
"Calmdown, Mikhayla ... jangan panik." Mikhayla memejamkan mata dan butuh beberapa saat untuknya benar-benar tenang. "Dan jangan terlalu berharap," lanjutnya kemudian.
Padahal hanya pembuktian, sekalipun hasilnya tidak sesuai dugaan dia baik-baik saja. Akan tetapi, entah kenapa untuk hal ini dia sebegitu berharap akan kabar baik. Setelah cukup tenang, dia membuka sebelah matanya lebih dulu lantaran khawatir hasilnya tidak sesuai keinginan.
Deg
Jantung Mikhayla berdetak lebih kencang kala dia melihat dua garis yang masih samar lantaran matanya belum terbuka seluruhnya. Beberapa kali dia menggosok matanya sedikit kasar, Mikhayla menganga kala menyadari yang dia lihat memang benar adanya.
Tes
Butiran kristal bening menetes tanpa dia duga, Mikhayla bingung dia hendak tertawa atau bagaimana. Akan tetapi, apa yang dia lihat kini berhasil membuat pria wanita itu merasakan hal yang sama sekali tidak pernah dia rasakan.
"Jangan senang dulu, Khay ... mungkin saja salah. Iya, 'kan?" Mikhayla tidak ingin dipatahkan harapan, tanpa menghapus air matanya Mikhayla mencoba kembali dengan dua alat tes kehamilan yang berbeda. Ya, dia memang sengaja membelinya lebih dari satu, selagi masih bisa disimpan ditasnya tidak ada yang salah.
Dengan terburu dia kembali mencoba, belum puas jika hanya mengandalkan satu saja. Bisa saja kesalahan atau hal lain, yang jelas Mikhayla hanya ingin yakinnya pagi ini tanpa keraguan sama sekali. Dalam kesendirian, matanya menatap teliti ketiga alat tes kehamilan tersebut dan hasilnya sama.
Mikhayla menatap pantulan wajahnya di cermin, tanpa dia sadari jika kini wajahnya sudah benar-benar merah. Dia bahagia, seharusnya tersenyum bukan justru membuang air mata, pikir Mikhayla sesaat merasa dirinya cengeng sekali.
"Aku benar-benar hamil? Anak dia? Ini serius, 'kan? Mama!! Khayla hamil?" tanya Mikhayla heboh sendiri pada bayangannya di dalam kaca.
Mikhayla seakan tidak percaya, dia meraba perutnya yang memang begitu datar. Matanya berair namun dia tertawa sumbang seakan tak percaya dengan hal ini, "Lucu banget, hai ... sudah berapa lama di sini? Wajar dari kemarin ngantuk terus," tutur Mikhayla sengaja mengelus perut seolah calon bayi dalam dirinya sudah paham bahasa manusia.
Persis balita yang mendapatkan mainan baru, Mikhayla bahkan meyingkap bajunya hingga ke atas demi melihat perutnya lebih jelas. "Aku tidak bermimpi kan?" tanya Mikhayla sengaja mencubit kulit di bagian perutnya, dan hasilnya tentu saja menyakitkan.
Cepat-cepat dia keluar kamar mandi, Mikhayla mencari ponselnya segera dan bermaksud menghubungi Keyvan segera. Akan tetapi, lama berpikir membuatnya berpikir dua kali dan mengurungkan niatnya. "Jangan dulu deh."
Mikhayla masih menikmati bahagianya sendiri, dia memilih tutup mulut karena berpikir akan lebih baik jika ini menjadi sebuah kejutan. Hingga, kala pintu kamar diketuk sang mama dia masih terus menikmati kebahagiaan itu sendirian.
Ceklek
"Belum mandi juga? Atau kamu berniat tidur lagi, Mikhayla?"
__ADS_1
Zia menggeleng pelan melihat putrinya yang masih acak-acakan. Lebih parahnya lagi, tempat tidurnya luar biasa berantakan. Mikhayla dinikahi pria rapi yang bisa dipastikan hal-hal sekecil itu akan tertata, akan tetapi hal tersebut tidak membuat Mikhayla berubah dari sebelum menikah, pikir Zia.
"Mama kenapa masuk-masuk marah?"
Sama sekali tidak marah, Zia heran kenapa putrinya mendadak begini. Wanita itu menghampiri sang putri lantaran merasa curiga ada sesuatu yang dia sembunyikan di belakangnya, belum lagi wajah Mikhayla tampak terkejut kala Zia datang padanya secara tiba-tiba.
"Apa yang kamu sembunyikan di belakang? Mama mau lihat," pinta Zia baik-baik dan mendapat penolakan dari Mikhayla, padahal sejak awal dia yang terang-terangan meminta izin pada sang mama. Akan tetapi, melihat wajah mamanya pagi ini Mikhayla sedikit ragu.
"Tidak ada."
"Bohong, Mama tidak seboddoh itu ya," ungkap Zia tidak percaya sama sekali dan meminta Mikhayla segera berbalik, wajah mencurigakan sang putri semakin membuat Zia tidak akan melepaskan Mikhayla semudah itu.
"Ih apasih, Mama ... maksa-maksa, Khayla aduin bang Evan nih." Kebiasaan sekali mengancam dengan cara yang begitu, dan dia akan melakukan sebaliknya terhadap sang suami jika berbuat seenaknya.
"Halah, memangnya kamu pikir Mama takut?" Saat ini mungkin Zia berank berkata seperti itu, akan tetapi jika saja hal itu terjadi ketika Keyvan belum dia kenali jelas saja Zia takut.
"Mana, coba lihat apa yang kamu sembunyikan itu," ujar Zia sekali lagi dan masih benar-benar lembut.
"M-ma!!" pekik Mikhayla kala bwnda itu berhasil Zia dapatkan meski harus terjadi drama singkat itu.
"Ini milik kamu, Khayla?"
Mikhayla mengangguk, raut wajah Zia tidak dapat diartikan kala melihat dua garis biru yang tampak nyata di ketiga alat tes kehamilan itu. Matanya memanas, entah kenapa dia justru khawatir mengingat keras kepalanya Mikhail yang hingga detik ini masih tetap dengan pendiriannya.
"Evan sudah tahu?"
"Belum, nanti saja."
Zia merengkuh Mikhayla kemudian, dia sebahagia itu lantaran sang putri tidak bernasib sama sepertinya. Sempat khawatir kala Mikhayla menginjak remaja, kini dia berada dalam pelukan pria yang tepat. "Segera beritahu Evan, tidak perlu mengatakan hal ini pada Papa. Paham, Khayla." Dia bicara tanpa melepaskan pelukannya sama sekali.
.
__ADS_1
.
.
Sementara kini di kantor Keyvan tampak lebih fokus, mungkin karena tadi pagi Mikhayla memperlakukannya sedikit berbeda. Keny yang tampaknya ngantuk luar biasa sedikit mengusik pemandangan hingga Keyvan sengaja menepuk. "Kau tidak tidur?" tanya pria itu kemudian, jika masuk ke ruangannya hanya untuk tidur hal itu sama sekali tidak dibenarkan.
"Istriku mulai pegal-pegal, Van ... aku bahkan hampir tidak tidur karena harus memijit kakinya," keluh Keny untuk pertama kalinya, biasanya pria itu akan tampak biasa dan tidak mempermasalahkan apapun tentang istrinya.
"Sebentar lagi ya?"
"Ya mungkin satu bulan lagi, galaknya luar biasa ... untung saja dapat suami sepertiku, andai dapat Justin mungkin Sonya sudah masuk IGD sejak lama," ujar Keny sengaja menyindir Justin yang memang hanya memiliki kesabaran luar biasa tipis.
"Aku tidak segilaa itu, Keny ... sejak kapan aku membuat wanita masuk IGD karena marah? Sekalipun masuk IGD mungkin karena pertempuran di malam harinya," ujar Justin membanggakan diri, pernyataan tersebut sontak membuat Keyvan menatapnya datar.
"Begitu saja bangga, banggalah ketika kau berhasil membuat wanitamu kenyang sembilan bulan, bukan masuk IGD karena jadi korban ledakan rudalmu," sentak Keny bercanda namun membuat Keyvan merasa tidak nyaman hingga dia hanya terdiam meski Justin dan Keny terbahak di hadapannya.
"Kau kenapa, Van? Ada yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, aku ingin sendiri ... Bisa kalian berdua keluar?" Keyvan mendadak berubah dan ini sukses membuat Keny dan Justin saling menatap, saling melempar kesalahan lantaran sama-sama tidak bisa menjaga hati Keyvan.
BRAK
"Kau yang mulai!!"
"Kau yang membahas kenyang sembilan bulan dan lainnya, sementara kau tahu sendiri Evan sedang resah masalah istrinya yang tidak kunjung hamil," desis Justin kini berlanjut meski mereka sudah berada di luar ruangan Keyvan.
"Lalu bagaimana?" tanya Keny bingung sendiri.
"Ajari dia posisi yang baik coba, jelaskan kalau perlu praktek di hadapannya."
"Gilla!! Mengajari Evan masalah itu sama halnya mengajari buaya berenang boddoh!!" sentak Keny sembari menoyor kepala Justin.
__ADS_1
- To Be Continue -