akan sengaja mematikan ponselnya jika sedang di kantor.
Hingga, beberapa menit dia menunggu suara motor yang luar biasa mengganggu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Pria itu turun dengan melepas helm dan mengacak rambutnya sebentar, tampan tapi sama sekali tidak menggetarkan hati Mikhayla lagi.
Dari pos jaga Mikhayla mendengkus sebal kala menyadari siapa yang datang. Sungguh dia muak sekali, kenapa selalu datang di saat dia sudah perlahan baik-baik saja.
"Pak, bilangin orangnya sudah pindah ke Belanda," bisik Mikhayla pada Rahman untuk segera disampaikan pada tamu tak diundang itu.
"Siap, No_"
"Mikhayla, aku mau bicara ... tolong keluar sebentar, Khay."
__ADS_1
- To Be Continue -