
Duhai senangnya pengantin baru ... Duduk bersanding
"Diam!!"
Teriakan Justin cukup membuat beberapa orang di lobby terkejut pagi ini. Suara Keny sontak mengecil tapi lagunya tetap dia teruskan, Keyvan yang baru datang hanya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan dengan kelakuan dua sahabatnya itu.
Bersenda gu_
"Keny!! Kau ingin dikremasi hidup-hidup atau bagaimana?"
Kesal sekali rasanya, Justin sudah mengingatkan untuk diam dan kini justru dia ulangi. Ketiganya berjalan beriringan, meski di kantor jabatan Keyvan harusnya disegani hal itu tidak berlaku untuk kedua pria itu karena bagi mereka semua manusia sama di mata Tuhan.
Gurauuuu
"Keny!!"
"Astaga sensitif sekali, kau kenapa rupanya?"
"Tagihan rumah sakit istrimu membengkak mungkin," jawab Keyvan santai dan hal itu hanya Justin balas dengan senyuman, fakta dan memang nyata hal itu yang membuat jiwa Justin ingin terbelah dua.
"Ah iya, nanti kalau kau punya istri aku yang tanggung jawab soal biaya lahirannya, Justin ... tenang saja," ungkap Keny yakin sekali, hal semacam itu sangat mustahil karena dia paham seorang Justin tidak mungkin mau menikah ketiga kalinya.
Justin hanya diam dan memilih berlalu lebih dulu dari mereka kala lift terbuka, sepertinya memang hidup Justin tertekan karena Keny. Sementara Keyvan yang baru saja melewati hari bahagianya tampak baik-baik saja dengan tingkah Keny yang pagi ini, sekalipun diledek pengantin baru tidak mengapa, toh memang pengantin baru.
"Oh iya, Van ... Dapat salam dari Sonya, terima kasih katanya."
Keyvan mengangguk, hal itu sama sekali tidak membuatnya keberatan. Lagipula menolong siapapun adalah kewajiban, pikir Keyvan kembali fokus dan kini hendak menuju ke ruangannya.
"Ken, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Keyvan mengurungkan niatnya.
"Apa memangnya?"
"Istri hamil biasanya berulah mulai trimester berapa?" tanya Keyvan aneh sekali, Keny yang baru saja hendak berlalu mendadak menghentikan langkah.
"Kenapa kau bertanya? Liora dulu bagaimana memangnya?"
__ADS_1
"Liora tidak berulah, Ken ... jangan bahas dia lah," ucap Keyvan benar-benar tidak suka dengan pertanyaan balik Keny, sewaktu Liora memang tidak ada perubahan sama sekali yang Keyvan rasakan. Jelas saja ketika Mikhayla kini hamil, dia patut bertanya karena biasanya ikatan batin antara janin dan orang tuanya begitu erat.
"Hm tergantung, kalau Sonya dari kehamilannya empat minggu mulai terlihat, apalagi kalau semakin besar ... manjanya luar biasa, tidak bisa dibentak dan juga banyak mau, Van."
Keyvan mengangguk pelan, dia khawatir jika Mikhayla akan melebihi wanita hamil yang kerap digambarkan beberapa orang di luar sana. Bagaimana tidak, belum hamil saja Mikhayla setengil itu. Dia hanya wanti-wanti saja agar tidak terkejut dengan perubahan sang istri suatu saat nanti.
"Istrimu hamil?"
"Hm, hamil."
Keny mengerjap pelan, wajar saja kemarin-kemarin dia sedikit aneh bahkan seakan bukan Keyvan sama sekali. Pria itu terkekeh kemudian mengulurkan tangannya, tentu saja memberikan ucapan selamat walau sedikit terlambat.
"Wuih, selamat benihmu berkualitas ternyata. Berapa kali percobaan, Van?" tanya Keny tertarik, jika sudah membahas hal ini bisa dipastikan akan lama dan Keyvan juga menurut begitu saja kala Keny menariknya ke tempat yang lebih sepi.
"Berkali-kali, segala posisi dan banyak tempat."
Jawabannya tepat sekali, tanpa keraguan dan hal itu sukses membuat Keny bertepuk tangan. Sudah dia katakan pada Justin masalah ini, Keyvan tidak perlu diajari karena dia lebih pandai dari mereka.
Gelak tawa sontak terdengar, tanpa peduli dengan Justin yang saat ini mungkin sedang pusing luar biasa keduanya mulai membahas perihal buah hati, berbagi pengalaman sebagai seorang Papa. "Aku mencintai Sonya karena kecantikannya, tapi setelah dia mengandung anakku aku bahkan tidak rela dia terluka sedikitpun, Van. Apalagi setelah kelahiran putri kami, duniaku seakan milik Sonya dan Giska semua. Apalagi kau, mungkin akan lebih mencintai istrimu nanti."
"Iya, namanya Giska Anamary."
"Tua sekali, siapa yang carikan namanya?"
Di saat orang lain akan memuji nama anak sahabatnya, Keyvan justru berbeda. Apa yang dia pikirkan terucap begitu saja, Keny berdecak sebal lantaran Keyvan berucap enteng tanpa khawatir dia marah.
"Tua apanya, Gilaa?!! Giska Anamary ... Imut begitu," sebal Keny menyesal sekali bercerita pagi ini, suasana hatinya rusak sekali.
"Yang imut hanya Mikhayla Qianzy, lagipula Giska itu nama mantanmu ketika SMA, astaga!! Untuk apa dijadikan nama anak, Keny?" sentak Keyvan hingga membuat karyawan yang lewat di sana terkejut dan menunduk cepat.
"Shuutt!! Diam, Evan. Istriku tahu masalah ini bagaimana? Ini sumpahku pada Giska waktu itu, kalau sampai tidak aku laksanakan khawatir kena kutukan."
Keyvan menghela napas kasar, baik Keny maupun Justin sama saja. Seakan tidak usai dengan sumpah dan hal ini benar-benar menyebalkan baginya. "Sudah masuk sana, persiapkan rapat jam 10." Keyvan berlalu pergi tanpa peduli perihal Giska Anamary.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di kampus, Mikhayla kini tampak bingung menjelaskan sesuatu. Nilai yang dia dapat dari tugas minggu kemarin membuat Prof. Harun kian bangga, akan tetapi wanita itu tiba-tiba ditunjuk untuk menyampaikan materi dari soal-soal itu di hari ini.
Aduh, mana aku tahu!! Yang jawab semuanya bang Evan, ck kenapa juga jawabnya pakai benar semua begini, kan aku susah sendiri.
Mikhayla bingung sendiri, dia sama sekali tidak mengetahui apa yang Keyvan tulis sebenarnya. Dia pikir hanya tugas-tugas biasa dan akan usai di penilaian, itu saja.
"Mikhayla, silahkan."
Baiklah, seadanya sebisanya dan terserah mau bagaimana. Mikhayla menjelaskan dengan santai walau sebenarnya ngasal hingga membuat pria bernama Harun itu menggeleng pelan dan yakin dengan opininya.
"Stop, Mikhayla ... jawabanmu kemana-kemana, yang kita bahas anatomi manusia bukan amfibi," tegur pria itu lantaran penjelasan Mikhayla jauh sekali, sudah dipastikan jika yang mengerjakan soal kemarin bukan dirinya, pikir pria itu.
"Oh salah ya, Prof?"
Dia masih bertanya dan hal itu sukses membuat teman sekelasnya tertawa, bukan mengejek kebodohan Mikhayla tapi ini terlihat lucu di mata mereka. Mereka yang paham kehidupan Mikhayla sudah terbagi dan tidak fokus dengan pelajaran lagi hanya memaklumi sikap temannya itu.
"Siapa yang mengerjakan tugasmu kemarin?"
"Suami saya, Prof." Sudah tertangkap basah dan dia tidak ingin semakin dianggap salah, jujur lebih baik dan hal itu hanya membuat Harun memijat pangkal hidungnya.
"Ya sudah, duduk sana ... lain kali jangan begini, Khayla."
Dosen yang dikenal killer satu fakultas tiba-tiba jadi sebaik itu jelas saja membuat Mikhayla dan teman-temannya bingung sendiri. Mikhayla yang tadinya khawatir mendapat nilai C kini justru penasaran kenapa tiba-tiba pria itu baik sekali padahal sudah jelas ini kesalahan fatal.
"Mungkin keberuntungan baby K ya, pengertian sekali Mamanya tidak siap di skors, jadi pengen kasih hadiah sama Papanya."
Mikhayla tersenyum simpul kemudian duduk seraya membayangkan wajah tampan Keyvan. Keduanya sudah berpisah beberapa jam tanpa berkomunikasi sama sekali, dan jujur saja dia merindukan pria itu saat ini.
- To Be Continue -
Hai sayang, maaf ya baru up sekarangš
__ADS_1