
"Van, apa enaknya?"
Hujan-hujan begini Mikhail dibuat ngilu lantaran menantunya menikmati potongan lemon persis mangga madu. Semakin besar kehamilan Khayla, Keyvan kerap kali membuat Mikhail membeliak dengan segala tingkahnya.
"Enak, Pa ... mau?"
"Tidak, terima kasih ... Mikhayla mana?"
"Ada, lagi ajarin Zavia baca."
Hendak marah, tapi kata Zia apa yang Keyvan alami adalah hal biasa. Istrinya yang hamil namun dia yang justru terlihat berbeda, pria itu benar-benar berbeda. Dulu, dia benar-benar anti sembarang makan dan kini pria itu bahkan meminta Wibowo mencarikan sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali.
"Jangan sering-sering, asam lambungmu naik nanti ... nyemil kok lemon, jeruk purut sekalian," omel Mikhail melemparkan bantal tepat di wajah menantunya yang kini tengah fokus menonton reality show kesukaannya.
"Ada, Pa?"
"Ck, malah tanya ... Papa serius, Evan!! Itu lemon sudah berapa biji kamu emmut?" tanya Mikhail menggeleng pelan dan itu sedikit mambuat Keyvan tersedak, baru dia sadari jika lemon sebaskom yang dia minta dari Rani tinggal beberapa biji lagi.
Selang beberapa lama, Mikhail mendatangi kamar Zavia dengan harapan bisa memberikan kejutan pada cucunya. Akan tetapi, baru saja kepalanya hendak mengintip kamar Zavia, sebuah benda asing mendarat tepat di kening Mikhail.
"Kena!!" teriak Zavia bahagia luar biasa usai menarik anak anah mainan tepat di kening lebar Mikhail, sontak saja Mikhayla terbahak dan sama sekali tidak merasa bersalah atau kelakuan putrinya.
__ADS_1
"Papa baru dateng? Mama ikut, Pa?"
"Tidak, Mama pengajian ... mulai tobat dia," ucap Mikhail kemudian menghampiri cucunya, semenjak Mikhayla pindah rumah memang hubungan keduanya semakin dekat dan dunia Mikhail sama sekali tidak kesepian.
"Opa!! Zavia punya mainan baru ... ayo perang."
Anak mana yang ketika didatangi kakeknya justru ngajak perang. Mikhail tidak mungkin menolak kala cucunya memberikan pistol air di sana, sementara dia tetap dengan panah mainan yang selalu berhasil dia bidikkan ke lamannya.
"Khayla ... anak kamu perempuan, kenapa mainannya masih begini?"
Mikhail benar-benar khawatir, mengingat dahulu Mikhayla kecil sangat berbeda. Lebih parahnya lagi, semua mainan Zavia adalah warisan Sean dan juga Zean yang dia ambil paksa setelah pindah rumah.
"Dianya suka, lagipula mainan bekas Zean banyak yang masih bagus, daripada buang uang ... Papa gimana sih? Katanya harus hemat."
"Tiw tiw tiw tiw."
Mulai, memang pantang sekali jika sudah dikunjungi. Entah dosa apa yang Mikhail lakukan di masa lalu hingga dianugerahi cucu yang luar biasa begini.
"Sayang, jangan tembak Opa begitu ... nanti kena mata Opa buta loh."
"Astaghfirullah, Khayla ... kamu keterlaluan ya, doain Papa buta atau bagaimana?"
__ADS_1
Salah terus, siap juga yang mendoakan dia buta. Mikhayla hanya bicara seadanya dan dia ingin Zavia berhenti karena memang peluru dari pistol yang dia gunakan saat ini cukup berbahaya jika kena mata.
"Maaf, Mama ... Via main yang lain deh."
Meski Zavia adalah anak yang cukup aktif, tapi dia super penurut dan khawatir sekali Khayla marah padanya. Pria itu terkekeh kala cucunya seperti mencari mainan lain dan Mikhail berharap akan sedikit berbeda.
"Hiyaaaa Via punya ini, Opa."
Zavia menunjukkan cambuk yang dahulu sempat jadi mainan kesayangan Zean dan itu berhasil membuat Mikhail memejamkan mata perlahan. Sepertinya dia sangat salah berharap pada Zavia, "Sepertinya dia harus les piano beberapa tahun lagi, Papa takut putrimu jadi preman pasar, Khayla."
"Ih Papa apaan sih, masa didoain jadi preman."
"Bukan doa, tapi khawatir ... ini pasti karena suami kamu preman, makanya begini," ucap Mikhail dan membuat Khayla memilih berlalu kemudian menggelengkan kepalanya.
Terpaksa, mau tidak mau Mikhail menemani putri Keyvan bermain dan ini bisa dipastikan cukup melelahkan. Akan tetapi, dia sama sekali tidak merasa keberatan sekalipun Zavia kerap menguras keringatnya.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue