
Sasaran utama Keyvan adalah pengawal istrinya, entah kemana otak mereka hingga pria lain bisa masuk ke kamar utama. Lebih menyebalkan lagi, mereka saling melempar kesalahan dan mengatakan memang tidak menduga jika kedatangan Leon akan membuat Keyvan marah.
"Maaf, Tuan ... Tuan Leon mengatakan jika dia datang atas perintah Anda untuk mengambil barang mendiang Nona Liora, kami pikir sudah ata_"
PLAK
Belum selesai pria itu bicara, telapak tangan Keyvan mendarat dengan sempurna. Sebelumnya memang Leon memiliki hak yang sama seperti Liora, sebagai kakak yang baik Keyvan mempersilahkan Leon untuk melakukan apapun di rumahnya.
"Tutup mulutmu!! Kalian kubayar untuk menjaga istriku, bukan mematuhi perintah orang lain."
Memang sejak istri Keyvan masih Liora mereka sudah mengemban tugas yang sama. Akan tetapi, ketika Mikhayla masuk tugas mereka berganti untuk menjaga Mikhayla, sementara mereka yang tidak mengetahui jika hubungan Keyvan dengan Leon tidak sebaik dahulu, mempersilahkan Leon masuk begitu saja.
"Kau juga, Ratni!! Kenapa hanya diam jika megetahui Leon masuk ke kamarku!!"
Tidak hanya ketiga pengawal pribadi Mikhayla saja yang kena, Keyvan juga membuat Ratni terjebak rasa bersalah. Wanita itu hanya diam menunduk tanpa berani menatap Keyvan secara langsung. Satu hal yang sangat dia takutkan di dunia ini, kemarahan sang majikan dan kali ini tidak bisa dipungkiri Keyvan memang marah besar.
"Maaf, Tuan ... Leon juga mengatakan sudah mendapatkan izin, saya pikir semua baik-baik saja maka dari itu saya kembali ke belakang untuk membersihkan kolam renang," jawab Ratni gugup dan hal itu hanya membuat Keyvan semakin marah.
"Membersihkan kolam? Itu bukan tugasmu," ucap Keyvan menekan setiap kalimatnya, matanya menatap semua yang ada di sini dengan kemarahan tanpa sedikitpun kata maaf bisa mereka dapatkan.
"Kalian tahu apa dampak kecerobohan kalian? Istriku hampir celaka karena otak dungu kalian semua!! Leon bukan tuan rumah dan kalian tidak seharusnya patuh begitu saja."
__ADS_1
Keyvan benar-benar tidak kuasa menahan amarahnya. Telapak tangannya seakan belum puas meski sudah mendaratkan pukulan tepat di wajah keempat pria bertubuh tinggi dengan seragam hitam itu, selama ini Keyvan tidak pernah meluapkan amarah dengan cara yang begini.
"Maaf, Tuan ... kami kira niat Tuan Leon memang baik dan tidak bermaksud membuat nona muda celaka," ucap Erlan yang mungkin bosan dengan pukulan bertubi dari Keyvan.
"Kalian berbohong!! Mike, kau cukup pintar untuk memahami keadaan, apa mungkin tidak sadar jika yang datang akan membahayakan istriku."
Dengan amarah yang masih menjalar, Keyvan menarik kerah kemeja Mike. Orang kepercayaan Keyvan yang benar-benar dia andalkan mampu melindungi Mikhayla, istrinya.
"Sama sekali tidak, karena seingat saya Tuan Leon baik dan Anda sendiri yang mengatakan untuk memperlakukan dia sama seperti Anda. Lantas kenapa semuanya jadi salah kami?" tanya Mike tanpa sedikitpun rasa takut padahal sudut bibirnya sudah mengalirkan darah.
"Tapi saat ini berbeda, harusnya kau paham itu!!"
"Saya sangat menyesal atas kejadian ini, Tuan. Tapi memang Loen hanya naik sebentar setelah itu dia buru-buru pergi. Sama sekali tidak ada yang mencurigakan ketika dia pergi."
"Keluarlah."
Keyvan takkan bertanya lagi, karena yang dia dapati hanya pembelaan tanpa henti. Dia akan menyelesaikannya sendiri tanpa perlu bertanya banyak hal pada siapapun.
.
.
__ADS_1
.
Meski belum menemukan titik terang sesungguhnya, Keyvan kembali ke kamar lebih dulu. Istrinya tentu kedinginan di kamar mandi saat ini.
"It's okay ... nanti hilang sendiri, berhenti menangis," tutur Keyvan halus dan menggenggam jemari Mikhayla yang masih berusaha menggosok tanda kemerahan di dadanya dengan begitu kasar, tangisnya memang perlahan mereda akan tetapi masih begitu nyata dan jiwa Keyvan terguncang rasanya.
"Kapan? Ini menjijikkan, aku tidak suka."
"Kamu sudah mandi, tadi juga sudah kita bersihkan ... jangan dilihat." Keyvan lanjut mengeringkan rambutnya, jujur saja dia sakit saat ini. Hanya saja, jika dia memperlihatkan bahwa dia juga tidak suka, bisa dipastikan istrinya semakin merasakan sakit juga.
Kamar berantakan, hingga semua bantal dan guling tidak lagi beraturan. Keyvan merapikan semua itu lebih dulu, dia yang mengingat jika Leon mungkin saja naik ke tempat tidurnya segera mengganti sprei dan sama sekali tidak berniat untuk menyimpan benda itu lagi.
Mikhayla duduk termangu di sofa, menatap semua yang suaminya lakukan dengan keringat yang kini membasahi kening dan wajahnya. Bukan hanya lelah, melainkan juga amarah tergambar jelas di sana.
"Tidur ya, kamu kedinginan."
Mikhayla hanya mengangguk kala Keyvan menghampiri. Lututnya masih terasa lemas dan kini hanya mampu memeluk sang suami sebagai sandaran.
"Maaf, aku tidak bisa menjaga diri."
"Bukan salahmu, tapi salahku terlalu percaya jika orang lain akan menganggapmu berharga juga." Keyvan memeluknya begitu erat, meski dia marah tidak mungkin dia luapkan pada Mikhayla.
__ADS_1
- To Be Continue -