Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 36 - Bukan Istri Pura-Pura.


__ADS_3

Selesai makan siang, Keyvan segera menuju ruang kerja Mikhail. Entah apa yang akan dilakukan sang papa, Mikhayla yang kini tengah berada di kamar bersama yang mama tampak gelisah lantaran sudah hampir tiga puluh menit belum kembali juga.


"Kenapa kamu jadi sepanik itu? Khawatir ya? Tenang, Khayla ... Papa tidak akan selemah itu menghadapi Keyvan."


Bukan hanya itu yang Mikhayla khawatirkan. Tapi dia juga takut suaminya justru mendapatkan perlakuan buruk dari sang papa. Mengingat saat ini Keyvan datang baik-baik dan tanpa anak buahnya, jelas saja Mikhayla khawatir.


"Bu-bukan begitu, Ma. Khayla cuma takut keduanya sama-sama saling menyakiti."


"Tidak, Sayang. Tenang saja, mereka sepertinya bisa berteman. Papamu bilang dia pria yang unik ... apa benar begitu?"


Unik bagaimana? Mikhayla tampak berpikir sejenak. Suaminya tidak unik, hanya saja sulit ditebak dan terkadang sikapnya membingungkan. Secepat itu dia marah, begitupun sebaliknya.


"Orangnya susah ditebak, Ma ... begitulah. Mama paham posisiku, aku mengenalnya belum lama ini, jadi belum bisa benar-benar memastikan bagaimana sikapnya."


Zia hanya tersenyum mendengarnya, jika dia lihat putrinya kini tampak sangat baik-baik saja. Penampilannya terlihat segar bahkan jauh berbeda di saat dia menikah.


Meski sebenarnya dia masih sedikit tidak terima dengan cara Keyvan merampas kebebasan putrinya. Akan tetapi, setelah mendengar pernyataan Mikhail tentang sisi baik Keyvan setelah dia temui, Zia perlahan ikhlas dengan jalan hidup sang putri.


"Apa Evan pernah menyakiti kamu, Khay?"


Mikhayla menggeleng, dia kembali fokus memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ya, selain tekat untuk membuat sang suami bisa dekat dengan keluarganya, Mikhayla pulang untuk menggambil beberapa perlengkapannya.


"Dia sebenarnya baik ... walau sedikit pemaksa," lanjut Mikhayla terdiam sejenak, teringat bagaimana perlakuan Keyvan yang terkadang memaksa penuh kelembutan.


"Pemaksa? Pemaksa yang bagaimana, Sayang?"


Zia tampak penasaran kala Mikhayla berucap demikian. Di antara sikap laki-laki yang Zia ketahui, kenapa harus Mikhayla mendapatkan pria yang sama seperti Mikhail.


"Ya pemaksa, apa saja suka maksa ... sama seperti Papa."


Zia memerah, tanpa Mikhayla teruskan tampaknya dia paham arah pembicaraan sang putri. Ingin rasanya Zia turun tangan, akan tetapi memang sudah hak Keyvan.


"Selagi tidak menyakiti, turuti saja, Khay ... mau bagaimanapun, dia tetap menikahimu lebih dulu. Mama sangat menghargai itu," tutur Zia mengelur puncak kepala Mikhayla, seburuk apapun keadaannya Zia tetap bersyukur karena nasib sang putri setidaknya lebih baik dari dia di masa lalu.


"Ya, memang dinikahi ... tapi statusnya om Evan tetap duda secara negara."


Miris sebenarnya, Zia juga merasakan sakit tentang fakta ini. Putrinya dinikahi dengan cara tak biasa. Jangankan buku nikah, keluarga Keyvan saja belum mereka ketahui.

__ADS_1


"Nanti, tunggu saja ... Keyvan tidak akan tinggal diam jika dia sudah menganggapmu istri sungguhan," tutur Zia kemudian, fakta dengan anak manjanya yang kini sudah menjadi istri orang memang masih seperti mimpi. Akan tetapi, jika dia mengingat masa lalunya juga sama saja.


"Sekarang masih pura-pura ya, Ma?"


"Bukan begitu, tidak ada yang namanya istri pura-pura ... kamu istrinya, Khayla."


Zia turut memasukkan pakaian Mikhayla ke dalam kopernya. Meski batinnya merasa kehilangan, akan tetapi Zia sedikit menghangat kala mengetahui Keyvan mengiyakan permintaan Mikhail tentang masa depannya.


"Mama, aku boleh tanya sesuatu?"


"Hm? Apa, Sayang?"


Suara lembut Mikhayla yang terdengar ragu itu menyita perhatian Zia. Biasanya juga bertanya tanpa izin, lantas kenapa kali ini berbeda.


"Mama dulu pendarahannya berhari-hari atau hanya setelah melakukan itu ... eh gimana ya bilangnya, darahnya Mama pokoknya."


Dia yang penasaran sejak kemarin nekat bertanya dan berhasil membuat mata Zia membulat sempurna. Wanita itu menganga, dia yang tadi mulai merasa tenang tiba-tiba panik seketika.


"Kenapa kamu tanya begitu? Kamu kenapa, Khayla? Coba Mama lihat ... pasti kenapa-kenapa kan?!!"


"Mencurigakan, Keyvan ... Arrgghh memang menantu siallan, benari-beraninya dia!!"


Zia hendak beranjak, spontan Mikhayla menahan pergerakan sang mama dan menjerit seketika. Jika sampai Mikhail mengetahui hal ini bisa celaka, jelas saja Mikhayla khawatir pada sang suami.


"Mama apasih? Pernah muda juga kan? Hal semacam itu wajar saja, yang tidak masuk akal itu setelah berhubungan keluar permata atau bongkahan berlian."


Zia tidak habis pikir dengan jawaban yang Mikhayla lontarkan. Entah kenapa sang putri bisa menjawab demikian, bingung sendiri sewaktu hamil dia ngidam apa.


Tok tok tok


Ditengah keadaan gentingnya, pintu kini diketuk dari luar. Bisa dipastikan itu adalah Keyvan, karena jika Mikhail jelas akan masuk seenak dengkulnya.


"Mama please!! Jangan bahas hal ini pada siapapun, terutama Papa ... Om Keyvan sama sekali tidak berniat menyakitiku, percayalah." Mikhayla menatap lekat mata sang mama demi membuatnya percaya, hingga pada akhirnya Zia mengalah dan memilih keluar.


"Ya sudah, Mama maklumi untuk hal ini ... ck, anak itu kenapa juga harus datang sekarang," decak Zia sebal lantaran Keyvan mencuri waktunya bersama sang putri.


"Maafin Khayla ya, Ma."

__ADS_1


.


.


.


Brugh


Setelah sempat melewati mata tajam mama mertuanya di depan pintu kamar, pria itu kini menghempaskan tubuhnya di ranjang Mikhayla.


"Masih lama?" tanya Keyvan menoleh dan bertanya dengan mata sayunya.


"Sebentar, masih banyak yang belum masuk."


Mau sebanyak apa yang Mikhayla bawa ke rumahnya, sudah ada empat koper besar hingga Keyvan menggeleng dengan kelakuan istrinya.


"Kenapa sebanyak itu? Kamu bisa beli yang baru, bawa yang penting saja, Khay ... siapa tahu kita akan tidur di sini suatu saat nanti," tutur Keyvan yang mendapat respon luar biasa positif oleh Mikhayla.


"Beneran?!!" teriak Mikhayla dalam beberapa detik sudah berada di samping Keyvan seraya menopang dagunya.


"Hm," jawab Keyvan singkat, padat dan tidak jelas.


"Semauku?"


"Iya, asal bersamaku ... jangan pernah berpikir pulang sendiri," tutur Keyvan menjitak kening Mikhayla yang kini sebahagia itu diizinkan tidur di kamarnya.


Benar kata Papa, aku tidak hanya berhasil mengacaukan masa depanmu ... tapi juga merenggut kebahagiaanmu, Mikhayla. Liora, dendamku atas namamu keterlaluan ... izinkan aku bertanggung jawab atas gadis ini.


Keyvan membatin sembari menatap lekat mata berbinar Mikhayla. Dia bahkan tidak mendengar apa ucapan Mikhayla hingga kemudian memberikan kecupan singkat di pipi Keyvan.


"Hm? Tumben, kerasukan apa kamu mencium tanpa diminta?" tanya Keyvan sedikit khawatir dan bingung tentang istrinya kali ini.


"Biasanya kan begitu, apa salah?" Mengingat imbalan yang biasa Keyvan minta adalah sebuah kecupan, Mikhayla dengan inisiatifnya membayar secara mandiri dan membuat Keyvan menginginkan sesuatu yang lebih.


"Ulangi, tidak berasa."


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2