
Sementara di ruang tamu Justin memang sedang menunggu, dia berdecak lantaran Keyvan lama luar biasa di dalam kamar. Pria itu mulai curiga. Dan benar saja, Justin memutar bola matanya malas kala melihat Keyvan keluar kamar bersama Khayla dengan rambut yang terlihat masih basah.
"Wajar lama, mandi basah dulu ternyata."
"Bang Justin kenapa sih? Aku memang belum mandi dari pagi," celetuk Mikhayla tidak terima lantaran Justin menduga yang iya-iya.
"Apa yang salah, Khay? Kan benar kalau mandi ya basah, Mikhayla pikirannya pasti kemana-kemana." Padahal memang dia yang berpikir kejauhan sejak sahabatnya keluar dari kamar, dan kini bisa-bisanya dia cari masalah bersama istrinya.
"Hm dia menyebalkan, kenapa kamu ajak ke sini?" Mikhayla berbisik tapi Justin bisa mendengar ucapan wanita itu, sama sekali tidak tersinggung hanya dia merasa Khayla memang masih anak-anak.
"Sekalian ikut, setelah ini kami berdua harus pergi lagi ... Khay."
"Kemana?"
"Surabaya, hanya satu malam. Ada urusan sedikit, kamu mau pulang ke rumah Mama atau tetap di sini, Sayang?" tanya Keyvan kemudian, sebenarnya masalah ini sudah Keyvan bahas kemarin. Namun, sepertinya Mikhayla sedikit lupa.
"Di sini saja, aku capek kalau bolak balik ke rumah Mama," keluh Mikhayla yang memang tidak begitu suka terlalu banyak di perjalanan, apalagi jika Keyvan hanya pergi sebentar saja.
"Kamu mau yang mana?" tanya Keyvan sebelum memotong ayam bakar utuh yang Mikhayla inginkan sejak kemarin-kemarin.
"Dada," jawab Mikhayla santai dan memang tidak terjadi apa-apa, interaksi mereka terlihat manis di mata Justin hingga beberapa detik kemudian Justin menyesal tidak makan di restoran saja.
"Dadanya ayam, Sayang ... kenapa tangannya malah ke dadaku?" tanya Mikhayla menepis tangan Keyvan yang menyentuh dadanya padahal di hadapan mereka ada Justin yang duduk manis menunggu giliran.
"Ahahah lupa, maaf ya ... aku sudah lapar sepertinya."
"Menyebalkan sekali pasangan ini, bisa-bisanya sebebas itu di hadapanku. Aku ini dia anggap batu atau bagaimana?"
__ADS_1
Justin membatin, dan mendadak kenyang seketika. Duduk di sini persis benda mati yang menjadi saksi bisu kemesraan Keyvan bersama istrinya.
"Bang Justin ayo makan, nanti kurus loh," ucap Mikhayla mengambilkan nasi untuknya dan hal itu membuat Keyvan mendelik tak terima.
"Sayang? Kenapa harus kamu, aku kan bisa?"
"Ih masa kamu yang ambil, aku istri kamu loh ... istri mana yang rela suaminya melayani pria lain," ucap Mikhayla mendramatisir keadaan dan ini membuat Justin lemas rasanya.
"Terbalik, Mikhayla!! Dimana-mana suami mana yang rela istrinya melayani pria lain, begitu!!" jelas Keyvan membenarkan kalimatnya.
"Kalian berdua stop!! Aku akan ambil sendiri, jangan sampai rumah tangga kalian retak setelah makan siang ini." Pertama kali Justin sebal sendiri dengan kedua insan ini, entah siapa yang tidak dewasa hingga hal sekecil itu jadi masalah.
"Pikiranmu terlalu jauh, Justin!!" sentak Keyvan sedikit tidak suka dengan kalimat yang dia ungkapkan kali ini.
"Tidak baik bertengkar di depan makanan, menurut ustadz _"
"Kau non-muslim, Justin."
"Hanya mengingatkan, Evan." Justin berucap santai dengan wajah tenangnya. Tidak ada salahnya mengingatkan hal semacam itu, pikir Justin kemudian.
Faktanya, baru delapan jam berpisah dari Keyvan. Mikhayla mulai gusar dan berulang kali mencoba menghubungi sang suami. Sudah pasti pria itu sibuk di luaran sana, akan tetapi yang Mikhayla butuhkan hanyalah dia unuk saat ini.
"Mulai, kalau sudah pergi sok ngartis begini ... dia lagi apa sih?"
Mikhayla menggerutu, Rani yang tengah membersihkan ruang tamu hanya menatap heran posisi Mikhayla yang menurutnya luar biasa aneh itu. "Non, kenapa begitu?"
"Hah? Ini salah satu senam hamil, Mbak ... kepalanya harus dibawah memang," jawab Mikhayla seraya menggerakkan kakinya yang berada di sandaran sofa, duduk dengan posisi terbalik, tubuh di lantai sementara kakinya naik.
__ADS_1
"Konsep dari mana," gumam Rani berlalu pergi, memang biasanya Mikhayla kerap melakukan hal di luar dugaan dan menciptakan teori sendiri.
"Hitungan ketiga tidak diangkat juga berarti dia selingkuh!!" tegas Mikhayla menatap tajam layar ponselnya, hingga baru hitungan kedua dia sudah melihat dengan jelas betapa tampan suaminya di sana.
"Kapan pulang?" tanya Mikhayla tanpa menyapa lebih dulu, Keyvan tampak menepi dari keramaian demi menerima panggilan sang istri.
"Astaga, baru juga delapan jam, Khayla ... besok pagi ya, Sayang."
"Ih lama, bisa dipercepat tidak?"
"Tidak bisa, Khay ... tunggu ya," jelas Keyvan selembut itu, memang salah dia kenapa mengucapkan kepergiannya hanya sebentar jika nyatanya selama ini.
"Ck, urusan apa sih kesana? Kerja terus, bukannya sudah kaya?" Mikhayla berdecak sebal lantaran merasa kurangnya waktu bersama sang suami padahal sebenarnya tidak demikian.
"Hahaha ya harus, masa depan kita nanti bagaimana kalau aku tidak kerja, Mikhayla."
Keyvan terbahak, hingga beberapa orang di sampingnya menatap bingung. Istrinya terlalu konyol dan pertanyaan itu seharusnya tidak perlu ditanya lagi.
"Biarkan saja, memang begitu kalau sudah tentang istrinya," ujar Justin meminta pengertian pada pria di hadapannya agar memaklumi sikap Keyvan yang tidak bisa ditebak sama sekali.
"Bahagia sekali dia, andai istriku sudah kembali ... pasti sebahagia itu," ucapnya dengan harapan yang hampir patah tapi berusaha tetap dia pertahankan.
"Secepatnya, kami hanya berharap hal baik untukmu, Zayyan."
Di posisi yang sangat sulit, Justin berada di persimpangan. Satunya terlampau bahagia karena wanita sementara yang satu merana tiada habisnya. Padahal sudah Justin tegaskan untuk menjaga perasaan, akan tetapi sepertinya itu tidak mempan pada Keyvan karena buktinya saat ini dia bahkan mengecup layar ponsel di hadapan mereka berdua.
"Bye, istriku, manisku, bumilku ... jangan begitu lagi duduknya ya, nanti bayi kita naik ke lambung, Sayang."
__ADS_1
"Lihat, otaknya bahkan tidak lagi berfungsi dengan baik," gumam Justin menatap datar Keyvan yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.
- To Be Continue -