Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 123 - Pantang Ditantang.


__ADS_3

Keyvan adalah pria yang paling menepati setiap ucapannya. Terbukti tadi malam, Mikhayla bahkan cemberut sepanjang hari lantaran Keyvan benar-benar membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Lingkar hitam di matanya kian terlihat, dan menjelang siang dia masih berjibaku di atas tempat tidur.


"Sayang, katanya kalau lagi hamil itu tidak boleh tidur jam segini."


Mikhayla tetap pura-pura terpejam, sebenarnya sudah terbangun sejak pagi. Hanya saja dia yang malas dan sebal pada sang suami memilih untuk diam dan enggan menjawab ucapan pria itu.


"Khayla, jangan pura-pura ... ayo makan, Sayang. Aku bawakan ayam bakar kesukaan kamu," ungkap Keyvan mecoba membujuknya, pria itu bahkan rela mencari ayam bakar utuh lebih dulu sepanjang jalan perjalanan pulang demi membuat hati Mikhayla luluh sejenak.


Sudah dirayu belum ada jawaban, pria itu menghampiri sang istri dan duduk di tepian ranjang. Dia mengecup lembut wajah sang istri meski tengah terpejam itu, Mikhayla jika sudah marah tampaknya sulit sekali ditaklukan.


"Ayamnya nanti dingin, tuan putri," bisiknya masih berusaha dan yakin betul istrinya sama sekali tidak tidur.


"Masih marah ya? Kamu sendiri yang bilang kalau marah terus nanti cepat tu_"


"Ck, diam!!"


Sedikit membentak namun sama sekali tidak membuat Keyvan takut, di matanya hal semacam ini terlihat lucu. Semakin dia marah, maka semakin Keyvan suka. Bahkan jika perlu marah dengan cara yang tidak biasa dia juga relakan.


"Benar tidak mau?"


"Hm," jawabnya singkat, padat dan sama sekali tidak jelas.


"Ya sudah kalau tidak mau, kebetulan Justin di luar dan dia belum makan," ungkap Keyvan dan hal itu sontak membuat Mikhayla mendongak dan melayangkan tatapan mautnya.

__ADS_1


"Mana ayamnya."


Keyvan terkekeh, baru juga diancam begitu Mikhayla sudah mengeluarkan tanduknya. Masih dengan penampilan kacau seperti pagi tadi, dan Keyvan sama sekali tidak masalah walau dia belum mandi. Akan tetapi, yang Keyvan pikirnya itu justru Mikhayla sendiri.


"Mandi dulu sana, bisa-bisanya betah sampai siang hari begini." Keyvan menggeleng pelan dan merapikan rambut Khayla yang kini acak-acakan, sama sekali tidak ada keanggunannya wanita ini.


"Iya, tolong ambilkan handuk ... aku tidak pakai apa-apa sekarang," pinta Mikhayla santai sekali, lagipula mana mungkin Keyvan menginginkan tubuhnya jika keadaan dia yang seperti ini.


"Sebentar ya, tunggu di sini."


Baiklah, hari ini tampaknya sang suami berhati malaikat dan dia tidak mengusik ketenangan Mikhayla. Mungkin sudah puas tadi malam hingga dia berpikir ribuan kali jika hendak membuat Mikhayla lelah siang ini.


Dari tempat tidur Mikhayla menatap ke arah sang suami yang kini melangkah ke arahnya. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya kagum luar biasa pada pria itu hingga dia menyentuh perutnya lembut seraya bergumam dalam hati, "Perhatikan baik-baik papamu, kalau lahir tolong mirip dia ya, Sayang."


"Ini, aku tunggu ... mandinya jangan lama-lama, Justin kasihan di luar."


Keyvan ternyata serius, memang ada Justin di sini. Mikhayla sontak mengkhawatirkan ayam bakar yang Keyvan maksud sebagai oleh-oleh untuknya. "Terus ayamku?"


"Cepat makanya," titah Keyvan hingga Mikhayla bergerak cepat bahkan lompat dari tempat tidur dan membuat Keyvan seakan kehilangan separuh darahnya.


"Mikhayla!!"


"Cuma sedikit, tidak sakit perutnya kok," ucapnya membela diri namun Keyvan mendelik setajam itu, entah karena bahagia dia bawakan ayam bakat atau kenapa sampai lompat dari tempat tidur dengan cara yang begitu.

__ADS_1


"Tidak sakit? Kamu tahu yang seperti tadi bahaya? Jangan hiperaktif, Sayang ... kamu lagi hamil." Keyvan dibuat pusing dengan wanita yang sepertinya masih menjalani masa pertumbuhan ini. Pengaruh hormon membuatnya berubah secepat itu, dan cara dia mengekspresikan bahagia juga kerap terlalu begini.


"Hello ... kamu tadi malam juga hiperaktif, eh hiperseks maksudnya."


Semenjak hamil Mikhayla menyebalkan sekali, dia bicara sesantai itu sembari menjulurkan lidah dan membuat Keyvan ingin sekali menarik lidahnya. Keyvan hanya menatapnya datar sembari menunggu respon Khayla kedepannya. "Apa hayo? Kamu tu lebih parah ... seharus_"


"Itu kebutuhan, lagipula tidak setiap menit aku minta, 'kan?" tanya Keyvan sengaja memotong pembicaraan sang istri karena terlampau gemas dengan bibirnya yang tidak berhenti bergerak sejak tadi.


"Tetap saja, itu hiper namanya."


"Kebutuhan, Khayla." Keyvan tidak mau kalah karena sama sekali dia tidak merasa seperti yang dituduhkan wanita itu.


"Menolak fakta, padahal memang iya," gumam wanita itu sembari berlalu begitu saja meninggalkan Keyvan, dia tidak mengalah dan suaminya juga sama.


.


.


.


- To Be Continue -


Hai pemirsa, aku mau rekomendasiin novel buat bahan bacaan hari inih, mampir yah😚

__ADS_1



__ADS_2