Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 39 - Harap Berkaca


__ADS_3

"Apasih, Mas? Hak mereka, Mikhayla bukan anak kecil lagi," desis Zia menarik pakaian Mikhail yang kini tengah berusaha menguping di pintu kamar putrinya.


Setelah Keyvan masuk, bukannya masuk ke kamar menemui Zia melainkan dia mendatangi kamar Mikhayla. Dia yang masih dibayangi ketakutan dan sedikit tidak rela putrinya terjamah pria nekat mencaritahu apa yang mereka lakukan.


"Menurut kamu, Keyvan melakukannya?" tanya Mikhail frustasi dan masih berusaha mendengar dari luar, penasaran sekali seolah tidak pernah jadi pengantin baru.


"Duh pembicaraannya, posisikan kamu sebagai Keyvan ... apa mungkin tidak akan menyentuh Mikhayla? Mereka sudah menikah, Mas." Zia menarik pergelangan tangan sang suami kini, setelah usaha sebelumnya gagal Zia mencoba cara lain dan hasilnya tetap saja gagal.


"Aku tidak rela, Zia ... putriku masih kecil, bisa-bisanya dia ajak dewasa sebelum waktunya," omel Mikhail tak sadar diri bagaimana dirinya dulu yang bahkan lebih parah dari Keyvan.


"Suka-suka ngaca!! Kamu dulu lebih licik dari Keyvan ... minta ganti rugi pakai harga diri, coba pikir dulu sebelum ngomel."


Mikhail pura-pura tidak mendengar, dia masih menempelkan telinganya di pintu. Padahal, sekuat apapun Mikhayla berteriak juga tidak akan terdengar dari luar. Memang, di saat begini otak Mikhail yang hanya beberapa mili itu semakin jelas bodohnya.


"Mas."


"Shuut diam, Zia ... kalau sampai putri kita kesakitan bagaimana? Mikhayla juga kenapa gagal tumbuh begitu, gen kamu pasti dia pendek begitu."


Di antara papa di dunia mungkin cuma Mikhail yang mencaci kekurangan putrinya sendiri. Dia yang panik lantaran postur tubuh Keyvan yang sama seperti dia ketika muda, sementara Mikhayla hanya sebatas dadanya. Bahkan harapan Mikhail putrinya akan sedikit lebih tinggi masih ada.


"Dih pakai bawa-bawa gen segala, kamu aja nggak jago bikinnya ... memang anak-anak kita aja pendek semua," balas Zia tidak mau kalah, meski Mikhayla cantik tapi tidak bisa dipungkiri tubuhnya memang paling mungil bahkan lebih tinggi sang mama.


"Lengkara sama Ameera masih delapan tahun sudah kelihatan bibit tingginya, Zean sama Sean juga tinggi ... cuma dia aja sedikit aneh begitu, itu akibat dalam kandungan kamu bawa kabur ke Amerika mungkin ya?"


Pembahasan jadi kemana-kemana, Mikhail bahkan membandingkan tinggi Mikhayla dengan keempat adiknya. Zia menarik telinga Mikhail agar sedikit sadar dan diam sebentar, jujur saja Zia sebenarnya khawatir Keyvan akan merasa terganggu dan marah jika sampai mengetahui tingkah mereka.


"Aaarrgghhh, sakit!! Mereka dengar bahaya kita, kalau Keyvan bawa pistol bisa mati Mas, Zia ... kamu mau jadi janda?"


"Ya makanya jangan di sini!! Udah tua kepo banget. Jangan ikut campur, kamu ingat kan gimana rasanya diganggu dulu?"


Benar juga, jika Zia ingat dahulu bagaimana kesalnya Mikhail diganggu hingga pindah rumah lebih cepat daripada perkiraan. Dari hal semacam itu harusnya dia sadar betapa menyebalkan dirinya itu.


"Ah sebentar dulu, Mas memastikan sekali lagi." Mikhail menepis pelan tangan Zia dan melanjutkan acara nguping menantunya.


"Astaga udah, Mas!! Tidur, ini udah malem ... Ma_"

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka, Mikhail yang tengah menguping hampir saja berteriak kala menyadari menantunya tengah menatap dengan mata tajam dan sedikit bingung di sana.


"Ada apa, Pa?" tanya Keyvan merapikan rambut yang sedikit acak-acakan.


"Tidak ada, hanya memastikan Mikhayla sudah tidur atau belum." Berusaha tetap terlihat dingin dan santai walau tertangkap basah tengah menguping di sana.


"Belum, sebentar lagi Khayla tidur."


"Yakin?" tanya Mikhail bersedekap dada, sementara Zia mencubit pinggangnya sebagai isyarat agar pergi segera.


"Iya, Pa."


Keyvan tampak menghindari tatapan mata Mikhail, keringat membasahi wajah dan atas bibirnya. Napas Keyvan tampak sedikit tidak stabil, seakan melakukan pekerjaan berat. Kancing piyama yang terbuka di bagian atas dan menampakkan dada yang kini naik turun jelas membuat Mikhail tidak bisa berpikir jernih.


"Tidurlah, besok Syakil dan yang lainnya akan datang ... aku harap kau bisa jaga sikap dan memposisikan diri sebagai menantuku yang sesungguhnya. Aku tidak peduli mau sehebat atau sebesar apa kuasamu, saat ini kau adalah menantuku yang artinya bagian dari keluarga Megantara."


Keyvan mengangguk pelan, niat hati Mikhail belum akan bicara soal ini. Namun, demi menjaga wibawa dan menghindari pandangan buruk dari sang menantu, Mikhail memilih membicarakan hal ini.


Mikhail berlalu usai mengucapkan hal itu, Zia juga demikian. Keyvan menghela napasnya kasar sembari menatap punggung pasangan yang selalu terlihat manis itu dari kejauhan.


.


.


.


"Huft, seharusnya memang aku tahan malam ini."


Pria itu mengelus dadanya berkali-kali, beruntung saja pintunya dia kunci. Masih tidak habis pikir kenapa bisa firasat buruknya benar-benar nyata.


"Bener Papa ya?"


Suara lemah Mikhayla membuat Keyvan kembali masuk saat itu juga. Pria itu tersenyum simpul kemudian menatap istrinya yang kini duduk dan menarik selimut hingga lehernya, seakan belum pernah dilihat, pikir Keyvan.

__ADS_1


"Hm, kamu selalu dipastikan sudah tidur atau belum ya?" tanya Keyvan kemudian duduk di hadapan Khayla, pria itu menyeka keringat di kening sang istri begitu lembutnya.


"Biasanya Mbak Rani atau Mama, bukan Papa."


Sudah Keyvan duga mertuanya berbohong, raut wajah Zia ketika Mikhail bicara beberapa saat lalu dapat Keyvan baca dengan sempurna. Keyvan menarik sudut bibir jika dia ingat ulah sang mertua. kenapa bisa mereka sama menggemaskan seperti putrniya, pikir Keyvan.


"Kita belum selesai, kamu yang meminta ... tanggung jawab, Khay."


Mikhayla terperanjat kala Keyvan menyibak selimutnya secara paksa. Tubuh polos sang istri yang begitu indah membuat naffsu Keyvan yang sempat tertunda kembali menggila secepat itu.


"Kenapa dibuka lagi?" Mikhayla sedikit gugup kala Keyvan kembali melucuti pakaian dan sudah mengambil posisi di atasnya.


"Bukannya sudah selesai? Kapan tid_"


"Hhmmpp." Mikhayla menutup mulutnya dengan telapak tangan kala merasakan miliknya kembali dibuat sesak hanya dalam hitungan detik, dia mendongak dan menatap sang suami tengah terpejam di atasnya.


"Keberatan?" tanya Keyvan kemudian membuka matanya perlahan, dia menatap wajah bingung Mikhayla yang tampak tidak menduga serangan kedua kalinya.


"Tidak, bukan begitu ... tapi cuma kaget, aku masih lelah," keluh Mikhayla menarik napasnya dalam-dalam.


"Ya sudah, kita istirahat sebentar kalau memang belum sanggup," ucap Keyvan namun tetap bertahan dengan posisinya, Mikhayla mengerutkan dahi dan merasa bingung dengan ucapan Keyvan.


"Kenapa tetap begini? Ca-cabut lah!!" Malu sebenarnya, dia bingung sendiri jika sudah di posisi begini.


"Tidak akan, nyamannya begini ... sampai besok pagi begini juga siap kalau kamu izinkan," ucap Keyvan membuat Mikhayla merinding, tidak bisa dia bayangkan jika sampai besok pagi posisinya masih begini.


Sengaja Keyvan diamkan beberapa saat, menunggu respon Mikhayla yang ternyata gelisah bertahan dengan posisi itu. Mikhayla bergerak halus seakan menuntut Keyvan berbuat lebih, mudah sekali membuat wanita takluk dengan buaian bagi Keyvan.


"Good girl, cepat juga daya tangkapnya," puji Keyvan kemudian menggerakkan pinggulnya perlahan hingga membuat Mikhayla kembali meracau seraya mencari pelampiasan untuk dia jadikan sasaran jemarinya. Tidak ada kata selesai bagi Keyvan selagi dia belum tumbang, keduanya sama-sama terbakar api asmara. Tubuh Mikhayla berguncang seirama dengan hentakan Keyvan yang begitu memabukkan dan membuatnya berani menawarkan diri tanpa diminta malam ini.


- To Be Continue -


Salahin Mikhail ngapa ganggu di awal, jadi galiat permulaan ninu-ninunya mereka😌


Vote jangan lupa, Bestieā£ļø Tambahannya otw ntar lagi😘

__ADS_1


__ADS_2