Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 90 - Bukan Anak Kecil


__ADS_3

Meski pada akhirnya mereka tidak makan di satu meja, Justin dan Keyvan mendatangi restoran yang sama hingga kini mereka duduk berdekatan dan hanya berjarak beberapa meter saja. Mikhayla yang belum terbiasa dengan kehadiran teman-teman Keyvan meminta sang suami untuk bergeser sedikit karena dia merasa Justin dan Keny tengah menjadikannya topik pembicaraan.


"Kenapa?"


"Mereka lihat ke sini terus, aku makannya tidak berantakan, 'kan?"


"Tidak, berantakan dari mana?"


Keyvan yang merasa tidak suka istrinya terusik segera menoleh dan melemparkan sumpit ke arah mereka hingga masuk ke minuman Justin, cara jitu membuat Justin dan Keny berhenti karena dia memang yakin tengah membahas Mikhayla.


"Ays!! Evan!! Giila ya? Baru kuminum dua kali," gerutu Justin sebal luar biasa, sementara Keny yang justru jadi biangnya hanya terbahak begitu melihat wajah pasrah Justin.


"Kalian menganggu ketenangan istriku, kenapa juga harus makan di tempat yang sama?"


Sejak tadi mereka mengagumi Mikhayla karena mampu membuat seorang Keyvan tidak banyak ulah. Sayangnya, wanita itu salah sangka dan mengadu hingga terjadi hal semacam ini.


"Astaga, Keny yang memulai ... dia bilang istrimu lucu, itu saja."


"Apapun itu, terserah dan berhenti menatap ke arah istriku!!" sentak Keyvan yang membuat Justin dan Keny mengalah hingga mereka bertukar posisi dengan Bastian.


Di tempat itu tidak hanya mereka saja, jelas hal itu mengundang perhatian. Mikhayla menarik tangan sang suami agar dia berhenti bersikap demikian, sungguh sama sekali Mikhayla tidak berniat membuat Justin diamuk Keyvan, dia hanya ingin suaminya bergeser sedikit, itu saja.


"Sudah-sudah, bukan begitu juga maksudnya ... geser dikit saja, aku malu ditatap begitu," tutur Mikhayla pelan dengan wajah penuh penyesalan, andai saja dia diam mungkin Justin tidak perlu membeli minuman yang baru.


"Biarkan saja, mereka berdua kebiasaan membicatakan hal yang tidak-tidak," ungkap Keyvan meneruskan makan siangnya. Pertama kali makan di luar bersama Mikhayla, itupun di luar rencana.


Mikhayla tersenyum simpul, pria itu berhasil membuatnya merasa istimewa setiap saat. Naffsu makan Mikhayla yang memang tidak sebesar itu membuatnya tidak mampu menghabisi satu porsi makanan yang dia pesan, terpaksa Keyvan yang menghabisinya demi membuat istrinya tidak merasa bersalah.


"Kamu mau pulang setelah ini?" tanya Keyvan kemudian, Mikhayla yang merasa ragu tidak segera menjawab dan memilih diam untuk beberapa saat.

__ADS_1


Dia masih ingin berada di sisi Keyvan, rasa kagumnya dengan gedung perusahaan belum usai dan Mikhayla ingin masuk ke dalamnya untuk beberapa saat saja. "Belum," jawabnya ragu karena khawatir Keyvan sebenarnya menginginkan dia pulang segera.


"Syukurlah, aku harus rapat setelah ini ... kamu tunggu di ruanganku saja kalau begitu."


Mata Mikhayla berbinar kini, pria itu memberikan lampu hijau padanya. Jelas saja Mikhayla tidak akan menolak, lagipula di rumah kepalanya sedikit pusing juga. Hendak pulang ke tempat tinggal mereka, Mikhail belum memberikan izin dengan alasan tidak enak kepada keluarga Syakil dan lainnya.


Selesai makan siang, Keyvan bersama Mikhayla memasuki gedung mewah di pusat kota itu dengan langkah penuh wibawa. Meski sejak awal mereka masuk tatapan penuh tanya kembali Mikhayla dapatkan, sama sekali dia tidak menggubris hal itu. Diikuti Justin dan Keny di belakangnya, tanpa perlu dijelaskan orang-orang di sana bisa menerka siapa Mikhayla.


"Kalian berdua mau apa? Masuk ke ruangan masing-masing, kenapa malah ikut ke sini?"


"Oh iya, kenapa kita ke sini?" Keny menepuk jidatnya sendiri, bingung juga kenapa tiba-tiba dia mendalami peran jadi pengawal mereka berdua.


Terlalu diam dan tidak banyak bicara sejak tadi lantaran khawatir Keyvan marah, kini mereka berdua tersadar jika tidak seharusnya ikut masuk ke ruangan Keyvan. Wibowo yang berada di depan ruangannya hanya bisa menggeleng begitu dua pria itu seperti kehilangan akal sehatnya.


"Duduk sini," titah Keyvan meminta istrinya duduk ke pangakuannya, pria itu tersenyum senang lantaran ini adalah kali pertama dia ditemani istri kecilnya, entah akan membantu atau justru sebaliknya.


Mikhayla menatap sekeliling ruangan kerja Keyvan, tidak jauh berbeda seperti milik papanya. Hanya saja, karena Keyvan lebih muda jelas saja seleranya sedikit lebih modern dan masuk dengan mata Mikhayla.


"Nanti, tiga puluh menit lagi."


Keyvan menjawab santai, pria itu tengah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena dia tidak ingin Mikhayla merasa menyesal datang ke tempat kerjanya.


"Hari ini bagaimana? Apa teman-temanmu masih banyak tanya?" tanya Keyvan sedikit penasaran kehidupan Mikhayla di sana, sejak kemarin dia tidak sempat bertanya karena percaya Mikhayla baik-baik saja.


"Tidak, mereka baik akhir-akhir ini," jawab Mikhayla seadanya, memang teman-temannya tidak begitu banyak ulah dan bicara seperlunya saja sejak dia mengunggah foto berserta pengumuman terkait pernikahannya itu.


"Alka bagaimana? Apa masih menganggu?"


"Tidak juga, mendekatiku saja tidak ... mungkin dia menyerah," ungkap Mikhayla yang kemudian membuat Keyvan tersenyum penuh kemenangan, pada akhirnya dia bocah itu mengalah juga, pikir Keyvan.

__ADS_1


"Baguslah, aku khawatir sekali anak kecil itu masih mengusikmu," ungkap Keyvan tanpa ditutup-tutupi jika dirinya memang khawatir dengan keberadaan Alka.


"Dia seumuran denganku, anak kecil dari mana?"


"Tapi kamu memang masih termasuk anak kecil, Sayang."


"Tidak termasuk lagi dong, anak kecil mana yang bisa diajak buat bayi hayo?" Pertanyaan spontan yang berhasil membuat Keyvan terdiam seribu bahasa, sungguh jika debat bersama Mikhayla dia akan selalu kalah.


.


.


.


Semua tetap berjalan sebagaimana mestinya, rapat yang memang terencana itu tetap mereka lakukan walaupun hanya berlangsung begitu singkat. Jelas saja itu karena kehadiran sang istri, beberapa dari mereka lega karena Keyvan tidak banyak tanya seperti biasa. Akan tetapi, bagi Justin dan Keny ini adalah sedikit masalah karena rapat hari ini tidak ada adegan Keyvan marah-marah.


"Tumben tidak pakai urat, padahal kesalahan mereka lumayan fatal."


Keny mengungkapkan keresahannya pada Justin kala Keyvan sudah jauh berlalu. Pria itu menggeleng pelan dan merasa hadirnya Mikhayla memang merubah Keyvan secara tidak sengaja.


"Buru-buru karena sudah ditunggu istri, sewaktu bersama Liora dulu tidak begini," ujar Justin menghela napas kasar, entah apa yang tidak Keyvan dapatkan dari Liora hingga dia begitu takluk dengan istri barunya.


"Mungkin lebih legit, mana tahu kita ... cuma Evan yang bisa merasakannya," celetuk Keny hingga Justin mendaratkan telapak tangannya tepat di bibir pria itu, sungguh dia khawatir sekali ucapan pria itu akan sampai ke telinga Keyvan.


"Jaga bicaramu, kau lupa dia paling tidak suka jika istrinya dibahas-bahas?" Justin hanya mengingatkan, jangan sampai kepala Keny jadi korbannya nanti.


"Astaga, itu pujian ... kenyataannya daun muda memang legit, kau saja yang tidak tahu."


"Terserah!! Pembicaraanmu hanya menyeretku ke jurang masalah, aku tidak mau jadi sasaran Evan lagi." Trauma, dia benar-benar terkejut dengan tindakan Keyvan di restoran beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Padahal dia yang bahas istri Evan lebih dulu," gumam Keny berdecak kesal lantaran pria itu tidak berkaca dan membuat dirinya di posisi salah, padahal ya memang salah.


- To Be Continue -


__ADS_2