Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 51 - Dendam Yang Sama


__ADS_3

"Maaf, Ma ... Aku sibuk akhir-akhir ini, kalian saja dulu aku akan datang sendiri besok pagi."


Mikhayla jelas-jelas mendengar percakapan sang suami dengan seseorang di seberang sana. Pagi ini tampaknya Keyvan sibuk sekali dengan beberapa telepon yang masuk, entah siapa Mikhayla juga tidak mengerti.


"Tidak usah, Ma, aku jarang pulang jadi tidak di rumah sekalipun Mama dan Papa datang."


Sama sekali tidak berniat mengganggu, meski jiwa penasarannya luar biasa Mikhayla tetap setenang itu dan tidak berpikir buruk tentang Keyvan yang kini nyata-nyata menyampaikan kebohongan.


Pria itu tampak menghela napas kasar usai mengakhiri panggilannya. Dia menatap Mikhayla yang kini tengah menunggu Keyvan memulai bicara, ya sejak tadi dia sabar sekali menanti sang suami mengatakan yang sesungguhnya.


"Mama, mereka mengajakku ke makam Liora."


Mikhayla mengerjap pelan, perasaan bersalahnya masih ada jika mendengar nama itu. Walau Keyvan mungkin menyayanginya saat ini, akan tetapi dari sorot tajam pria itu terlihat jelas kesedihan yang tidak bisa dia ungkapkan.


"Ikutlah, kenapa harus bohong seperti tadi?"


Keyvan sejenak menatap sang istri, sarapannya sejak tadi tidak pernah mulus. Selalu saja terganggu dan hal itu membuat Keyvan malas meneruskannya.


"Tidak nyaman, lebih baik sendiri saja, Khay ... atau kalau kamu ingin menemaniku tidak masalah," ujar Keyvan kemudian, berharap banyak istrinya bersedia ikut mengunjungi makam Liora kali ini.


Pasca perdebatan masalah harta kekayaan kala itu, Keyvan semakin merasa keluarga Liora tidak ada baiknya sama sekali. Sejak dahulu mereka tidak berubah, bahkan ketika Liora masih menjadi kekasihnya baik Henia maupun Arga sama gilanya.


"Jika boleh, aku ingin menemui keluarganya ... walau mungkin kata maaf tidak akan semudah itu aku dapatkan, setidaknya penyesalanku tidak terlalu dalam," tutur Mikhayla menatap nanar tanpa arah, sejak awal dia begitu simpati dengan keluarga Liora yang meregang nyawa akibat kecerobohannya.


"Liora adalah istriku, minta maaf cukup padaku ... Aku bahkan tidak yakin mereka bersedih dengan kejadian ini," ucap Keyvan yang membuat Mikhayla ingin menepuk bibir Keyvan.

__ADS_1


"Maksudnya istriku dulu, sekarang ya kamu," lanjut Keyvan membenarkan kalimatnya lantaran mata Mikhayla seakan hendak lepas dari kelopaknya usai mendengar ucapan Keyvan.


"Kenapa begitu? Apa hubungan mereka tidak baik-baik saja dulu?"


Mikhayla tidak membahas kalimat Keyvan yang sedikit menyebalkan sebelumnya. Melainkan dia justru tertarik dengan ucapan Keyvan tentang Liora dan orang tuanya.


"Bisa dibilang begitu, Liora putri satu-satunya ... tapi entah kenapa anggota keluarganya seakan tidak punya hati."


Keyvan masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana perlakuan Henia dan Arga pada mereka di hari pernikahan. Liora yang sudah begitu cantik dengan kebaya putihnya hampir ditinggal penghulu akibat menunggu kedatangan Henia dan Arga yang kala itu lebih memilih ke luar kota dengan alasan menghadiri pernikahan kerabat dekatnya.


"What? Ada orangtua begitu? Terus gimana?"


"Mau tidak mau pernikahan tetap dilakukan, kalau menunggu mereka mungkin sampai subuh tidak akan datang," jawab Keyvan terdengar santai namun emosi masih menjalar di sekujur tubuhnya.


"Kamu mau dengar yang lebih menyedihkan lagi?" Keyvan tidak pernah punya pikiran untuk bercerita panjang lebar kepada sang istri sebelumnya, dan kini dia ingin membuka tabir masa lalu tentang istrinya di masa lalu.


"Mau, jika boleh ... aku siap jadi pendengar yang baik," ucapnya meyakinkan padahal sebenarnya dia memang penasaran tentang kehidupan masa lalu mereka.


Tujuh tahun menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih, Keyvan sama sekali tidak pernah melihat orangtua Liora marah jika kekasihnya itu tidak pulang berbulan-bulan sekalipun.


Dalam keadaan hancur dan merasa tidak berguna, Keyvan akan selalu merengkuhnya dan menegaskan jika Liora tidak sendiri. Walau di beberapa keadaan Keyvan akan menelan kecewa lantaran kerap menjemput paksa sang kekasih di club malam dengan alasan menghilangkan penatnya.


"Woah, sering mabuk berarti?"


Mikhayla menyela pembicaraan Keyvan yang kini terdengar kian panas. Sama sekali Mikhayla tidak cemburu, hanya saja dia sedikit kaget kala mengetahui kisah mereka serumit itu.

__ADS_1


"Hm, Liora tidak bisa aku tinggal ... dulu aku harus pergi empat hari di luar kota, dan selama itu dia merusak dirinya dengan minuman haram itu."


Sama-sama membutuhkan, Keyvan kala itu mencintainya. Dia yang sekalinya cinta akan menetap, menerima semua yang Liora lakukan tanpa curiga sejauh apa dia berbuat.


"Istrinya pemabuk berarti ya?"


"Iya ... entahlah aku salah apa di kehidupan sebelumnya sampai Tuhan memberiku jodoh pemabuk semua," ucap Keyvan menarik sudut bibir dan menunggu reaksi Mikhayla.


Sebuah kalimat sarkas yang Keyvan utarakan berhasil membuat Mikhayla naik darah.


"Aku bukan pemabuk, itu diluar kendaliku dan lagipula yang memaksakan jodoh kan bukan Tuhan, tapi kamu sendiri."


Keyvan terbahak dan ucapan Mikhayla menggelitik batinnya. Sungguh, jawaban istrinya begitu pas menusuk lubuk jiwa dan takkan mungkin Keyvan tepis dengan kalimat lainnya.


"Aku tidak menganggapmu pemabuk ... cuma memang kalau kamu tidak mabuk malam itu mungkin belum jadi istriku," jawab Keyvan mengetukkan jemari ke atas meja, memandangi wajah cantik Mikhayla yang membuat Keyvan mabuk setiap detiknya.


"Oh iya? Harus berterima kasih pada Alka berarti, karena yang mencekokiku minuman malam itu adalah Alka."


"Tidak, aku tidak akan berterima kasih padanya ... melainkan membuatnya menderita karena dia dua wanitaku terluka bahkan meninggal dunia dalam tragedi itu." Perihal dendamnya, Keyvan sama sekali tidak lupa. Akan tetapi, bukan Mikhayla yang kini dia jadikan objeknya, melainkan Alka.



To Be Continue -


__ADS_1


__ADS_2