Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 115 - Bukan Istri Biasa


__ADS_3

Memasuki studio, perasaan Keyvan mulai was-was. Dia ingin kembali bertanya dan memastikan akan tetapi memilih diam lantaran Mikhayla terus mengajaknya bicara dan memperlihatkan jika dia sebahagia itu bisa menonton berdua bersama sang suami.


"Sayang, ini kita film romantis, 'kan?"


"Iya, sabar ya ... minum dulu, nanti haus," ucapnya mengingatkan siapa tahu Keyvan lupa.


Romantis kalau kata Khayla, tapi filmnya belum dimulai saja suasana sudah sesuram itu bahkan Keyvan meneguk salivanya. Hingga, adegan pertama dimulai dan Keyvan dibuat menjerit sejadi-jadinya. "Aarrgghh Mikhayla!!" pekik Keyvan sontak menenggelamkan wajah di dada sang istri karena memang jantungnya dibuat seakan hendak berpindah dari tempatnya.


"Khay, jangan bercanda, Sayang!! Kenapa filmya seperti ini."


Bukan pria penakut, tapi jika sudah dikemas dalam sebuah karya bergenre horor jelas saja naluri Keyvan menjerit tak karuan. Dadanya kembang kempis, benar-benar dibuat seakan gila dengan pembukaan film siallan itu.


"Ini komedi romantis, awalnya memang bikin kaget tapi nanti tidak lagi tenang saja."


Seyakin itu dia bicara, Keyvan perlahan melihat ke depan. Namun, memang sama sekali dia tidak melepaskan Mikhayla, pria itu semakin dekat bahkan posisinya ssma sekali tidak seperti seharusnya.


"Khay, kita pulang saja, Sayang ... ganti yang lain, kita nonton yang lain saja."


Film yang Mikhayla pilih baru setengah jalan, namun jeritan Keyvan sudah berapa kali mengagetkan penonton yang lainnya. Sama sekali Mikhayla tidak malu, hal inilah yang dia inginkan. Jeritan Keyvan terdengar lucu baginya, pria itu bahkan tidak pernah meninggikan suaranya walau marah, dan kali ini Mikhayla puas sekali mendengar jeritan Keyvan.


Faktanya memang benar, sepanjang film itu berjalan Keyvan menempel layaknya prangko. Wajahnya pucat, dan kini dia keluar kakinya seakan lemas. Dia menatap kesal sang istri yang tengah terbahak melihat penderitaannya, mungkin bagi Mikhayla hiburan tapi bagi pria itu tidak lucu sama sekali.


"Puas sekali tertawamu," gerutu Keyvan ketika keduanya kini duduk di sebuah restoran cepat saji, suasana hatinya benar-benar kacau dan Keyvan berusaha menenangkan dirinya sesaat.

__ADS_1


"Penakut ternyata," ujar Mikhayla menyeka keringat Keyvan, melihatnya pucat begini kasihan. Akan tetapi, dia puas sekali hari ini.


"Menyebalkan sekali, kalau saja bukan istri sudah patah pinggangmu, Khay." Keyvan menikmati cola demi membuat batinnya tenang sedikit, dia benar-benar emosi senenarnya. Hanya saja kasih sayang Keyvan lebih besar hingga hendak marah sekecil apapun dia tidak bisa.


"Setelah ini kita ke tempat lain ya, ada banyak hal yang belum kita rasakan berdua."


Meski suasana hatinya masih buruk akibat film horor tadi, dia tidak merusak hati Mikhayla. Dia tetap menerima meski jujur saja ingin sekali menciumnya hingga pingsan sekali saja.


.


.


.


Wanita itu tertawa lepas, belum pernah Keyvan lihat dia sebebas ini. Kesibukannya membuat Keyvan lupa jika Mikhayla saja merindukan kebebasannya. Istrinya masih muda, jelas saja begitu butuh hiburan semacam ini, sungguh Keyvan terlalu egois dan melupakan jika Khayla butuh kebahagiaan di luar juga.


"Kamu bahagia?"


"Sangat-sangat bahagia, nanti kita begini lagi ya," pintanya kemudian, setelah merayu Keyvan semalaman baru dia diperbolehkan untuk datang ke tempat ini.


"Hm, akan aku usahakan."


Keyvan menatapnya lembut, baginya Mikhayla adalah harta paling berharga saat ini. Apapun, akan dia berikan selagi Keyvan mampu.

__ADS_1


Cukup lama mereka menghabiskan waktu, hingga kini keduanya berada di sebuah wahana permainan yang tidak disarankan untuk seseorang yang memiliki riwayat jantung. Keyvan sudah wanti-wanti kala sang istri mendongak seolah meminta izin dengan sorot matanya. "No, Khayla ... kamu sedang hamil, Sayang. Tidak boleh," ungkap Keyvan yang kemudian membuat Mikhayla mencebik seketika.


"Kalau begitu kamu, aku tunggu dibawah," ungkapnya seenak hati dan membuat Keyvan kembali menatapnya datar.


"Aku?"


"Iya, permintaan dia nih ... marah ke dia saja, aku hanya menyampaikan keinginannya," ungkap Mikhayla dan hal itu hanya bisa Keyvan hadapi dengan napas pelan.


"Tidak bisa yang lain saja?"


"Tidak, harus itu," ujar Mikhayla menunjuk wahana permainan yang bisa dipastikan akan kembali menguncang jantung Keyvan, meski dia dahulu bahkan kerap loncat dari jembatan untuk kemudian melarikan diri lewat air, akan tetapi akan berbeda dan mental Keyvan tidak akan sekuat dahulu.


"Kenapa? Takut?"


"Tidak, jika hanya yang begini kecil!! Tunggu ya, Sayang ... Papa akan lakukan kemauanmu yang sepertinya agak sedikit menyiksa ini," ucap Keyvan pamit pada bayi yang kini berada dalam perut sang istri.


Keyvan percaya diri sekali, namun ketika dia melihat seorang pemuda yang kini pingsan usai menaklukan wahana itu dia mengusap wajahnya kasar seraya menoleh ke arah Mikhayla. "Sayang semangat, gih sana."


"Sayang ak_"


"Sudah janji loh ya, dia ngeces bagaimana? Kan kasihan."


Ya, Tuhan wanita ini ... dia masih dendam perihal yang waktu itu atau bagaimana? Benar-benar penyiksaan, dia dulu dibuat dimana sampai bisa sekejam ini.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2